Batik Kudus, Warisan Budaya yang Sempat Hilang

Batik telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusian untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu. Meskipun belum ditemukan asal-usul batik, akan tetapi para ahli percaya batik telah ada sejak munculnya seni menulis dan menggambar. Pada dasarnya membatik adalah menggambar dengan menggabungkan titik-titik melalui tangan.

Di Indonesia sendiri ada berbagai motif batik, tergantung pada ciri khas dari tiap daerah. Motif dasar batik ada dua, yakni motif klasik dan kontemporer. Motif klasik adalah motif “pakem” dari setiap daerah, dan menjadi kekhasan tersendiri. Sedangkan motif kontemporer tidak terikat dengan ciri khas daerah, tetapi bergantung dari pengrajinnya.

Pada tahun 1930-an batik Kudus sangat populer di kalangan pecinta batik. Namun, di tahun 1970-an batik Kudus sempat menghilang. Penyebabnya adalah masuknya industri kretek dan perkembangan batik printing di Kudus. Para pengrajin banyak yang beralih menjadi buruh pabrik dan memilih mengerjakan batik printing dibanding batik tulis.

Saat ini, baik pengrajin maupun para pecinta batik semakin banyak. Di Kudus sendiri sentra pembuatan batik tersebar di beberapa tempat. Salah satunya adalah Omah Batik. Selain memproduksi batik, sentra pembuatan batik ini juga dijadikan tempat dalam upaya melestarikan batik Kudus.

Batik Kudus memiliki motif khas yang tercipta dari kearifan lokal. Salah satu yang terkenal unik adalah motif Kapal Kandas. Motif Kapal Kandas bercerita mengenai Kapal Dampo Awang yang ditumpangi Laksamana Cheng Ho yang akan melintasi lautan. Namun, Sunan Muria memiliki pendapat yang berbeda, menurutnya tempat yang dilintasi Laksamana Cheng Ho itu bukan lautan, melainkan gunung. Akhirnya kapal yang ditumpangi tersebut kandas, dan barang bawaannya tumpah. Hal tersebut yang menginspirasi motif batik Kudus Kapal Kandas. Di tengah motif Kapal Kandas terdapat “isen-isen” yang menggambarkan beras tumpah sebagai salah satu bawaan Laksamana Cheng Ho yang tercecer.

Selain itu, Batik Kudus memiliki beberapa motif lain yang berasal dari kearifan lokal. Misalnya, Menara Kudus, motif Kretek yang menggambarkan Kudus sebagai Kota Kretek, Kembang Randu dan lain-lain. Semua motif tersebut memiliki makna tersendiri, kebanyakan menggambarkan doa dan harapan kepada Allah Swt.

Mempunyai batik sebagai salah satu warisan budaya dunia, tentu membuat kita bangga. Perkembangan batik dengan berbagai motif juga semakin menarik minat para pecinta batik. Di Kudus sendiri ada orang-orang yang mendedikasikan waktunya untuk menekuni dunia batik. Seperti Miranti Serad pembina Omah Batik Kudus dan komunitas Sahabat Lestari Kudus. Dewan Pembina Sahabat Lestari, Lestari Moerdijat bahkan memiliki 3000 koleksi batik di rumahnya. Menurutnya batik memiliki makna dan filosofi tersendiri.

“Batik memiliki nilai filosofi yang mendalam. Sebab, seorang pembatik di dalam membuat karya-karyanya adalah gambaran dari suasana hatinya saat itu. Sehingga nilai-nilai seperti itu yang patut kita jaga agar tidak luntur”, ujar Lestari Moerdijat saat mengunjungi Omah Batik, (25/2) lalu.