Mengingatkan Kembali tentang Karya Sastra

Karya sastra merupakan kreativitas seseorang terhadap ide, pikiran, dan perasaan yang dimilikinya. Karya sastra merupakan hasil imajinasi manusia yang mengambil kehidupan manusia sebagai sumber inspirasinya. Karya sastra tidak mungkin lahir dari kekosongan budaya.

Menurut Ratna (2005:312), hakikat karya sastra adalah rekaan atau yang lebih sering disebut imajinasi. Imajinasi dalam karya sastra adalah imajinasi yang berdasarkan kenyataan. Imajinasi tersebut juga diimajinasikan oleh orang lain. Meskipun pada hakikatnya karya sastra adalah rekaan, karya sastra dikonstruksi atas dasar kenyataan.

Bahasa sastra mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bahasa ilmiah atau bahasa sehari-hari. Bahasa sastra penuh dengan ambiguitas dan homonim, serta memiliki kategori-kategori yang tak beraturan dan tak rasional seperti gender. Bahasa sastra juga penuh dengan asosiasi, mengacu pada ungkapan atau karya yang diciptakan sebelumnya. Sarana-sarana bahasa dimanfaatkan secara lebih sistematis dan dengan sengaja dalam karya sastra. Pengarang mempunyai kebebasan berbahasa dalam menuangkan idenya dalam karya sastra (Wellek dan Warren, 1993:15).

Walaupun karya sastra merupakan hasil imajinasi, karya sastra sangat bermanfaat bagi kehidupan. Karya sastra dapat memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Karya sastra dapat memberikan kegembiraan dan kepuasan batin. Karya sastra juga dapat dijadikan sebagai pengalaman untuk berkarya karena siapa pun bisa menuangkan isi hati dan pikiran dalam sebuah tulisan yang bernilai seni. Sastra tidak hanya sebagai hiburan, tetapi sastra juga merupakan suatu kebutuhan batin yang harus dipenuhi. Melalui sastra, manusia dapat belajar kehidupan.

Penelitian karya sastra merupakan kegiatan yang penting terhadap perkembangan ilmu sastra. Sastra sebagai salah satu disiplin ilmu akan berkembang karena adanya penajaman konsep-konsep, teori-teori, dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra (Chamamah dalam Jabrohim, 2003:8). Penelitian sastra sangat diperlukan karena sastra berkembang cepat dalam perkembangan ilmu dunia. Perkembangan sastra dilatarbelakangi oleh persepsi tentang ciptaan yang bernama sastra itu sendiri. Kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan ilmu memerlukan suatu metode ilmiah. Keilmiahan penelitian sastra tersebut ditentukan oleh karakteristik kesastraannya.

Psikologi sastra sebagai suatu tinjauan berperan penting dalam penelitian sastra. Menurut Minderop (2010:2), penelitian psikologi sastra dianggap penting karena adanya beberapa kelebihan. Pertama, pentingnya psikologi sastra untuk mengkaji lebih dalam aspek perwatakan. Kedua, pendekatan psikologi sastra memberikan umpan balik kepada peneliti tentang masalah perwatakan. Ketiga, penelitian psikologi sangat membantu untuk menganalisis karya sastra yang sangat berkaitan dengan masalah-masalah psikologis.

Sastra merupakan salah satu bidang keilmuan di lingkungan akademi. Pembelajaran sastra di sekolah masih menghadapi berbagai masalah. Hal tersebut dapat dilihat masih minimnya implementasi sastra dalam pembelajaran. Pendidik pada umumnya masih menekankan aspek kebahasaan saja. Padahal, pemilihan bahan ajar sastra harus mempertimbangkan beberapa aspek. Pemilihan pengajaran sastra harus mempertimbangkan tiga faktor, yaitu, bahasa, psikologi, dan latar belakang kebudayaan para siswa (Rahmanto, 2004:27).

Secara sederhana, karya sastra adalah sesuatu diungkapkan secara komunikatif yang mengandung maksud pembuat tulisan dengan tujuan estetika. Karya-karya ini sering mengungkapkan, baik di pertama atau ketiga orang, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang berhubungan dengan waktu mereka.

Jenis karya sastra dapat dibagi atas  delapan macam antara lain, pertama, Puisi adalah Karya sastra yang terikat oleh suku kata dan array, ungkapan pendek tapi penuh makna, ungkapan yang tidak vulgar tapi dibungkus dengan kekerasan, baik klise atau tidak klise.

Kedua, Pantun. Pantun berasal dari pulau Sumatera, Indonesia. Bait pada pantun sangat terikat oleh garis pada setiap baris,menggunakan rumus abab. Pada bait pertama dan kedua baris disebut sampiran, sedangkanbait ketiga dan keempat adalah isi.

Ketiga, Roman. Fiksi yang berisi tentang hikayat seseorang pemuda dari masa kanak-kanak sampai mati, atau dari bayi sampai dewasa. Roman merupakan sebuah karya sastra lama.

Keempat, Novel. Bentuk sastra sebuah sastra yang mengisahkan sebuah kisah fiksi dalam kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Misalnya, menceritakan tentang asal usul sebuah kesuksesan yang bisa di raih oleh tokoh. Semua karakter dalam novel adalah fiksi belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu ketika cerita itu ditulis. Jadi terjadi seakan-akan itu terjadi pada saat itu. Novel ini termasuk sastra modern.

Kelima, Cerpen. Seperti namanya, cerita pendek biasanya hanya terdiri dari 2-5 lembar kertas folio atau ukuran F4. Cerita pendek hanya menceritakan peristiwa yang paling berkesan yang menimpa tokoh utama.

Keenam, Dongeng – Cerita lama yang biasanya tidak diketahui anonim, diceritakan hanya dari mulut ke mulut. Walaupun sudah dikumpulkan dalam bentuk tertulis. Di masa lalu sudah menjadi kebiasaan ketika orang tua menceritakan kisah kisah ini pada anak anaknya. Namun sayang sekarang hampir tidak ada orang tua mendongeng kepada anak-anak mereka.

Ketujuh, Legenda. Sebenarnya hampir mirip dengan dongeng, legenda merupakan karangan yang tidak diketahui siapa pengarangnya. Namun legenda menceritakan tempat asal atau kisah kerajaan kuno. Misalnya Sangkuriang atau menceritakan asal-usul.

Sesditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sri Hartini menyatakan sastra merupakan produk peradaban yang tidak mungkin dapat dipagari dengan sekat atau batas-batas nasionalitas negara.

Sastra adalah milik masyarakat yang jauh lebih luas, terlebih dalam era globalisasi saat ini. Ekosistem sastra adalah ekosistem global. Sastra yang merupakan salah satu media pemajuan kebudayaan bertujuan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia.