Peningkatan Kualitas Anak, Perempuan, dan Peran Pemuda

Intervensi berdasarkan kebutuhan yang sesuai dengan tahap kehidupan dan karakteristik individu diperlukan dalam mewujudkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. Anak, perempuan, dan pemuda merupakan kelompok penduduk yang memiliki kriteria spesifik sehingga dibutuhkan pendekatan yang berbeda demi menjamin kualitas hidup mereka.

Pemenuhan hak dan perlindungan anak penting untuk memastikan anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Pemberdayaan dan perlindungan perempuan menjadi faktor penting untuk memastikan keterlibatan mereka dalam setiap sektor pembangunan. Sementara itu, pembangunan pemuda memiliki arti penting bagi keberlangsungan suatu negara-bangsa karena pemuda adalah penerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan salah satu penentu optimalisasi bonus demografi.

Pemenuhan hak dan perlindungan anak, pemberdayaan dan perlindungan perempuan, serta pembangunan pemuda belum berjalan optimal. Pemenuhan hak anak dalam kondisi tertentu masih memerlukan upaya yang besar. Hanya sekitar 13 persen anak didik lapas yang mendapatkan pendidikan formal (Kementerian Hukum dan HAM, 2014) dan sekitar 16 persen anak belum memiliki akta kelahiran (Kemendagri, 2018).

Selain itu, tindak kekerasan terhadap anak masih terjadi. Hal ini ditunjukkan dari adanya sekitar 23 persen pelajar pernah terlibat perkelahian (SNKBS, 2017), 22,91 persen perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun (Susenas, 2017), dan meningkatnya laporan cyber crime yang melibatkan anak dari 608 kasus di tahun 2017 menjadi 679 kasus di tahun 2018 (KPAI).

Selanjutnya, perilaku berisiko perlu ditangani sedini mungkin untuk mencegah dampak jangka panjang bagi anak. Saat ini terdapat sekitar 9,1 persen penduduk usia 10-18 tahun merokok (Riskesdas, 2018) dan sekitar 1,9 persen pelajar di bawah usia lima belas tahun yang menggunakan narkotika dalam satu tahun terakhir (SPPGN, 2016).

Kasus kekerasan terhadap perempuan masih tinggi. Sekitar 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun mengalami kekerasan oleh pasangan dan selain pasangan selama hidup mereka, sekitar 1 dari 10 diantaranya mengalami kekerasan dalam 12 bulan terakhir (SPHPN 2016, BPS).

Ketimpangan gender masih terlihat dari persentase kepala rumah tangga perempuan yang mengakses kredit lebih rendah dibandingkan laki-laki (1,48 persen perempuan dan 2,38 persen laki-laki) (Susenas, 2015), Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) didominasi oleh laki-laki (82,69 persen laki-laki dan 51,88 persen perempuan) (Sakernas, 2018), serta keterwakilan perempuan secara kuantitas dan kualitas di lembaga legislatif masih rendah (17, 32 persen di DPR dan 26 persen di DPD pada tahun 2014; sedangkan di tahun 2019 anggota DPR dari perempuan sebanyak 20,87 persen dan 30,14 persen untuk anggota DPD RI).

Peran dan partisipasi pemuda dalam pembangunan juga belum optimal. Hanya 6,27 persen pemuda yang pernah memberikan saran/pendapat dalam kegiatan pertemuan dan hanya 6,36 persen terlibat aktif dalam kegiatan organisasi (Susenas, 2018).

Sebagian pemuda cenderung memiliki perilaku berisiko yang berakibat pada terjadinya cidera, penyakit, dan nonproduktivitas. Penyalahguna narkoba usia kurang dari 30 tahun masih lebih tinggi dari usia lebih dari 30 tahun, yaitu 3,0 berbanding 2,8 (BNN, 2017). Sekitar 63,8 persen jumlah infeksi HIV baru pada usia rentang usia 15–19 dan sekitar 56,5 persen pada rentang usia 20–24 tahun (Kemenkes). Selanjutnya, sekitar 26,34 persen pemuda merokok (IPP, 2018). Gangguan mental juga menyebabkan disabilitas (nonproduktivitas) yang cukup tinggi, terutama pada rentang usia 10- 29 tahun (IHME, 2017).

