Enam Aspek Revitalisasi Museum

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan enam aspek revitalisasi museum untuk menyegarkan permuseuman Indonesia. Keenam aspek tersebut yaitu fisik, manajemen, program, jejaring, pencitraan, dan kebijakan.

Untuk aspek fisik sendiri, paling tidak museum diharapkan bisa mengubah nuansanya menjadi modern agar nyaman dinikmati oleh pengunjung, tidak terasa tua dan seram lagi. Dalam penjelasan mengenai koleksinya, museum sebaiknya memiliki storyline agar pengunjung mendapatkan pengetahuan yang runut pada hal yang akan disampaikan. Luas ruangan yang memadai juga berperan agar pengunjung nyaman, juga dilengkapi dengan penyejuk udara dan cahaya lampu yang bisa membuat suasana menjadi hidup. Selain itu, agar pengunjung tidak mudah bosan serta lebih mudah belajar di museum, perlu ditambahkan teknologi informasi yang dominan, bisa berupa diorama, permainan interaktif, layar sentuh, film dan video, dan lain sebagainya.

Fasilitas yang disediakan oleh museum juga perlu diperhatikan. Minimal, sebuah museum memiliki fasilitas utama berupa ruang pamer tetap dan temporer, ruang administrasi untuk karyawan, toilet, ruang dan peralatan medis, internet, auditorium, alat-alat pengamanan gedung, fasilitas untuk lansia, penyandang disabilitas, serta ruang untuk ibu menyusui dan balita. Sedangkan untuk di luar gedung, paling tidak disediakan fasilitas berupa tempat parkir, pos satpam, taman, sarana ibadah, pagar pengaman, perpustakaan, souvenir shop atau cafe, panggung terbuka, genset, drainase yang baik, rumah dinas, guest house, kendaraan operasional, dan fasilitas lainnya. Jika memungkinkan, perlu juga menyediakan fasilitas berupa CCTV, ruang loker, pengatur suhu dan kelembaban, alat komunikasi, sound system, ruang kontrol security, hotspot internet, pintu darurat, dan alat-alat peringatan dini darurat.

Untuk aspek manajemen, paling tidak ada enam revitalisasi manajemen yang perlu diperhatikan. Yang pertama adalah manajemen SDM.  Museum perlu memiliki sumber daya manusia yang kompeten. Selain kuantitas, perlu juga memperhatikan aspek kualitas dari SDM itu sendiri. Ini bisa diperbaiki dengan membuat sistem rekrutmen yang lebih baik, peningkatan standar kompetensi, adanya tunjangan jabatan fungsional atau remunerasi berbasis kinerja, serta penerapan reward and punishment bagi karyawan.

Dalam revitalisasi manajemen koleksi, perlu dibuat Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam hal pengadaan koleksi, registrasi, inventarisasi, dokumentasi database, katalogisasi, perawatan, pengamanan, penyimpanan, penelitian dan pengkajian, serta preparasi, penyajian, dan labelling.? Sedangkan dalam manajemen pelayanan, museum perlu membuat SOP tentang technical guide, program layanan publik, pelayanan informasi melalui bahan-bahan publikasi, serta pelayanan khusus, misalnya untuk penyandang disabilitas, lansia, atau tamu negara.

Dalam hal keuangan, perlu melakukan manajemen keuangan yang lebih baik dalam bidang ketertiban sumber dana, penyusunan perencanaan anggaran, serta pembuatan laporan dan evaluasi.

Dalam revitalisasi manajemen marketing, museum perlu membuat bahan-bahan publikasi yang lebih modern dan kreatif, misalnya pembuatan brosur, leaflet, buku, spanduk, baliho, iklan, dan lain sebagainya. Museum sendiri harus bisa percaya diri untuk menjadi destinasi wisata yang akan dicari oleh masyarakat. Agar masyarakat lebih mengenal museum kita, perlu juga melakukan promosi program-program museum. Sedangkan untuk manajemen program, museum perlu membuat survei minat pengunjung, membuat program teknis, dan menyusun program sesuai kebutuhan museum dan pengunjung.

Untuk aspek program, museum harus lebih kreatif dan inovatif dalam membuat program publik. Caranya bisa dengan mengundang para pengunjung baru agar datang ke museum, atau dengan mendatangi calon-calon pengunjung potensial.

