Pasar dan Produk Kayu 2018

Indonesia perlu mengoptimalkan peluang pasar kayu dan produk kayu yang kian terbuka di tengah tingginya tensi persaingan dagang antara Amerika Serikat dan China. Ketersediaan bahan baku dan peningkatan daya saing menjadi perhatian utama.

Sejak Donald Trump menjabat sebagai Presiden AS, kebijakan perdagangan luar negeri Paman Sam kian mengarah ke proteksionisme, termasuk dengan salah satu mitra dagang utamanya, yakni China. Kayu dan produk kayu merupakan komoditas yang ikut terkena imbas.

Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce) mengumumkan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) setelah investigasi yang dilakukan membuktikan adanya praktik dumping oleh produsen kayu lapis China, yang membuat produsen kayu lapis AS mengalami kerugian. Berdasarkan putusan Depdag AS, lebih dari 400 unit industri kayu lapis China dikenakan BMAD sebesar 183,3%.

Putusan ini mulai berlaku terhitung 4 Januari 2018. Selain BMAD, pemerintah AS juga mengenakan bea masuk imbalan untuk produk kayu lapis China karena dinilai mendapat subsidi yang mengakibatkan produsen kayu lapis AS menderita kerugian. Sebanyak 60 industri kayu di China dikenakan bea masuk imbalan sebesar 194,9%, sementara dua industri lainnya dikenakan 22,9%.

Pada perkembangan terbaru, China tak tinggal diam dengan langkah-langkah restriktif yang diambil AS. Negeri Tirai Bambu itu. Beijing mengumumkan memberlakukan tarif balasan untuk produk impor asal AS yang senilai US$60 miliar jika AS tetap memberikan tarif sebesar 10% untuk produk impor asal China senilai US$200 miliar.

China juga terus berupaya menggairahkan konsumsi domestiknya di tengah-tengah perlambatan ekonomi dan meningkatnya eskalasi perang dagang dengan Amerika Serikat. Pemerintah China sedang mempertimbangkan untuk memangkas tingkat rata-rata tarif pajak impor dari mitra dagang utamanya. Langkah itu diambil China untuk mengurangi biaya yang dibebankan kepada konsumen.

Pada Juli, Negeri Panda tercatat telah memangkas tarif impor untuk sejumlah produk konsumen yang jumlahnya mencapai 1.500 produk, yang terdiri dari produk kosmetik hingga perlengkapan rumah tangga. Adapun, tarif rata-rata most-favored nation (MFN) yang ditetapkan China saat ini berada di level 9,8%. Status tarif MFN tersebut diberlakukan China kepada seluruh negara kecuali jika ada kesepakatan khusus antara China dengan negara tersebut. Oleh karena itu, tarif perdagangan dengan AS juga diatur di dalam status tarif MFN.

Ketegangan dua pasar terbesar dunia ini merupakan peluang yang bisa dioptimalkan oleh pelaku usaha Indonesia. Hal ini secara tidak langsung menjadi pintu masuk ke pasar ekspor AS yang selama ini dikuasai oleh kayu dari China. Produk kayu olahan unggulan ekspor tahun 2018 masih sama dengan tahun 2017 yakni pulp, kertas, dan panel.

Menjelang berakhirnya kuartal I/2018 telah terjadi kenaikan pengiriman kayu olahan hingga 28% menjadi US$3,03 miliar. Beralihnya para pembeli kayu olahan dari China ke Indonesia diharapkan dapat dipertahankan hingga akhir 2018. Para produsen juga diharapkan lebih ekspansif memasarkan produknya ke pasar yang sedang terbuka itu

Peluang mengisi ceruk pasar plywood general purposes sebenarnya sudah mulai ditangkap industri di Indonesia, terlihat dari data awal 2018 yang menunjukkan Indonesia sudah menggantikan posisi China sebagai eksportir plywood terbesar ke Negeri Paman Sam.

Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS (US Department of Commerce), Indonesia mengekspor plywood 56.212 m3 selama JanuariFebruari, disusul China 36.444 m3 dan Rusia 29.802 m3. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, volume pengapalan Indonesia melesat 29%, China jatuh 82%, dan Rusia turun 1%.