Saat ini Indeks Pembangunan Pemuda sebesar 51,50 (2018). Diharapkan terdapat kenaikan sebesar 57,67 pada tahun target 2024. Bersamaan dengan hari Sumpah Pemuda ke-91 yang bertema “Bersatu Kita Maju”, maka perlu mempertegasi kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda dengan mewujudkan persatuan yang sesuai dengan cita-cita bangsa.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi ibarat dua mata pisau. Satu sisi ia memberikan jaminan kecepatan informasi sehingga memungkinkan para pemuda untuk meningkat kapasitas pengetahuan dalam pengembangan sumber daya serta daya saing. Namun pada sisi yang lain perkembangan ini mempunyai dampak negative, informasi-informasi yang bersifat destruktif mulai dari pornografi, narkoba, pergaulan bebas hingga radikalisme dan terorisme yang masuk dengan mudahnya apabila pemuda tidak dapat membendung dengan filter ilmu pengetahuan dan karakter positif dalam berbangsa dan bernegara

Pemuda yang memiliki karakteristik yang Tangguh adalah pemudah yang memiliki karakter moral dan karakter kinerja, pemuda yang beriman dan bertaqwa, berintegritas tinggi, jujur, santun, bertanggung jawab, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan tuntas. Pemuda juga harus memiliki kapasitas intelektual dan skill kepemimpinan, kewirausahaan, dan kepeloporan yang mumpuni. Pemuda harus memiliki inovasi agar mampu berperan aktif dalam kancah internasional

Tema Bersatu Kita Maju sesungguhnya diperuntukkan untuk seluruh elemen bangsa, tetapi bagi pemuda menjadi keharusan karena di tangan pemuda, Indonesia menjadi lebih maju. Pemuda untuk Indonesai maju adalah pemuda yang memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan dunia.

Pada saat ini di belahan dunia telah lahir generasi muda yang memiliki pola pikir yang serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan gramatik. Canggihnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta mudahnya akses terhadap media sosial, telah menjelma menjadi tempat favorit berkumpulmya anak-anak muda lintas negara, lintas budaya, lintas agama, dan interaksi mereka di media sosial berjalan real time 24 jam.

Di sinilah diharapkan peran pemuda dapat bersaing dalam bentuk apapun tentunya dalam hal yang positif. Pemuda adalah masa depan bangsa dan negara, pemuda juga harapan bagi dunia. Pemuda Indonesia harus maju dan berani menaklukan dunia untuk dapat memunculkan tokoh-tokoh dunia yang mendunia saatnya nanti.

Gerakan revolusi mental menemukan relevansinya, dengan pembangunan karakter yang kuat, Tangguh dan kokoh untuk ikut serta dalam percaturan pemuda di dunia. Saatnya pemuda harus bertahan dan menghadapi dampak negative dari modernisasi dan globalisasi. Pemuda harus mampu memberi warna untuk mengubah dunia dengan tekad dan semangat dan tentunya didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemajuan tidak akan hanya dapat tercapai dalam arti yang sesungguhnya kalau masa depan itu hanya dipandang sekedar sebagai proses lanjut dari masa kini yang akan tiba dengan sendirinya. Sangat penting bagi generasi muda untuk merespon kemajuan dengan kearifan menghargai keluhuran perjuangan dari generasi sebelumnya. Tentunya tanpa terjebak dalam kejayaan dan romantisme masa lalu. Selain itu perlunya kenyataan-kenyataan masa kini sehingga membuat pemuda untuk sanggup keluar dalam menatap masa depan.

Untuk itu pemuda Indonesia perlu meyakinkan diri bahwa dunia menunggu perjuangan, ide-ide, tekad, dan cita-cita, pengorbanan dan perjuangan dalam mengubah dunia.

Pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur, menuju masa depan. Saat ini tugas pemuda adalah harus sanggup membuka pendangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik.

Semangat para pemuda dalam menatap dan ikut membangun dunia harus terus menjadi obor penyemangat bagi pengabdian pemuda Indonesia dalam ikut serta berpartisipasi mengangkat bangsa dan tanah air tercinta di kancah dunia.