Hari Kesehatan Jiwa Internasional

Tanpa kita sadari ternyata di dunia ini banyak sekali orang sakit jiwa. Yang mencolok ialah orang mengalami depresi, kemudian bunuh diri. Itulah sebabnya Hari Kesehatan Jiwa Internasional yang diperingati tiap 10 Oktober, tahun ini mengambil tema Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri.
 
WHO melaporkan setiap detik terdapat satu orang yang bunuh diri di seluruh dunia. Angka orang yang kehilangan nyawa akibat bunuh diri bahkan lebih parah dibanding jumlah orang yang terbunuh dalam perang. Total terdapat 800 ribu orang yang tercatat melakukan bunuh diri tiap tahunnya. 
 
Menurut WHO, bunuh diri masalah kesehatan masyarakat global meliputi usia, jenis kelamin, dan juga wilayah. Dari segi usia, bunuh diri penyebab utama kedua kematian di kalangan pemuda yang berusia antara 15 dan 29 tahun. Dari segi jenis kelamin, bunuh diri di kalangan remaja putri yang berusia 15 sampai 19 tahun merupakan pembunuh terbesar kedua setelah meninggal akibat melahirkan. Pada remaja lelaki, bunuh diri menempati posisi ketiga setelah korban akibat kecelakaan di jalanan dan korban kekerasan.
 
WHO menyebut di negara kaya, angka bunuh diri laki-laki lebih tinggi tiga kali dibandingkan perempuan. Sedangkan di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah, angka keduanya sama. 
 
Bunuh diri umumnya dilakukan bukan dengan menggantung diri, melainkan dengan mengggunakan pestisida. Zat itu sangat beracun, tidak ada penangkalnya, serta banyak digunakan di daerah terpencil yang jauh dari jangkauan bantuan medis.
 
Sri Lanka melarang penggunaan pestisida. Kebijakan itu berdampak positif angka bunuh diri turun 70%. Diperkirakan 93.000 nyawa diselamatkan antara 1995 dan 2015.
 
Menurut Institute for Health Metrics and Evaluation, tingkat kematian karena bunuh diri di Indonesia stabil di angka 3,07 orang per 100 ribu penduduk. Pada 2017, tingkat bunuh diri tertinggi terjadi pada penduduk berusia 70 tahun ke atas.
 
Pertanyaannya, kenapa orang bunuh diri? Perasaan tertekan berlebihan dapat menyebabkan seseorang mengalami depresi. Apabila seseorang mengalami depresi dan tidak ditangani, risiko bunuh diri bisa meningkat.
 
Pada 2016 diperkirakan terdapat 35 juta orang Indonesia mengalami gangguan jiwa jenis depresi. Jumlah yang besar, karena itu masalah depresi jangan dianggap enteng.
 
Selain depresi, skizofrenia merupakan jenis penyakit jiwa yang cukup banyak penderitanya di Indonesia. Ada yang menyebut jumlahnya 21 juta orang.
 
Menurut Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi skizofrenia di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga. Itu berarti, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga mengidap skizofrenia. Tertinggi terdapat di Bali dan DI Yogyakarta dengan masing-masing 11,1 dan 10,4 per 1.000 rumah tangga.
 
Hampir separuh (48,9%) penderita skizofrenia tidak meminum obat secara rutin. Sebanyak 36,1% penderita yang tidak rutin minum obat dalam satu bulan terakhir beralasan merasa sudah sehat. Sebanyak 33,7% penderita tidak rutin berobat dan 23,6% tidak mampu membeli obat secara rutin.
 
Penderita skizofrenia dapat disembuhkan. Contoh terbaik ialah John Forbesh Nash. Dia tetap dapat mengajar, melakukan riset, bahkan mendapat hadiah nobel untuk ilmu ekonomi pada 1994.
 
Kita pun mestinya dapat menyembuhkan orang sakit jiwa dengan membawanya ke ahlinya, psikiater. Bukan dengan memasungnya. Persoalan yang kita hadapi ialah keluarga enggan membawa anggota keluarganya ke psikiater, karena malu. Mari kita buang rasa malu, karena siapa pun yang bernama pasien, apa pun penyakitnya, mereka berhak untuk diobati dan disembuhkan.