Ratu Kalinyamat Pantas Menjadi Pahlawan Nasional?

Tak banyak yang kita tahu tentang Ratu Kalinyamat. Mungkin ketika saya menanyakan ini kepada teman-teman saya jawaban mereka akan sama. Siapa sih Ratu Kalinyamat? Saya sendiri tidak mengetahui tentang sosok Ratu Kalinyamat. Bahkan pada saat saya melangsungkan kegiatan KKN di Jepara tahun lalu, saya hanya tahu bahwa nama Kalinyamat adalah salah satu daerah di Jepara. Sangat sedikitnya informasi tentang Ratu Kalinyamat membuat sosoknya kurang dikenal oleh masyarakat. Padahal jika ditelisik lebih jauh kiprahnya di Nusantara sangat panjang.

Ratu Kalinyamat merupakan seorang pemimpin Jepara pada tahun 1549-1579. Selama 30 tahun memimpin Jepara, Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara menjadi salah satu bandar terbesar dengan basis angkatan perang yang kuat. Selain maju di bidang maritim, Ratu Kalinyamat yang memiliki nama asli Retna Kencana ini juga memajukan perekonomian rakyat Jepara lewat seni ukir dan pembuatan galangan kapal.

Di masa kepemimpinannya dulu, Ratu Kalinyamat sangat ditakuti oleh Portugis. Diego de Couto, penulis asal Portugis bahkan menjulukinya sebagai Rainha de Jepara – Senhora Paderosa e Rica yang terjemahannya adalah Ratu Jepara – Seorang perempuan kaya dan sangat berkuasa. Ratu Kalinyamat telah berani mengirimkan armada perang lautan dalam dua gelombang, guna membantu melawan Portugis dalam merebut kembali Malaka.

Ratu Kalinyamat merupakan cucu dari Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Ia adalah anak dari Sultan Trenggana, lahir dengan nama Retna Kencana, Ratu Kalinyamat memiliki status sosial yang tinggi dan hak sebagai putri sultan. Ia dikenal sebagai gadis bangsawan yang cantik, pintar dan pemberani. Ia menikah dengan Pangeran Hadirin dari Kalinyamat, sehingga diberi gelar Ratu Kalinyamat.

Di Indonesia sendiri ada banyak wanita yang berperang membela negara. Salah satu yang baru dilantik sebagai Pahlawan Nasional adalah Malahayati dari Aceh. Ia merupakan laksamana perang angkatan laut Kerajaan Aceh. Ia dan pasukannya berjuang melawan penjajahan Portugis dan Belanda, ia bahkan membuat Cornelis de Houtman tak berdaya. Malahayati disebut sebagai wanita yang kuat dan tangguh di medan perang.

Berbeda dengan Laksamana Malahayati yang turun langsung di medan perang, Ratu Kalinyamat memimpin perang di belakang layar. Sebagai ratu yang berkuasa selama 30 tahun, ia tentu paham betul mengenai pertempuran. Ia mengirimkan ribuan pasukan dalam pertempuran melawan Portugis di Malaka. Selain itu Ratu Kalinyamat juga aktif dibidang politik dan lebih berperan dalam memajukan perekonomian rakyatnya pada masa itu. Usaha galangan kapal yang dirintisnya dengan mendiang suaminya terus ia kembangkan,

Sayangnya, perjuangannya di masa lalu tidak banyak diketahui orang. Ratu Kalinyamat bahkan belum bergelar Pahlawan Nasional. Padahal melihat lagi jejak perjalanannya, Ratu Kalinyamat pantas menerima gelar kehormatan tersebut. Sebagai seorang ratu, ia ikut berjuang dalam melawan penjajahan Portugis. Ia juga berjasa dalam memajukan perekonomian rakyatnya. Jangankan gelar pahlawan, pengetahuan rakyat Indonesia terhadap Ratu Kalinyamat saja masih kurang. Agar perjuangannya tidak hilang ditelan waktu, sudah sepantasnya ia mendapat gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional.

Dalam penganugerahan menjadi pahlawan nasional membutuhkan syarat umum dan khusus. Ratu Kalinyamat telah memenuhi berbagai syarat yang ditetapkan. Misalnya, memiliki integritas dan moral yang baik. Lahir sebagai keturunan bangsawan dan tumbuh di lingkungan Kerajaan Islam membuatnya menjadi seorang ratu yang bermoral baik. Selain memajukan bidang maritim dan ekonomi, Ratu Kalinyamat juga menyebarkan ajaran Islam. Dari segi perjuangan dan pengabdiannya, Ratu Kalinyamat telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk berjuang.

Tidak banyak yang tahu siapa Ratu Kalinyamat, karena memang sedikit sekali buku-buku maupun literatur yang membahas mengenai sosok Ratu Kalinyamat. Selain itu belum diangkatnya Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional juga membuat namanya tidak diketahui. Salah seorang yang mengangkat cerita Ratu Kalinyamat ini adalah Hadi Priyanto. Melalui bukunya yang berjudul Ratu Kalinyamat Rainha de Jepara, Hadi Priyanto berusaha memperkenalkan sosok Ratu Kalinyamat.

Sebagai generasi muda,  saya belum banyak belajar mengenai sejarah negeri ini. Melalui buku ini,  kita bisa mempelajari kegigihan serta semangat Ratu Kalinyamat untuk negeri.  Ratu Kalinyamat adalah sosok pemimpin hebat yang layak menjadi sumber inspirasi dan teladan, khususnya bagi para perempuan dalam membangun bangsa.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tulisan Lestari Moerdijat dalam catatan buku karya Hadi Priyanto itu. Dalam catatan tersebut, Bu Rerie menginginkan agar anak-anak muda dapat mengetahui dan mempelajari perjuangan Ratu Kalinyamat. Saat mendengar Jepara tidak hanya nama R. A. Kartini saja yang terlintas,  namun juga Ratu Kalinyamat. (Siska Nindyawati)