Jika melihat data perkembangan itu, China awal tahun lalu masih menempati ranking pertama, diikuti Indonesia dan Rusia di urutan kedua dan ketiga. Dominasi China di AS menancap karena material plywood China berasal dari hutan tanaman sehingga harganya kompetitif. Adapun bagi Indonesia, AS adalah pasar plywood terbesar kedua setelah Jepang dengan volume ekspor 48.127,7 ton selama JanuariFebruari berdasarkan data BPS. Sebelum 2018, ekspor plywood Indonesia ke AS didominasi produk premium untuk karavan yang masih menggunakan kayu berkualitas tinggi dari hutan alam

Kurangnya ketersediaan bahan baku berupa kayu sengon menjadi tantangan bagi pengusaha kayu Indonesia. Indonesia dapat merebut kue pasar plywood China di Negeri Paman Sam yang sebesar 2 juta m3 per tahun meskipun sulit untuk menguasai seluruhnya

Pasalnya, beberapa negara menunjukkan ambisi yang sama, seperti Malaysia, Vietnam, dan sebagian Amerika Latin, setelah plywood asal Negeri Tirai Bambu mahal karena tindakan antidumping dan tindakan imbalan AS.

Pabrik-pabrik plywood skala kecil dan menengah di Jawa kini sedang mengurus sertifikasi standar emisi formaldehida California Air Resources Board (CARB) dan Environmental Protection Agency (EPA) agar dapat masuk ke pasar AS.

Volume produksi kayu bulat dari hutan alam dan hutan tanaman [pada kuartal I/2018] mencapai 10,62 juta m3, hanya menurun tipis dibandingkan dengan kuartal I/2017 yang sebesar 10,95 juta m3.

Untuk meningkatkan daya saing produk dapat melalui penerapan sertifikasi Ramah Lingkungan. Para pelaku usaha dihimbau untuk menerapkan sistem ekolabel yang dapat memberikan pengaruh terhadap pola produksi dan konsumsi ke depannya yang bisa dimulai dari bahan baku produksi, serta saat pendistribusian, bahkan juga setelah penggunaan produk yang ada

Sekitar 7,3 juta m3 dari posisi standing stock sekitar 11 juta m3, masih ada peluang peningkatan produksi kayu bulat hutan alam. Dengan luas areal HTI 10,9 juta ha, maka peluang produksi kayu dari hutan tanaman sekitar 40 juta m3

Ini juga menjadi salah satu syarat yang perlu dimiliki karena telah banyak negara yang mengimpor kayu menghendaki sertifikat ramah lingkungan seperti layaknya ekolabel. Perlu memberlakukan sistem ini kepada para pelaku bisnis karena sebagai produsen yang menghasilkan produk atau barang wajib mengetahui produk mana saja yang tergolong ke dalam ramah lingkungan, dengan begitu saat memproduksi jadi lebih mengutamakan lingkungan juga.

Tujuan sistem ini adalah untuk menjelaskan kepada masyarakat mana saja yang termasuk produk ramah lingkungan dengan yang tidak ramah terhadap lingkungan. Dengan diberlakukannya sistem ekolabel maka nantinya produk atau barang yang tergolong dalam memberikan efek terhadap lingkungan akan mendapatkan sertifikat penghargaan yang dapat berguna dalam jangka waktu antara lima sampai sepuluh tahun ke depan

Sertifikasi merupakan ciri pertumbuhan sebuah industri, sehingga semua produk (barang dan jasa) dituntut untuk memiliki kualitas. Meningkatkan daya saing sebuah industri diharapkan dapat merubah pola konsumsi dan produksi yang dapat mengarah menjadi pola produksi dan konsumsi yang berkelanjutan (Sustainable Consumption and Production/SCP).

Dari sisi produsen, sertifikasi memberikan informasi kepada konsumen bahwa produsen telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan mutu termasuk upaya pengelolaan lingkungan. Dari sisi konsumen, sertifikasi memberikan rekomendasi pilihan bagi konsumen untuk memilih produk yang lebih bermutu dan ramah lingkungan

Tingkat kepedulian untuk menghasilkan barang yang sifatnya ramah lingkungan semakin digalakkan oleh Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan, Kementerian LHK dengan mensosialisasikan secara intens kepada para pelaku bisnis untuk menghasilkan produk yang ramah terhadap lingkungan

Kementerian LHK menyatakan optimistis bahwa ekspor produk kayu nasional pada 2018 akan meningkat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir ekspor produk kayu nasional cenderung mengalami peningkatan, misalnya pada 2012 sebesar US$6 miliar meningkat menjadi US$11 miliar pada 2017. Memasuki 2018, pada Januari saja ekspor produk kayu telah menghasilkan sebesar US$1 miliar, sampai akhir 2018 bisa mencapai US$12 miliar

Sementara itu, data APHI menyebutkan, kinerja ekspor produk kayu nasional selama lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang mana pada 2012 sebanyak US$10,02 miliar, naik menjadi US$10,77 miliar pada 2014, kemudian meningkat lagi menjadi US$10,94 miliar pada 2017. Komoditas produk kayu yang diekspor meliputi kertas, kayu lapis, bubur kertas (pulp), furnitur kayu, kayu olahan, serpih kayu, kerajinan kayu, veneer, bangunan prefeb, partikel board dan produk kayu lainnya