Serba-serbi Halal Bi Halal

Indonesia mempunyai tradisi yang unik dan khas dalam merayakan Idul Fitri. Di samping tradisi mudik, kebiasaan lain yang dilakukan sepanjang Bulan Syawal adalah halal bi halal. Halal bi halal merupakan ajang silaturahmi untuk bermaaf-maafan serta berbagi cerita kepada para saudara setelah satu tahun kiranya tidak berjumpa.

Halal bi halal pertama kali dilakukan sejak era pemerintahan Presiden Soekarno. Saat itu situasi politik di tahun 1948 tidak begitu baik. Kemudian Kiai Wahab Chasbullah salah satu tokoh Nahdlatul Ulama mengusulkan adanya silaturahmi, tetapi Soekarno kurang setuju dengan istilah silaturahmi. Kiai Wahab kemudian memilih istilah halal bi halal yang dilakukan oleh para elit politik pada saat itu.

Filosofi halal bi halal adalah bahwa orang yang punya salah dan bermusuhan itu sedang melakukan yang haram kepada yang lain sehingga perlu dihalalkan dan saling menghalalkan antara anak bangsa sehingga tak ada haram dan dosa antar sesama, serta kembali pada kerukunan dan kesatuan.

Sejak saat itu, tradisi halal bi halal selalu dilakukan setiap tahun saat Idul Fitri. Momen ini dimanfaatkan untuk saling meminta maaf dan memafkan anggota keluarga, kerabat, tetangga, kolega hingga teman.

Selain untuk ajang saling maaf-maafan, tradisi halal bi halal juga sebagai ajang silaturahmi. Bisa dilakukan dengan mengunjungi keluarga dan tetangga terdekat, meminta maaf, makan bersama dan bercengkrama dengan mereka menjadi momen spesial yang membahagiakan.

Halal bi halal merupakan wujud implementasi dari keimanan yang dikemas dalam bentuk budaya dan tradisi. Sekaligus upaya dalam menjaga tali silaturahmi. Dengan halal bi halal diharapkan semua kesalahan dan kekhilafan dapat tiada. Mudah-mudahan dosa-dosa kita telas (tiada) dan kembali pada fitrahnya.