Kekerasan Seksual Berbasis Budaya

 

Kajian Komnas Perempuan tentang Kekerasan terhadap Perempuan Berbasis Budaya menunjukkan bahwa kekerasan seksual yang terjadi di balik praktik tradisi tidaklah sebagai satu bentuk tunggal, tetapi meliputi bentuk kekerasan seksual lainnya yang saling berkelindan dengan jenis-jenis kekerasan seksual lainnya

Pemaksaan perkawinan terjadi dalam praktik tradisi dengan beragam bentuknya, yaitu antara lain: Pertama, Kawin Lily, di Nusa Tengara Timur. Jika suami meninggal lebih dulu, maka istri disarankan (baca: cenderung dipaksa) untuk menikah dengan saudara laki-laki dari suami yang sudah meninggal tersebut. Hal ini berlaku wajib kepada perempuan yang belisnya telah dibayarkan lunas. Pada banyak kasus, perempuan tidak bisa menolak, meskipun laki-laki tersebut juga sudah memiliki isteri, karena perempuan yang telah lunas belisnya diibaratkan sebagai ”milik” keluarga suami. Adanya penolakan rentan mengakibatkan bentuk kekerasan seksual yang lain, yaitu perkosaan oleh salah satu saudara laki-laki dari keluarga suami yang ingin menikahinya, di mana perkosaan terse…

Di wilayah Jawa, perkawinan untuk memelihara harta perkawinan juga terjadi ketika seorang isteri meninggal dunia. Suami tersebut biasanya dinikahkan dengan saudara perempuan kandung isteri, terutama adiknya, dan dikenal dengan ‘Turun Ranjang’. Tradisi ini berpotensi menjadi pemaksaan perkawinan, ketika adik yang dinikahi tersebut merasa ‘terpaksa’ untuk menikah meskipun ia tidak mencintai kakak ipar laki-lakinya itu.

Kedua, Kawin Cina Buta, di Provinsi Aceh. Perempuan harus melakukan hubungan seksual dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan selama laki-laki yang dibayar oleh suaminya yang meminta rujuk tidak mau menceraikannya. Jikapun akhirnya perempuan diceraikan, suaminya yang akan rujuk belum tentu menerimanya kembali

Ketiga, Kawin lari, misalnya yang dikenali dalam Suku Sasak Nusa Tenggara Barat, dimana laki-laki membawa lari perempuan yang ia sukai sekalipun perempuan tidak menyukainya, dan ia (lakilaki) akan dinikahkan dengan perempuan yang dibawa lari tersebut. Dalam tradisi yang meminta mas kawin atau uang gengsi yang tinggi, kawin lari dilakukan pihak laki-laki agar tidak terbebani dengan mas kawin. Hal ini di satu sisi rentan menimbulkan kekerasan terhadap perempuan karena selama pelarian perempuan dapat mengalami perkosaan dan kehamilan, sedangkan kehamilan tersebut tidak sah secara adat karena belum terlunasinya mas kawin yang diminta keluarga, dan pihak laki-laki dapat meninggalkan perempuan tersebut begitu saja.

Di Suku Sasak Nusa Tenggara Barat, prosesi merarik berpotensi menimbulkan kekerasan terhadap perempuan ketika dimanfaatkan laki-laki untuk dapat menikah dengan perempuan yang disukainya. Pada beberapa kasus yang terjadi, perempuan tidak dibawa ke rumah aman, atau rumah keluarga laki-laki dari pihak bapak atau ibu, tetapi dibawa ke tempat lain dan mengalami perkosaan sehingga terpaksa menikah dengan laki-laki yang melarikannya, dan lakilaki tersebut menganggap telah melakukan “merarik”

Keempat, Pemaksaan perkawinan karena sudah terjadi kehamilan sekalipun akibat perkosaan. Dalam sebagian besar tata aturan adat, perempuan korban perkosaan harus menikah dengan pelaku pemerkosanya.126 Dalam tradisi tertentu, perkawinan itu dilakukan untuk menyelamatkan desa dari cemar dan menghindarkan sanksi adat terhadap anak yang dilahirkan sebagai anak haram.127 Hal ini menyebabkan korban mengalami trauma yang berkepanjangan karena membiarkan korban mengingat kembali peristiwa perkosaan yang sangat ingin dilupakannya dan bahkan seperti mengalami perkosaan yang berulang.

