Hari Anak Perempuan Internasional

Di berbagai negara, termasuk di Indonesia, hingga saat ini, anak perempuan masih menjadi anak yang terpinggirkan. Itulah sebabnya, PBB merasa perlu membuat hari khusus untuk anak-anak perempuan.

Hari khusus itu ditetapkan tanggal 11 Oktober dan diberi nama Hari Anak Perempuan Internasional. Melalui hari istimewa itu, kita diingatkan bahwa perjuangan anak perempuan untuk mempunyai hak yang sama dengan anak laki-laki masih jauh dari selesai.

Di rumah, anak perempuan harus selalu mengalah, bahkan menjadi korban eksploitasi. Dalam keluarga yang kurang beruntung, anak perempuan adalah yang pertama harus berhenti sekolah, sementara anak laki-laki terus menuntut ilmu.

Ketika keadaan keuangan terbatas, anak perempuan bukan saja yang pertama harus berhenti sekolah, melainkan anak perempuan pula yang harus bekerja mendukung ekonomi keluarga. Bahkan, anak perempuanlah yang menjadi tulang punggung keluarga.

Mereka masih anak-anak, di bawah umur, seharusnya tidak boleh bekerja. Faktanya mereka bekerja di pabrik, menjadi penjaga toko, pelayan di warung-warung, bahkan sampai ada yang dipaksa atau terpaksa menjadi penjual seks.

Perdagangan anak perempuan untuk dijadikan seks merupakan salah satu bisnis kejahatan terbesar di dunia. Secara global sebanyak 2 juta anak terlibat prostitusi. Kebanyakan (76%) bisnis seks ini dimulai dari internet. Dari setiap 3 anak korban perdagangan, 2 di antaranya perempuan dan 1 lelaki.

Tidak mudah bagi anak perempuan untuk melakukan perlawanan. Contoh dramatis ialah apa yang dilakukan Malala Yousafzai di Pakistan.

Gadis berusia 15 tahun itu sangat sadar akan haknya. Dengan caranya yang tidak kenal takut, dia menyatakan pendapatnya bahkan mempengaruhi gadis-gadis lain untuk menyuarakan sikap mereka dalam hal memperoleh pendidikan dan memperoleh kesempatan berkomunikasi.

Kegigihannya itu sampai menyebabkan pemerintah Taliban yang berkuasa di Pakistan merasa sangat terganggu. Akhirnya dalam suatu perjalanan, di dalam bus sekolah, Malala ditembak kaum Taliban. Untung saja, ia masih dapat diselamatkan.

Malala diterbangkan ke Inggris dan dibawa ke rumah sakit Queen Elizabeth Hospital di Birmingham. Di rumah sakit tersebut, Malala dioperasi untuk direkonstruksi tengkoraknya dan pendengarannya dikembalikan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 9 Oktober 2012. Enam bulan lamanya Malala dirawat di rumah sakit di Birmingham. Setelah pulih, gadis pemberani ini berpidato di hadapan Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, di New York. Peristiwa penting itu terjadi tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-16.

Yang menjadi topik pidatonya adalah hak-hak anak perempuan untuk memperoleh pendidikan dan perlawanan mereka terhadap terorisme dan kebodohan. Salah satu kalimatnya yang terkenal adalah “satu anak, satu guru, satu buku, satu pena bisa mengubah dunia”.

Setelah Malala selesai berpidato, semua hadirin termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, melakukan standing ovation bagi Malala. PBB pun lalu menetapkan tanggal 12 Juli sebagai Hari Malala, untuk diperingati sebagai Hari Perempuan dalam memperoleh pendidikan yang sama dengan siapa pun.

Kisah tentang Malala itu dibukukan oleh Malala bersama Christina Lamb dan diterbitkan pertama kali pada bulan Oktober 2013.

Hari Anak Perempuan Internasional merupakan kesempatan yang baik untuk mengampanyekan tentang hak-hak anak perempuan. Hak yang sama dengan siapa pun, di mana pun, termasuk di Indonesia.