Untuk aspek pencitraan, museum perlu membuat hal-hal baru dan penyebaran informasi tentang perubahan yang lebih baik yang telah dilakukannya. Bisa melalui website, media sosial, maupun media iklan.

Untuk aspek kebijakan, revitalisasi museum perlu melakukan pembenahan dalam status kelembagaan museum serta nomenklaturnya. Perlu juga regulasi dalam penetapan benda cagar budaya dalam koleksi maupun bangunannya, penetapan standarisasi dan akreditasi museum, juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk teknis) pendirian museum, serta penyusunan Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) museum yang diselaraskan dengan ketentuan internasional. Selain itu perlu diperhatikan kebijakan dalam bidang kerjasama, SDM, dan pendanaan.

Untuk aspek jaringan, museum perlu membangun koneksi-koneksi baru, baik dengan komunitas, sekolah, juga pihak lain. Jaringan ini penting, karena jika mereka telah mengenal museum kita, mereka akan menyebarluaskan kabar baik tentang museum kita, bahkan hingga bisa mengedukasi para calon pengunjung museum kita.

Agar revitalisasi museum ini bisa terlaksana dengan baik, perlu peran yang maksimal dari berbagai pihak. Pemerintah bisa membuat kebijakan, memfasilitasi, mengatur, menggerakkan, serta memonitor dan mengevaluasi kegiatan revitalisasi yang dilakukan oleh museum-museum. Badan pelestari atau pengembangan museum bisa memaksimalkan perannya dalam memelihara, menjaga, melakukan perawatan koleksi museum, meningkatkan pengunjung, serta melakukan kegiatan sosialisasi pada masyarakat.

Sebagai pengunjung museum, kita bisa mengambil peran untuk memberikan berbagai kontribusi yang positif bagi museum dan masyarakat, misalnya dengan bisa menjaga keaslian setiap koleksi, yaitu dengan tidak melakukan perusakan terhadap koleksi museum, membantu badan pelestari atau pengembangan museum untuk merawat dan menjaga baik koleksi maupun museumnya, serta bisa ikut serta mengembangkannya, misalnya dengan mempublikasikannya pada khalayak umum agar semakin banyak pengunjung yang mendatangi museum.

Sedangkan komunitas bisa mengambil peran untuk terus bersemangat mengumpulkan orang-orang agar beminat mengunjungi museum, bisa membantu pihak museum juga dalam menyukseskan revitalisasi museum dengan menggelar acara positif di museum sehingga museum bisa dikemas menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan rekreasi.

Agar revitalisasi museum bisa terlaksana dengan baik, semua pihak seharusnya bisa melaksanakan langkah-langkah strategis dalam menghidupkan kembali museum. Salah satunya adalah membangun paradigma bahwa museum adalah dari kita, oleh kita, dan untuk kita, atau dikenal dengan nama paradigma pengelolaan partisipatoris. Artinya, pengelolaan museum bukan lagi menjadi monopoli sebuah instansi, tetapi juga melibatkan masyarakat.

Langkah selanjutnya, pengelola museum harus mampu menjalin kerja sama yang baik dengan semua pihak, khususnya institusi pendidikan atau lembaga-lembaga yang intens pada kajian sejarah. Kerja sama dengan institusi pendidikan, misalnya, museum menjadi salah-satu sumber belajar sehingga pembelajaran sejarah menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Bisa juga pengelola museum membuat program museum school atau sekolah museum, sehingga semua orang yang ingin memperdalam seluk-beluk sejarah dapat memperoleh informasi yang akurat dan data yang lengkap.

Secara umum, pada dasarnya masyarakat mempunyai anggapan bahwa museum hanyalah tempat penyimpanan benda-benda sejarah dan benda purbakala sebagaimana diibaratkan sebagai lembaga pengembangan budaya dan peradaban manusia. Oleh karena itu melalui pembangunan dan peremajaan museum di harapkan gerakan pengenalan, penguatan dan apresiasi serta kepedulian akan identitas dan perkembangan budaya bangsa Indonesia tidak hanya sebuah cerita pembangunan akan tetapi akan tercermin dari banyaknya minat masyarakat baik secara nasional dan regional bahkan internasional untuk mengunjungi museum.