Kelima, Kawin Grebeg/Tangkap/Maghrib. Tradisi ini dikenal dalam komunitas budaya yang hukum adatnya mengatur larangan laki-laki dan perempuan berada di tempat dan waktu tertentu. Jenis kawin ini dikenal dengan kawin grebeg atau kawin tangkap atau kawin maghrib atau mudemu dalam bahasa Aceh. Mudemu dalam bahasa Aceh memiliki makna bertemunya perempuan dan laki-laki. Melakukan Mudemu adalah aib. Namun, tradisi ini bisa disalahgunakan oleh laki-laki ketika perempuannya tidak mau diajak menikah. Misalnya, pihak laki-laki meminta bantuan anak-anak muda sebagai temannya di kampung untuk menangkap mereka —laki-laki dan perempuan yang melakukan mudemu– untuk kemudian dinikahkan. Pada banyak kasus, karena dianggap aib, perempuan terpaksa menikah dengan laki-laki tersebut

Hal yang sama juga terjadi di Bengkulu yang mengenalnya sebagai kawin grebeg. Kawin grebek ini sering digunakan oleh laki-laki yang menyukai perempuan tapi perempuan tersebut menolaknya. Laki-laki tersebut membuat cara bagaimana agar dapat membawa perempuan yang disukainya itu, dan ia meminta teman-temannya untuk menangkap ketika mereka sedang berdua. Setelah ditangkap, laki-laki itupun akan diserahkan kepada ketua adat dan akan segera dinikahkan dengan perempuan yang disukainya. Pada banyak kasus, perempuan mengalami pemaksaan untuk dikawinkan, namun ada juga yang menerima paksaan tersebut dengan cepat karena menganggap aib. Di Bengkulu, kawin karena digerebek ditemui pula ketika diketahui ada laki-laki dan perempuan yang kumpul pada malam hari, maka mereka akan segera digerebek oleh warga dan harus dinikahkan.

Padang Sumatera Barat juga mengenal istilah kawin tangkap. Kasus terjadi adalah ada seorang laki-laki diketahui sering mengunjungi perempuan, lalu mereka ditangkap untuk segera saat itu juga dinikahkan

Sementara Suku Sasak mengenal istilah kawin magrib. Pada beberapa komunitas, praktik ini masih banyak terjadi walaupun jam magrib bergeser menjadi jam sembilan atau sepuluh malam, tergantung kesepakatan masyarakat. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, hukum adat yang berlaku atau dikenal awig-awig melarang anak laki-laki dan perempuan berduaan. Dengan perkembangan zaman, di perkotaan, awig-awig ini diberlakukan di rumah atau kamar sewaan anak-anak muda yang sedang bersekolah atau bekerja, melarang laki-laki dan perempuan berduaan di kamar dalam pintu tertutup. Jika mereka melanggar, maka hukumannya akan dikawinkan. Kadangkala, membawa anak perempuan sampai tengah malam menjadi strategi bagi mereka yang tidak mendapat restu dari orang tua perempuan

Keenam, Perkawinan dini atau perkawinan usia anak. Bentuk ini dikategorikan pemaksaan perkawinan karena anak bukanlah orang yang mampu memberikan persetujuan penuh terutama atas peristiwa perkawinan yang ke depan akan sangat mempengaruhi masa depannya. Perkawinan usia anak juga dapat dikategorikan sebagai perkosaan yang tersembunyi di balik institusi perkawinan mengingat segala bentuk hubungan seksual dengan anak harus dinyatakan sebagai tindak pidana

Ketujuh, Cerai gantung. Di sebuah tradisi di Indonesia Timur, laki-laki tidak mengabulkan permintaan cerai dari istri ini karena laki-laki tidak ingin mengeluarkan banyak uang dan ingin lepas dari tanggung jawab sebagai seorang suami kepada istri. Karenanya, banyak laki-laki yang menggantung status pernikahan sampai istrinya menikah dengan orang lain. Dengan cara tersebut, laki-laki dapat lepas tanggung jawabnya sebagai suami tanpa harus melalui proses perceraian yang mengeluarkan biaya (uang).

