Masalah Kesehatan Akibat Kabut Asap

Ribuan orang dilaporkan terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA) atas sejak kabut asap menggelayut di langit. ISPA sejatinya disebabkan oleh infeksi virus, bukan oleh kabut asap. Tapi polusi udara yang parah, ditambah dengan melemahnya sistem kekebalan tubuh bisa mengakibatkan gangguan pernafasan atau dengan kata lain mempermudah terjadinya ISPA. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi. ISPA selama ini banyak menjangkiti anak-anak dan kaum lansia.

Selain genetik, penyakit Asma juga disebabkan oleh buruknya kualitas udara. Kabut asap yang saat ini merajalela membawa partikel berukuran kecil yang masuk melalui saluran pernafasan dan menyebabkan gangguan layaknya asap rokok. Penduduk yang mengidap Asma, terutama anakanak, adalah kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap ancaman kabut asap.

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menggabungkan berbagai penyakit pernafasan semisal Bronkitis. Menurut Yayasan Paru-paru Kanada, kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan bisa berakibat fatal pada penderita PPOK, karena mengurangi/memperburuk kinerja paru-paru. Semakin lama pasien terpapar kabut asap, semakin besar juga risiko kematiannya.

Kabut asap membawa partikel mini bernama PM2.5 yang dapat masuk ke dalam tubuh lewat saluran pernafasan. Sebuah studi oleh California Environmental Protection Agency tahun 2014 membuktikan, pasien yang terpapar kabut asap dalam waktu lama menggandakan risiko terkena serangan jantung atau stroke

Dalam bentuk yang paling ringan, paparan kabut asap bisa menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung serta menyebabkan sakit kepala atau alergi. Asosiasi Paru-paru Kanada mengingatkan, masker wajah tidak melindungi tubuh dari partikel ekstra kecil yang dibawa kabut asap.

Rekomendasi IDAI (No. 011/Rek/PP IDAI/X/2015) tentang Kesehatan Anak Akibat Bencana Kabut Asap: (1) Tetap di dalam ruangan dengan jendela dan pintu tertutup. Tutup tiap ada akses ke luar ruangan; (2) Kurangi aktivitas di luar rumah; (3) Hindari aktivitas di dalam rumah yang menambah kontaminasi seperti merokok atau menyedot debu; (4) Gunakan masker dan alat pelindung lainnya seperti sarung tangan, baju lengan panjang dan celana panjang; (5) Cuci buah dan sayur sebelum dimakan; (6) Ganti masker bila sudah kotor (masker yang kotor ditandai dengan perubahan warna masker atau saat bernapas melalui masker menjadi bertambah sulit); (7) Sediakan obat-obat penting di rumah; (8) Mempersiapkan tempat-tempat umum seperti sekolah, aula, gedung olah raga, hotel, mu…

Upaya Melindungi Diri Dari Bencana Asap: (1) Hindari atau kurangi aktivitas di luar rumah/gedung, terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan; (2) Jika terpaksa pergi keluar rumah/gedung sebaiknya menggunakan masker; (3) Minumlah air putih lebih banyak dan lebih sering; (4) Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, berkonsultasilah kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi; (5) Selalu lakukan perilaku hidup bersih sehat (PHBS), seperti makan bergizi jangan merokok, dan istirahat yang cukup; (6) Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah/sekolah/ kantor dan ruang tertutup lainnya; (7) Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik; (8) Sayuran dan buah-buahan dic…

Salah satu cara untuk menjaga aktivitas sekolah tetap berjalan selama bencana kabut asap adalah dengan mempersiapkan Sekolah Aman Asap. Perlengkapan yang Diperlukan untuk Sekolah Aman Asap antara lain: (1) Kipas Angin untuk membuat ruangan kelas terasa lebih nyama, pasang kipas angin di bagian depan dan belakang kelas; (2) Dakron untuk menyaring udara yang tercemar asap, tutup ventilasi ruangan kelas dengan busa dakron. Usahakan dakron selalu dalam keadaan lembab dengan cara dibasahi (disemprot air) secara berkala; (3) Pasang tirai kain di seluruh jendela dan pintu dari sisi dalam. Agar lebih efektif menyaring udara yang tercemar asap, usahakan tirai kain selalu dalam keadaan lembab, dengan cara menyemprotkan air secara berkala; (4) Untuk mengurangi CO…

Selain itu juga dapat mempersiapkan Rumah Singgah. Rumah singgah ini biasanya berupa bangunan permanen yang sudah ada namun didalamnya disulap dan dilengkapi dengan peralatan yang memadai bagi masyarakat yang memerlukan udara segar. Umumnya rumah singgah tersebut berupa aula / balai desa, stadion, atau gedung-gedung perkantoran.

Kriteria rumah singgah : (1) Berada di lokasi yang mudah diakses; (2) Memiliki alat penyaring udara; (3) Dilengkapi dengan AC atau air purifier (penjernih udara); (4) Terdapat ruang khusus balita dan tempat bermain anak; (5) Terdapat matras dan kasur dengan jumlah yang memadai; (6) Terdapat dapur umum; (7) Terdapat tenaga medis yang memadai serta fasilitas penting lainnya

Sedangkan jika bertahan di rumah, maka yang harus dilakukan adalah Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu antara lain: (1) Membiasakan diri mencuci tangan dengan sabun; (2) Menutup tempat-tempat penampungan air di area terbuka agar tidak terpapar debu asap; (3) Mencuci buah dan sayur sebelum diolah/dikonsumsi; (4) Menyediakan obat-obatan esensial di rumah menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar rumah

Selain itu juga dapat ketika di rumah dengan memastikan pintu dan jendela rumah selalu tertutup rapat. Jika di rumah memiliki exhaust fan, maka matikan dan tutup rapat celah yang ada pada exhaust fan.

Bisa juga dengan menyegel ruangan di sekitar jendela, dinding yang retak atau bukaan ke luar lainnya dengan dempul atau perekat atau kain basah.

Pastikan alat pendingin udara (AC) beroperasi sepanjang waktu. Jika tidak memiliki AC, letakan kain basah diseluruh jendela dan ventilasi. Cuci dan basahkan kembali kain sesuai kebutuhan

Jangan melakukan aktivitas yang akan menambah jumlah asap seperti membakar sampah dan lain sebagainya.

Mempromosikan tentang PHBS seperti diatas kepada keluarga, tetangga atau perkumpulan remaja di lingkungan rumah.

Di lingkungan sekolah juga dapat melakukan: (1) Mempromosikan PHBS kepada teman sebaya atau adik kelas, dengan cara memberikan penyuluhan atau membuat leaflet tentang PHBS saat situasi kabut asap; (2) Memastikan pintu dan jendela di ruang kelas selalu tertutup rapat; (3) Membantu guru dan mengajak teman-teman sekolah untuk menerapkan sistem sekolah aman asap; (4) Menggunakan masker saat berada di luar kelas dan menggantinya secara berkala jika sudah kotor.