Habibie dan Industri Pesawat Nasional

Mantan presiden Indonesia dan insinyur terkemuka Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie yang merupakan pionir industri pesawat terbang negara ini meninggal pada usia 83 tahun di Jakarta pada Rabu, 11 September 2019.

Sang ilmuwan menimba ilmu di Belanda dan Jerman sebelum bekerja untuk perusahaan dirgantara Jerman Messerschmitt-Bölkow-Blohm. Sampai akhirnya, presiden kedua Indonesia, Suharto, memintanya kembali ke Indonesia untuk mendirikan perusahaan pesawat terbang pertama di negara ini, Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) pada 1976. Perusahaan milik negara itu tumbuh menjadi pemasok bagi industri pesawat terbang kelas dunia, seperti Boeing, Airbus, General Dynamics, dan Fokker.

Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Indonesia pada 1978. Selama menjabat, Habibie dikenal karena terobosan dan pemikirannya yang maju dalam mengadopsi riset dan teknologi untuk keperluan industri. Beliau mengubah kebijakan pengembangan industri Indonesia dari yang didasari pertimbangan ekonomi menjadi fokus pada teknologi tinggi.

Sebelum Habibie menjabat Menristek, Indonesia mengembangkan industri berdasarkan perhitungan ekonomi yang didasarkan pada perhitungan efisiensi dan keuntungan semata. Di bawah Habibie, pemerintah lebih fokus pada pengembangan industri padat karya yang berbasis sumber daya. Beliau memperkenalkan pentingnya mengembangkan industri strategis dengan menggunakan teknologi yang lebih tinggi, seperti pesawat terbang, kapal, peralatan komunikasi, dan senjata. Beliau percaya, meski diperlukan biaya tinggi dalam pengembangan industri ini, pada akhirnya sektor tersebut itu akan membawa manfaat ekonomi.

Habibie juga menerapkan kebijakan pemberian sejumlah subsidi untuk mengembangkan industri strategis ini, termasuk industri pesawat terbang. Misalnya, dia memberikan lahan gratis kepada IPTN. Beliau juga membantu penjualan produk IPTN ke entitas lain milik negara, seperti maskapai Merpati dan Pelita Air.

Salah satu pendekatannya yang berani adalah memperkenalkan rancangan manufaktur progresif untuk mengembangkan industri strategis. Pengembangan teknologi biasanya diawali dengan riset dasar dan berakhir dengan teknologi canggih. Pada rancangan manufaktur progresifnya, Habibie mengubah urutan, dimulai dengan menguasai teknologi canggih – dengan alih teknologi melalui produksi berlisensi – dan berakhir dengan riset dasar.

Kecintaan Pak Habibie pada pesawat dimulai ketika ia masih kecil. Cintanya tidak pernah pudar, bahkan ketika terjadi krisis keuangan dan menjabat sebagai presiden pada 1998-1999. Krisis keuangan 1997 melukai bisnis IPTN. Krisis ini juga memicu gejolak politik, menyebabkan Suharto – memerintah selama lebih dari 30 tahun – lengser dari jabatannya.

Argumennya adalah bahwa Indonesia tidak memiliki pengetahuan dan sumber daya untuk mengembangkan industri jika mereka memulai dari penelitian dasar. Pendekatan ini terbukti efektif untuk IPTN. Mayoritas pesawat IPTN berasal dari model lain, yang lisensinya telah dibeli. Ini termasuk helikopter pesawat helikopter NBO 105 yang berasal dari model helikopter Bölkow Bo 105 Jerman, dan pesawat angkut sedang NC 212 yang berasal model pesawat CASA C-212 Aviocar dari Spanyol.

Bahkan selama karier politik yang singkat ini, beliau masih seorang insinyur sejati. Banyak orang berkata, selama ia menjadi birokrat, Pak Habibie selalu menyelesaikan masalah dengan pendekatan seorang insinyur. Ia selalu menganalisis masalah dari akarnya sebelum menemukan solusi.

Habibie yang saat itu adalah Wakil Presiden- mendampingi Suharto, menjadi penggantinya. Beliau menjabat selama kurang dari setahun. Meski demikian, Habibie dikenal atas perannya dalam mengantar Indonesia ke era demokrasi di kalangan aktivis hak asasi manusia.

Sebagai wujud rasa komitmennya pada RAI, Habibie mengatakan bahwa beliau akan menggunakan penghasilan dari film yang didasarkan pada kisah hidupnya untuk pengembangan R-80.

Setelah tidak lagi menjadi pejabat, Habibie tetap berkomitmen untuk mengembangkan industri pesawat terbang Indonesia. Pada 2012, Habibie mendirikan perusahaan pesawat terbang baru, Regio Aviasi Industri (RAI). Saat ini RAI sedang mengembangkan pesawat R-80, sebuah pesawat angkut regional berkapasitas 80 kursi. Sekitar 155 pesawat R-80 telah dipesan oleh maskapai penerbangan lokal. Prototipe ini ditargetkan untuk uji terbang pada 2022.

Kisah cintanya dengan mendiang istrinya, Hasri Ainun Besari, telah menjadi dua film blockbuster di sinema Indonesia – Habibie & Ainun (2012) dan Rudy Habibie (2016). Film berikutnya , Habibie & Ainun 3, dijadwalkan rilis pada Desember tahun ini.

Mari kita berdoa semoga jiwa Pak Habibie dan Bu Ainun beristirahat dengan tenang, serta mimpinya untuk industri pesawat terbang Indonesia digdaya menjadi kenyataan.