Selain itu, terdapat Praktik Tradisi Bernuansa Seksual. Pertama, seperti Ritual untuk Pembuktian Keperawanan. Tradisi ini banyak terjadi antara lain di daerah pedalaman di wilayah Aceh Gayo dan juga Aceh Pesisir sebagai bagian dari ritual perkawinan. Pengantin perempuan disodorkan untuk memakai kain putih saat melakukan hubungan seksual dengan suaminya untuk yang pertama kalinya. Apabila tidak berdarah, maka perempuan tersebut boleh diceraikan. Padahal secara kesehatan reproduksi, perawan tidaknya perempuan tidak ditentukan oleh darah merah yang harus keluar. Di lain pihak, laki-laki tidak diperiksa keperjakaannya

Kedua, Pembolehan Hubungan Seksual Bukan Dengan Pasangan Saat Masa Melahirkan. Tradisi ini ditemukan di Muna, Sulawesi Tenggara. Saat proses perawatan ibu melahirkan sampai 100 hari, suami dan isteri dilarang melakukan hubungan seksual dan melakukan pekerjaan berat. Jika aturan tersebut dilanggar, maka perempuan dan laki-laki, yang menjadi suami isteri, akan terkena penyakit “nokokombo” yang akan mempercepat kematian ibu melahirkan. Dalam masa ini, ibu mertua atau ibu perempuan yang melahirkan memberikan kode pada laki-laki, yang menjadi suami dari anak atau mantu perempuan, boleh melakukan hubungan seksual dengan perempuan lain, daripada berhubungan seksual dengan istrinya selama masa tersebut. Kondisi ini jelas sangat merugikan perempuan, baik sebagai isterinya maupun perempuan lain yang dijadikan pasangan seksual suami yang istrinya melahirkan

Ketiga, Sunat Perempuan. Praktik sunat perempuan mempengaruhi kesehatan reproduksi perempuan, apalagi jika menggunakan metode pemotongan hingga klitoris. Sunat Perempuan, yang dilakukan dengan cara memotong kulit klitoris dapat mengganggu kepuasan perempuan ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Klitoris merupakan bagian dari genetalia externa, yang merupakan bagian luar alat kelamin sangat sensitif  dan erotik dan memiliki hubungan dengan bagian dari alat kelamin lainnya yang juga sensitive seperti labia majora dan labia minora. Jika klitoris dipotong atau dihilangkan tentulah akan menghilangkan peran pentingnya dalam mendapatkan kenikmatan seksual perempuan pada saat melakukan hubungan seksual.

Pengerukan dan pembersihan vagina atau cara yang bersifat simbolik pun yang tidak menyebabkan berdarah, sudah merupakan kekerasan seksual kepada perempuan. Karena perempuan dikontrol tubuhnya atas nama baik keluarga atau penjaga kehormatan keluarga dan komunitasnya. Alat yang digunakan pun tidak dapat dijamin secara medis dari segi kebersihan, dan dapat menyebabkan penyakit di wilayah seksual perempuan

Keempat, Incest. Hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang memiliki garis keturunan sedarah adalah incest, termasuk yang bernaung di bawah ikatan perkawinan. Seperti tradisi Sambung Darah, yaitu tradisi di mana perempuan harus menikah dengan laki-laki dalam kelompok keturunannya, dan memiliki penghargaan yang tinggi karena telah menyambungkan darah keturunan. Sambung Darah ditemukan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, di mana laki-laki atau perempuan sama-sama memiliki hubungan darah dari pihak ibu. Perkawinan sambung darah ini disebut dengan Kawin Tungku. Tungku Cuu, adalah perkawinan antara anak laki-laki ibu dengan anak perempuan dari saudara perempuan ibu. Praktik ini dianggap tabu incest, karena hubungan kerabatnya sepupu sekali. Gereja setempat sebenarnya melarang praktik perkawinan sambung darah ini, karena dianggap sebagai incest. Namun, hingga saat ini, perkawinan sambung darah masih tetap dilakukan.