Gerakan Literasi Sekolah

Jadi literasi memiliki makna dan implikasi dari keterampilan membaca dan menulis dasar ke pemerolehan dan manipulasi pengetahuan melalui teks tertulis, dari analisis metalinguistik unit gramatikal ke struktur teks lisan dan tertulis, dari dampak sejarah manusia ke konsekuensi filosofis dan sosial pendidikan barat (Goody & Watt, 1963). Bahkan perubahan evolusi manusia merupakan dampak dari pemikiran literasi (Donald, 1991).

Literasi atau dalam bahsa inggris literacy merupakan landasan untuk kegiatan belajar sepanjang hayat. Hal ini sangat penting untuk pembangunan sosial dan manusia demi meningkatkan kemampuan agar dapat merubah hidup ke arah yang lebih baik. Semula literasi hanya diartikan sebagai kemelek-hurufan. Namun hal ini merupakan persepsi yang salah. Mengartikan literasi sebagai kemelek-hurufan dapat berakibat pada terjadinya anomali melek huruf. Dimana yang dimaksudkan melek huruf adalah hanya berkisar pada kemampuan baca tulis secara harfiah dan teknis. Bukan secara budaya dan mendalam. Oleh karena itu literasi lebih sesuai diartikan sebagai keberaksaraan.

Caldwell (2008) bahwa “reading is an extremely complex and multifaceted process”. Pembaca secara aktif terlibat dalam berbagai proses yang terjadi secara simultan. Pertama, pembaca melakukan pengkodean baik secara perseptual maupun konseptual (perceptual and conceptual decoding). Proses ini melibatkan kegiatan memaknai kata dan menghubungkannya dengan unit ide atau proposisi. Kemudian pembaca menghubungkan unit ide, memaknai detil informasi, dan membangun mikrostruktur dan makrostruktur atau yang diistilahkan sebagai “the mental representation that the reader construct of the text”.

Pemahaman terhadap mikrostruktur dan makrostruktur menyebabkan pembaca dapat mengidentifikasi ide-ide penting yang kemudian diintegrasikan dengan pengetahuan awal (prior knowledge) dan membangun situasi model. Situasi model ini bersifat idiosinkratik bagi masing-masing pembaca yang digunakan untuk belajar pada waktu dan konteks lain.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Gerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik (Kemendikbud, 2016).

Tujuan dalam pelaksanaan GLS terbagi atas tujuan umum dan khusus. Tujuan Umum adalah menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat sedangkan tujuan khususnya adalah untuk menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah, meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan dan menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.

Ruang Lingkup GLS di sekolah menengah pertama (SMP) berisi penjelasan pelaksanaan kegiatan literasi di SMP yang terbagi menjadi tiga tahap, yakni: pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Ruang lingkup GLS di SMP meliputi lingkungan fisik sekolah (ketersediaan fasilitas, sarana prasarana literasi), lingkungan sosial dan afektif (dukungan dan partisipasi aktif semua warga sekolah) dalam melaksanakan kegiatan literasi SMP dan lingkungan akademik (adanya program literasi yang nyata dan bisa dilaksanakan oleh seluruh warga sekolah).

Proses pelaksanaan GLS di harus berjalan rutin setiap hari selama 15 menit sebelum mata pelajaran jam pertama dimulai atau dapat dialkukan pada saat jam tertentu tergantung bagaimana sekolah mengaturnya. Isi bacaan yang dibaca oleh peserta didik beragam tetapi bukan buku teks atau buku mata pelajaran, pada GLS ini peserta didik boleh membaca nyaring atau dalam hati tergantung bagaimana mereka dapat bersepakat dengan teman satu kelas agar kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik tanpa ada peserta didik lain yang merasa terganggu.

Sasaran dari program ini ditujukan bagi guru sebagai pendidik, pustakawan dan tim literasi sekolah sebagai tenaga kependidikan untuk membantu mereka melaksanakan kegiatan literasi di SMP. Selain itu, kepala sekolah perlu memberikan pengetahuan GLS guna untuk memfasilitasi guru, pustakawan dan tim literasi sekolah untuk pelaksanaan GLS di sekolah.

Penerapan pelaksanaan GLS pada SMP yang dimaksud disini pada umumnya dibagi menjadi 3 tahap yakni tahap pembiasaan yaitu penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca, pengembangan yaitu Meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan, dan pembelajaran yaitu pemanfaaatan berbagai strategi literasi dalam pembelajaran lintas disiplin. Dari ketiganya terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaannya. Sekolah dapat melaksanakannya secara bertahap yaitu dimulai dari pembiasaan, kemudian pengembangan dan pemebalajaran. (Kemendikbud, 2016).

Kegiatan literasi di tahap pembiasaan meliputi dua jenis kegiatan membaca untuk kesenangan, yakni membaca dalam hati dan membacakan nyaring oleh guru. Secara umum, kedua kegiatan membaca memiliki tujuan, antara lain: meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran, meningkatkan kemampuan memahami bacaan, meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik dan menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan.

Kedua kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Dalam tahap pembiasaan, iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik, seperti: buku-buku nonpelajaran (novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dsb.), sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan dan poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca.

Kegiatan literasi pada tahap pengembangan sama dengan kegiatan pada tahap pembiasaan. Yang membedakan adalah bahwa kegiatan 15 menit membaca (membaca dalam hati dan membacakan nyaring) diikuti oleh kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan. Dalam tahap pengembangan, peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Perlu dipahami bahwa kegiatan produktif ini tidak dinilai secara akademik.

Kegiatan tindak lanjut pada tahap pengembangan ini bertujuan untuk mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku pengayaan secara lisan dan tulisan, membangun interaksi antarpeserta didik dan antara peserta didik dengan guru tentang buku yang dibaca, mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif dan mendorong peserta didik untuk selalu mencari keterkaitan antara buku yang dibaca dengan diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Mengingat kegiatan tindak lanjut memerlukan waktu tambahan di luar 15 menit membaca, sekolah didorong untuk memasukkan waktu literasi dalam jadwal pelajaran sebagai kegiatan Membaca Mandiri atau sebagai bagian dari kegiatan ko-kurikuler. Bentuk, frekuensi, dan durasi pelaksanaan kegiatan tindak lanjut disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Pada tahap pembelajaran dilakukan untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum 2013 yang mensyaratkan peserta didik membaca buku nonteks pelajaran. Beberapa prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam tahap pembelajaran ini, antara lain: buku yang dibaca berupa buku tentang pengetahuan umum, kegemaran, minat khusus, atau teks multimodal, dan juga dapat dikaitkan dengan mata pelajaran tertentu (bukan hanya bahasa) sebanyak 12 buku bagi siswa SMP dan ada tagihan yang sifatnya akademis (terkait dengan mata pelajaran).

Kegiatan tindak lanjut pada tahap pembelajaran ini bertujuan untuk: Lima belas menit membaca setiap hari sebelum jam pelajaran melalui kegiatan membacakan buku dengan nyaring, membaca dalam hati, membaca bersama, dan/atau membaca terpandu diikuti kegiatan lain dengan tagihan non-akademik atau akademik, melaksanakan berbagai strategi untuk memahami teks dalam semua mata pelajaran (misalnya, dengan menggunakan peta konsep secara optimal, misalnya tabel TIP (Tahu-Ingin-Pelajari), Tabel Perbandingan, Tangga Proses/Kronologis, dsb) dan menggunakan lingkungan fisik, sosial dan afektif, dan akademik disertai beragam bacaan (cetak, visual, auditori, digital) yang kaya literasi di luar buku teks pelajaran untuk memperkaya pengetahuan dalam mata pelajaran.