Memanusiakan Manusia Dengan Aksara

Indonesia menyambut Hari Aksara Internasional 2018 dengan memikul banyak pekerjaan rumah.

Dalam penelitian Central Connecicut State University yang dilakukan pada tahun 2016, Indonesia masih menempati peringkat ke 60 dari 61 negara yang dapat ditakar. Penelitian ini menggunakan berbagai variabel dalam mengukur tingkat literasi, mulai dari kemampuan membaca,tingkat investasi pendidikan, jumlah buku dalam perpustakaan, hingga ketersediaan komputer dan tingkat langganan koran.

Tantangan bagi perkembangan tingkat literasi Indonesia memang banyak. Sebagai negara yang besar dengan tingkat ketimpangan yang masih tinggi, Indonesia menghadapi masalah gizi dan kemakmuran, infrastruktur, hingga masalah pendidikan yang tidak kunjung optimal. Semua masalah ini memiliki akar yang dalam, serta tidak mudah diatasi.

Namun bagi sebuah masyarakat, tingkat literasi yang baik adalah keperluan yang tidak dapat dikompromi. Tingkat literasi yang tinggi berpengaruh pada tingkat peluang pekerjaan dan pendidikan tinggi, kesehatan, dan kualitas hidup yang tinggi pula. Sementara dalam berbagai penelitian, rendahnya tingkat literasi memiliki korelasi yang jelas dengan kemiskinan dan buruknya kualitas hidup.

Tingkat literasi rendah memiliki hubungan kuat dengan tingginya tingkat kecelakaan kerja. Ia juga terkait erat dengan rendahnya kesadaran gizi, kebersihan, dan pengetahuan mengenai penyakit menular. Hal ini berakibat pada tingginya tingkat penyakit seksual, aborsi, dan rendahnya tingkat kesehatan ibu dan bayi.

Literasi rendah juga mencederai produktivitas negara. Ia berkorelasi positif dengan tingkat pengangguran dan angka putus sekolah. Literasi rendah menurunkan tingkat kemandirian individu secara ekonomi, yang kerap kali berujung pada ketergantungan ekonomi pada keluarga dan juga negara.

Segala permasalahan literasi ini tampak seperti sebuah lingkaran setan. Rendahnya tingkat kemakmuran serta kesenjangan yang tinggi membuat upaya peningkatan literasi menjadi sulit, sementara tanpa literasi segala masalah tersebut sangat sulit juga diatasi.

Hal tersebut berkaitan erat dengan hubungan antara rendahnya literasi dengan tingkat ketimpangan. Di seluruh dunia, rendahnya tingkat literasi selalu berkaitan erat dengan dua faktor: ketimpangan jender dan ketimpangan geografis.

Menurut data UNESCO di tahun 2015, dua pertiga dari individu buta huruf adalah perempuan. Kondisi ini adalah salah satu faktor yang mempersulit mobilisasi sosial bagi perempuan. Rendahnya literasi perempuan memiliki korelasi dengan kecenderungan perempuan terjebak dalam pernikahan yang penuh kekerasan, serta mempersulit mereka untuk mandiri secara ekonomi yang berujung pada ketergantungan pada suami dan melemahnya daya tawar mereka dalam rumah tangga.

Ketimpangan literasi yang mencolok juga nampak pada masyarakat pedesaan. Upaya peningkatan literasi di daerah rural-pun kerap kali terbentur isu infrastruktur. Hal ini menjadi bensin dari kesenjangan ekonomi antara daerah urban dan rural, memperlebar jurang antara kaya dan miskin, serta menghambat peluang mereka untuk memperoleh hidup yang lebih baik.

Isu literasi hampir selalu merupakan isu ketimpangan. Di zaman modern ini, tingkat literasi sudah semestinya kita sikapi sebagai Hak Asasi, seperti sudah ditegaskan dalam Deklarasi Hamburg di tahun 1997: “Literasi, secara luas dipahami sebagai pengetahuan dan kemampuan dasar dalam dunia yang cepat berubah, adalah sebuah hak asasi yang mendasar.”

Berbeda dengan 1000 tahun lalu, ketika “melek huruf” adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh sekelompok elit yang kecil, literasi sudah seharusnya dimiliki oleh setiap manusia di saat ini. Ia memiliki peranan kunci bukan hanya untuk produktifitas dan pertumbuhan ekonomi, namun juga aktivitas politik, keterlibatan sosial dan kebudayaan, serta hidup manusia yang layak dan terpenuhi. Literasi dan pengetahuan adalah alat utama sekaligus kebutuhan paling mendasar untuk mengatasi ketimpangan dan memanusiakan manusia.

 

Artikel terkait :

https://kumparan.com/nurul-iswari/ini-penyebab-rendahnya-minat-baca-di-indonesia-1504967041086

http://www.tribunnews.com/metropolitan/2018/04/27/olga-lidya-perempuan-bisa-jadi-agen-literasi-media-dalam-menangkal-hoax-konten-radikalisme

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/569eaea4177b61e30e123a3d/peran-perpustakaan-dalam-meningkatkan-literasi