Hari Kaum Difabel Internasional 2019, Semangat Menikmati Kehidupan

a95cf187-f1f9-4398-a2d3-756e5cd995adDalam hal menegakkan hak-hak kaum difabel, rasanya kita perlu koreksi diri. Berbagai bangsa di dunia sudah lebih dulu mempunyai perhatian khusus bagi kaum difabel. Sudah lama sekali mereka menyediakan berbagai sarana buat mereka yang kurang beruntung ini.

Kenyataannya, kita belum ‘semaju’ mereka. Karena itu, baiklah Hari Kaum Difabel Internasional yang dirayakan setiap tanggal 3 Desember, kita jadikan hari untuk mengkritisi diri.

Perayaan Hari Kaum Difabel disponsori PBB sejak tahun 1992. Tujuannya untuk mengembangkan cakrawala masyarakat mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan kehidupan kaum difabel. Selain itu, juga memberikan dukungan kepada difabel dalam meningkatkan martabat, hak, dan kesejahteraan.

Pada awalnya, istilah yang digunakan untuk mereka ini ialah penyandang disablitias. Dalam perjalanannya, istilah tersebut diganti dengan sebutan difabel.

Ada perbedaan mendasar dalam pengunaan istilah ini. Penyandang disabilitas dimaksud bagi mereka yang menjalani kehidupan dengan kondisi cacat tubuh atau mental, sementara difabel berarti different ability (kemampuan berbeda).

Dalam menjalankan akitivitas, kaum difabel belum tentu penyandang cacat. Difabel ditujukan bagi mereka yang mempunyai kemampuan berbeda dalam menjalankan akitivitasnya sehari-hari.

Di Indonesia, Hari Kaum Difabel baru diakui secara resmi pada tahun 1997, melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang kaum difabel yang bertujuan:

• Mengupayakan peningkatan kesejahteraan sosial para penyandang cacat berlandaskan Undang-undang Dasar 1945.
• Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan hak dan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan seperti saudara-saudaranya yang tidak mempunyai perbedaan cara dan aktivitas dalam menjalani kehidupan.

DPR RI menilai Undang-undang Nomor 4 Tahun 1997 itu sudah tidak sesuai lagi dengan paradigma terkini mengenai kebutuhan difabel. Dalam rapat paripurna tanggal 17 Maret 2016, DPR menyetujui RUU Penyandang Disabilitas (Difabel).

Pada 15 April 2016, Presiden Jokowi mensahkan RUU itu menjadi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Dalam UU itu, kaum difabel mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan masyarakat umum. Akan tetapi, dalam kenyataan mereka masih saja mengalami diskriminasi. Entah oleh sekolah, atau dunia kerja.

Presiden Jokowi memberi contoh yang dipuji publik. Presiden mengangkat Surya Tjandra, politikus PSI, seorang difabel menjadi Wakil Menteri ATR/Kepala BPN.

Selain itu ada pula Angkie Yudistia yang tidak dapat mendengar dan bicara. Karena prestasinya, Angkie dipercaya Presiden sebagai salah seorang dari tujuh staf khusus Presiden. Prestasi Angkie memang segudang. Lulus dari London School of Public Relations (2008), di tahun yang sama, ia berhasil menjadi The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008. Di tahun itu pula ia meluncurkan buku “Perempuan Tunarungu Menembus Batas”. Selain itu, Angkie pun menjadi pendiri Startup Disable Enterprise untuk kaum difabel tunarungu.

Masih ingat Asian Para Games yang diselenggarakan di Jakarta pada 2018? Perhatikanlah bagaimana perjuangan mereka untuk merebut posisi puncak di setiap cabang olahraga yang dipertandingkan. Kerja keras mereka membuahkan hasil.

Sepuluh atlet kita berhasil menjadi juara. Di cabang olahraga badminton dimenangkan Suparniyati, Rica Oktavia, Indriani Syuci, Sapto Yogo Purnomo, dan Karisma Evi Tiarani. Tenpin Bowling dimenangkan Elsa Maris. Tenis meja dimenangkan David Jacob, Rian Prahasata dan Suwarti.

Apalagi yang perlu difabel tunjukkan agar tak ada lagi diskriminasi untuk mereka? Kiranya Hari Kaum Difabel Internasional memberi semangat bagi kaum difabel di seluruh dunia, di mana pun berada, untuk sama-sama menikmati kehidupan yang sama dengan sesama anak manusia lainnya.