Hari Guru Nasional, Pahlawan tanpa Tanda Jasa

Guru mempunyai tugas mulia. Tugas itu ialah turut mempersiapkan masa depan anak manusia.

Kata John Dewey, jika kita mengajar murid sekarang seperti yang kita ajarkan kemarin, kita merampok masa depan mereka.

John Dewey adalah pembaharu pendidikan Amerika Serikat yang gagasan-gagasannya juga berpengaruh dalam reformasi sosial. Dia salah seorang sarjana Amerika yang sangat terkemuka pada belahan pertama abad 20.

Gagasannya yang dikutip di atas masih tetap relevan di abad 21. Hal itu berarti guru ialah orang pertama yang tiada henti belajar.

Turut menyiapkan masa depan anak manusia berarti juga menyemai nilai-nilai yang kiranya ‘tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas’.

Guru dalam kultur Jawa dibahasakan sebagai ‘digugu lan ditiru’, orang yang dipercaya dan diikuti. Jadi tanggung jawabnya bukan hanya mentransfer pengetahuan, melainkan juga mendidik budi pekerti. Kecerdasan plus karakter, kata Martin Luther King Jr, itulah tujuan sejati pendidikan.

Mengacu pada pengertian guru itu jelaslah seorang guru bertanggung jawab untuk menjadikan peserta didiknya agar menjadi individu yang yang berkualitas dilihat dari sisi intelektual maupun akhlak. Jelaslah pekerjaan dan tanggung jawab seorang guru sangatlah kompleks. Karena itu seorang guru pun dituntut mempunyai kemampuan yang kompleks pula. Bayangkan saja, dalam sebuah kelas, kemampuan seorang peserta didik tidaklah sama dalam menyerap pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu yang sangat lama dalam menangkap pelajaran, tetapi ada pula yang sekali mendengar, dia sudah dapat menangkap apa yang diajarkan.

Di dalam kelas murid pun beragam sikapnya, kepribadiannya, latar belakangnya, minatnya. Seorang guru dituntut untuk mampu mengatasi semua perbedaan itu.

Terutama pada kelas pengajaran dini, setiap murid perlu didekati dengan cara yang berbeda, sesuai dengan sifat, sikap dan kemampuan siswa. Luar biasa kepekaan dan energi seorang guru.

Demikianlah seorang guru dituntut berkemampuan mengajar dan mendidik. Ilmu mendidik lebih sulit daripada ilmu mengajar. Dalam mengajar ada ilmu pengetahuan yang ditularkan guru. Ada buku sebagai sarana belajar. Tidak demikian pada ilmu mendidik.

Yang dihadapi guru sebagai pendidik lebih pada diri pribadi murid/siswa agar menjadi diri yang berkarakter.

Sewajarnyalah bangsa Indonesia memberi penghargaan yang istimewa bagi para guru yang telah berjuang untuk kemajuan bangsa Indonesia melalui pendidikan. Para pahlawan tanpa tanda jasa ini mempersembahkan hidupnya demi kepentingan pengajaran dan pendidikan.

Hari Guru pun yang dirayakan tanggal 25 November, telah diputuskan Presiden Soeharto, sebagai Hari Guru Nasional. Pada tahun 2019 ini, Hari Guru Nasional bertemakan “Guru Penggerak Indonesia Maju”. Sekolah dianjurkan untuk menyelenggarakan upacara penaikan bendera sebagai penghargaan bagi para guru.

Perayaan ini diadakan setiap tahun sejak 1994, melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994, bersamaan dengan Hari Ulang Tahun PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia).

Dalam kehidupan di dunia ini, sebenarnya manusia dituntut untuk terus belajar seumur hidup. Sebab ilmu berkembang dan zaman berubah. Jika kita tidak mau belajar, maka kita akan ketinggalan ‘zaman’, bahkan ‘tergilas’ oleh perubahan ‘zaman’. Contohnya, di zaman ini, ketika ilmu dan teknologi berkembang dengan sangat cepat.

Di Indonesia kita mengenal beberapa tokoh pendidik yang telah mempelopori dan memancangkan pilar-pilar pendidikan. Mereka adalah Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kuddus dan beberapa yang lain.

Dari para tokoh itu kita menyadari betapa pentingnya peran guru. Terutama guru yang benar-benar menjiwai pekerjaannya. Sayangnya bagi kebanyakan guru, hal ini tak mudah dilaksanakan karena gaji mereka yang jauh dari memadai. Bagaimana mereka dapat fokus memberikan perhatian pada tugas mengajar dan mendidik bila masih harus mencari tambahan untuk menutup kebutuhan hidupnya?

Sungguh memprihatinkan kehidupan para pahlawan tanpa tanda jasa ini.
Merupakan pekerjaan rumah yang luar biasa bagi kita semua untuk membenahi pendapatan guru sebagaimana layaknya profesional yang berdedikasi di bidangnya.