Hari Pos Dunia, Pos dan Kemampuan Bertahan

 

“Pos, pos,” begitu teriakan petugas pos ketika mengantar surat atau paket. Kita pun menyambutnya dengan gembira, karena yang datang adalah surat atau paket yang sudah dinanti-nanti.

Dunia berubah, yang kita nanti bukan lagi pak pos yang membawa surat, tetapi e-mail atau WA yang masuk dalam bilangan menit, bahkan detik. Kita juga bukan lagi menanti pak pos yang membawa kiriman paket, tapi mungkin Tiki, DHL, bahkan go jek.

Dunia kirim mengirim memang berubah, tapi pos masih bertahan sampai sekarang. Bertahan, sekalipun tidak mudah.

Sejarah pos di negeri ini teramat panjang. Pada 1746 Pos Indonesia telah menjadi platfom logistik ke seluruh pelosok negeri. Sebagai perbandingan, baru 128 tahun kemudian, pada 9 Oktober 1874, Universal Postal Union (UPU) atau Organisasi Pos Sedunia didirikan di Kota Bern, Swiss.

UPU berbahasa resmi Prancis. Ia mengkoordinasikan agensi pos sedunia. Dengan anggota lebih dari 150 negara, UPU menyelenggarakan pertemuan setiap tahun ‘di sekitar’ tanggal 9 Oktober, secara bergiliran dari satu kota atau negara ke kota atau negara anggota UPU.

Kepastian hari lahir pos ditabalkan dalam kongres UPU Sedunia yang berlangsung 9 Oktober 1969 di Tokyo, Jepang. Di situlah baru disepakati bahwa hari kelahiran UPU, 9 Oktober, dijadikan Hari Pos Sedunia, yang dirayakan setiap tahun.

Apakah di dunia digital ini pos masih bisa bertahan? UPU tidak memilih mati. Faktanya sampai sekarang kongres UPU masih diselenggarakan dan Hari Pos Sedunia masih dirayakan, setiap tahun.

Dalam kongres itu anggota UPU berbagi ide. Berbagai inovasi dibahas dan dikembangkan. Bukankah belum semua belahan dunia ini ada internet? Di mana tidak ada internet, di situlah pos berperan dengan pelayanan yang lebih cepat dibanding sebelumnya.

Kemudian masih ada pelayanan pengiriman wesel secara elektronik yang dapat diterima pada saat yang sama ketika wewel dikirim. Pengiriman antarnegara yang berbeda mata uang, berbeda waktu, namun wesel tetap dapat diterima pada waktu yang sama dengan pengiriman.
Demikianlah Organisasi Pos Dunia secara terus menerus harus melakukan pembaruan produk. Mereka paham benar, agar pos dapat bertahan, mereka tidak boleh berhenti berinovasi.

PT Pos Indonesia, umpamanya, mengeluarkan layanan baru bagi pebisnis online dan pelaku UKM. Kiriman dalam kota di luar Pulau Jawa segera tiba di tujuan paling lama 9 jam. Hingga akhir Desember 2019, gratis ongkos kirim untuk pengiriman berikutnya apabila kiriman tidak tiba di hari yang sama.

Untuk mendukung kemudahan akses finansial, Pos Indonesia memiliki sekitar 24 ribu titik layanan yang menjangkau praktis semua kecamatan dan kelurahan/desa, sampai ke pelosok terpencil di Indonesia.

Di web Pos Indonesia pun tersedia cara untuk menghitung tarif pengiriman. Di situ kita pun dapat melacak keberadaan paket dengan mengetik nomor resi.

Sesungguhnya, hanya yang kreatif dan inovatif mampu menghadapi gelombang besar disruption.