HARI SANTRI NASIONAL

22 Oktober 2019, menjadi tahun keempat keluarga besar santri dan seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Santri. Melalui Kepres No.22 Tahun 2015, negara memberikan penghormatan untuk peran santri dalam berjuang menegakkan dan merawat NKRI, yang ditandai dengan peristiwa monumental Resolusi Jihad Kyai Haji Hasyim Asyhari untuk melawan agresi yang hendak mengembalikan penjajahan kolonial Belanda membonceng pasukan sekutu pada tahun 1945 silam. Penguatan dukungan negara terhadap santri dilanjutkan dengan disahkannya UU Pesantren yang disahkan parlemen bersama pemerintah pada tahun ini. Diharapkan melalui UU ini, kontribusi dan peran santri akan terus meningkat melalui fungsi dakwah, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Pada awalnya, para santri ini menerima pendidikan tentang Islam dan keislaman di pesantren. Pondok pesantren ini telah ada di Aceh sejak sebelum abad ke 12, dan dikenal dengan istilah Dayah. Pesantren bisa dikatakan sebagai kawah candradimuka bagi kaum santri. Untuk bisa benar-benar memusatkan perhatian pada pelajaran dan pengajaran agama Islam, para santri ini lalu tinggal mondok di pesantren sampai mereka menuntaskan pendidikannya. Maka istilah pondok pesantren atau padepokan pesantren mulai dipakai untuk menyebut tempat para santri memperdalam agama Islam. Sedangkan istilah santri sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti shastri, yang mempunyai akar kata yang sama dengan sastra. Dan artinya, kitab suci, agama dan pengetahuan.

Lewat hari yang baik ini, penting bagi kita untuk merefleksikan pesan sejarah dan melestarikan tegaknya dasar perjuangan santri untuk merawat ajaran Islam ahlussunah wal jama’ah, atau Islam yang bermahdzab. Santri harus menjadi garda terdepan dalam menjaga jati dirinya dan menjadi teladan di masyarakat sebagai muslim yang memiliki akhlak mulia, dengan memberikan penghormatan pada para kyai dan ulama serta menjunjung tinggi nilai yang diajarkan para leluhur termasuk ajaran Wali Songo.

Sejarah menceritakan kisah-kisah heroik tampilnya sosok santri dalam peristiwa-peristiwa besar sejak pra kemerdekaan bangsa ini. Adalah Pangeran Diponogoro, yang bernama Abdul Hamid, santri yang “mondok” pada Kyai Hasan Besari Tegal Sari, dikenal secara luas sebagai panglima yang gigih menghadapi penjajah dalam Perang Jawa. Di masa kini, Santri harus mengambil peranan aktif sebagai perisai terdepan dalam menghadapi badai ideologi luar yang bertujuan meruntuhkan tatanan kebangsaan, adab kesantunan dan keluhuran pekerti warisan budaya bangsa serta ajaran Islam yang telah diwariskan para Wali Songo yang bersanad jelas hingga Nabi Muhammad SAW. Santri selalu memegang teguh fatsun kehidupan.

Jati diri santri yang teguh memegang tradisi dan nilai luhur budaya nusantara sangat penting di tengah derasnya informasi di era revolusi gelombang keempat (atau revolusi 4.0). Akhlak santri harus mencerminkan nilai ajaran Islam Wasathiyah yang memiliki dimensi toleransi, mengedepankan musyawarah, restoratif yang mengakomodasi perubahan zaman serta bersenyawa dengan semangat kebangsaan. Santri harus memiliki kemampuan kreasi, inovatif dan adaptif terhadap tantangan perubahan yang dinamis.

Santri harus menjadi contoh nyata model moralitas dan akhlak berlandaskan nilai spiritualitas. Dirinya harus mampu dan berdaya dalam merestorasi masyarakat terdekatnya lewat dakwah maupun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejatinya, seorang Santri harus menampilkan wajah Rahmatan Lil ‘Alamin.

Menjadi tanggung jawab kita Bersama, kaum Santri Nusantara, untuk sekuat-kuatnya berjihad meneruskan cita-cita Resolusi Jihad membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia yang beradab, berkeadilan sehingga terwujud negeri yang penuh keberkahan dan pengampunan Allah SWT.