Bahasa Daerah sebagai Bahasa Pengantar Pendidikan

Bahasa daerah adalah bahasa yang dituturkan di suatu wilayah dalam sebuah negara kebangsaan pada suatu daerah kecil, negara bagian federal, provinsi, atau daerah yang lebih luas. Indonesia kaya akan beragam bahasa daerah. Meskipun bahasa Indonesia dipahami dan dituturkan lebih dari 90 persen warga Indonesia, bahasa Indonesia ternyata bukan bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Mayoritas warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu.

Yang terjadi, penutur bahasa Indonesia kerap kali mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu. Ada pun, menurut jumlah penuturnya, 10 bahasa daerah yang terbanyak digunakan di Indonesia adalah: bahasa Jawa, bahasa Melayu-Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Madura, bahasa Batak, bahasa Minangkabau, bahasa Bugis, bahasa Aceh, bahasa Bali, dan bahasa Banjar.
Bahasa daerah sangat perlu dilestarikan. Ia merupakan bagian dari bahasa-bahasa yang tersebar di sejumlah negara di dunia. Diperkirakan, dari total 2.303 bahasa di Asia, sekitar 879 bahasa terancam atau hampir punah. Banyak bahasa yang hanya dikuasai oleh orang tua namun tidak diajarkan kepada generasi berikutnya. Ini juga terjadi di Indonesia. Diperkirakan ada 330 bahasa yang terancam atau hampir punah.

Pakar pendidikan Sheldon Shaeffer, seperti dikutip Republika, menyebutkan bahwa bahasa daerah atau bahasa ibu perlu digunakan dalam dunia pendidikan agar tetap lestari. Salah satu jalan terbaik untuk melestarikan budaya daerah termasuk bahasanya adalah melalui pendidikan. Apabila bahasa daerah aktif digunakan sebagai salah satu bahasa pengantar di sekolah maka bahasa daerah tersebut berpotensi untuk terus lestari.

Untuk murid-murid sekolah yang kemampuan berbahasa ibu lebih baik daripada berbahasa Indonesia, penggunaan bahasa daerah bisa membantu anak didik untuk lebih cepat menangkap pelajaran yang diberikan di sekolah. Dalam konteks ini, penggunaan bahasa daerah di sekolah memiliki dua sisi positif: melestarikan bahasa daerah dan memudahkan pemahaman siswa terhadap pendidikan di sekolah. Kesulitan berbahasa Indonesia memang masih mudah ditemui di daerah. Apalabila guru memaksa mereka menggunakan bahasa Indonesia, proses belajar-mengajar pun menjadi lebih sulit.

Sayangnya, menurut Sheldon Shaeffer, sistem pendidikan di Indonesia tidak menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar. Sekolah-sekolah di seluruh Indonesia secara seragam menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa adat sebagai bahasa pengantar, bahkan di daerah di mana masyarakat sesungguhnya tidak lancar menggunakan bahasa Indonesia. Akibatnya, para siswa yang dijauhkan dari bahasa daerah. Padahal, menurut Sheldon, sangat penting bagi guru untuk memahami fase belajar yang sesuai dengan perkembangan anak dalam berbahasa.

Jika dalam keseharian sang anak sudah terbiasa menuturkan bahasa ibu, maka hendaknya bahasa itu pun digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah. Kesulitan dalam berbahasa akan berpengaruh dalam memahami pelajaran yang akhirnya akan membuat prestasi belajar murid menjadi tidak optimal.

Menurut hasil survei yang dilakukan Southeast Asian Minister of Education Organizational Regional Centre of Quality Improvement of Teacher and Education Personal (SEAMO QITEP) in Language, pemerintah perlu mengembangkan penggunaan bahasa daerah, terutama di wilayah pelosok Indonesia. Yang direkomendasikan adalah program pendidikan multibahasa berbasis bahasa ibu yang memfokuskan agar daerah menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar, yang nanti pada fase selanjutnya bisa menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Dalam konteks ini, idealnya pada saat murid menginjak kelas 4 SD barulah guru disarankan menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Metode ini telah dilakukan di beberapa negara Asia, seperti Filipina, Thailand, dan Kamboja dengan dukungan penuh dari kementerian pendidikan setempat dan UNESCO.

Sebagai bagian dari kekayaan budaya, bahasa merupakan hal penting yang harus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Yang terjadi, bahasa daerah makin terkikis oleh perkembangan zaman dan sering kalah pamor dibandingkan bahasa asing. Padahal, bahasa daerah memiliki makna yang penting dan filosofi yang kuat, serta merupakan identitas masyarakat daerah. Untuk itu, kemampuan berbahasa daerah perlu terus digali dan disebarluaskan dari generasi ke generasi. Salah satu cara paling efektif adalah dengan tetap menggunakan bahasa daerah dalam percakapan keseharian, termasuk menggunakannya sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan.

 

Artikel terkait :

https://www.kompasiana.com/ronaldhutasuhut/58d4d0eec222bdf64e276655/strategi-melestarikan-bahasa-daerah

https://kissparry.com/2018/02/03/nama-nama-734-bahasa-daerah-di-indonesia-tahun-2018-awal/

https://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/14/03/04/n1wzn0-bahasa-daerah-semakin-punah