Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional

Category: Pustaka Lestari

KEARIFAN LOKAL PERLU DIJAGA

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan terbesar dan terluas di dunia. Terdiri dari 17.500 lebih pulau, NKRI berisikan beragam adat istiadat, beraneka suku bangsa, banyak bahasa dan lebih dari satu agama serta berbagai kearifan lokal.

Melihat begitu banyak keberagaman, tentu saja diperlukan satu filosofi atau lambang negara yang mempersatukan. Maka lambang Bhineka Tunggal Ika yang berarti beraneka ragam tetapi tetap satu dan filosofi negara Pancasila sangat diperlukan demi menjaga keutuhan NKRI.

Ada satu kearifan lokal yang dipunyai hampir semua suku bangsa di negeri ini, yakni gotong royong. Pada mulanya gotong royong hadir ketika orang banyak melakukan suatu pekerjaan bersama-sama, seperti mendirikan rumah, tanpa mengharapkan imbalan.

Nilai gotong royong itu mengekspresikan semangat kebersamaan yang tumbuh di dalam lingkungan bermasyarakat. Intinya yang terdalam ialah hidup tolong menolong. Inilah kesetiakawanan sosial yang berkembang sebagai kearifan lokal.

Manusia memerlukan orang lain untuk hidup. Manusia membutuhkan keluarga, kelompok sosial. Manusia ialah mahluk sosial.

Bagaimana pun kemandirian seseorang, ia tak akan dapat hidup sendiri tanpa lingkungan sosial. Untuk dapat bertahan dalam satu lingkungan sosial tertentu, seseorang perlu mempunyai jiwa dan semangat kepedulian pada sesama.

Etika tolong menolong atau kesetiakawanan sosial perlu dimiliki, dipahami dan dilaksanakan oleh manusia, tanpa pandang bulu.

Dalam perspektif global, kesetiakawanan sosial merupakan wujud humanisme universal. Contoh yang amat kita rasakan ketika terjadi bencana tsunami di Aceh. Seluruh dunia tergerak menolong.

Di masa awal NKRI berdiri, pemerintah telah mencanangkan pentingnya kesetiakawanan sosial, yang kala itu dibahasakan sebagai sikap sosiawan. Menteri Kesehatan kala itu berinisiatif untuk menciptakan Hari Sosial pada tanggal 20 Desember 1949. Tanggal tersebut dipilih, karena setahun sebelumnya, 20 Desember 1948, terjadi peristiwa bersejarah, yakni bersatunya seluruh lapisan masyarakat dalam mempertahankan kedaulatan negara. Ini perlawanan anak bangsa terhadap Belanda yang menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia.

Hari Sosial itu kemudian menjadi Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang dirayakan agar anak bangsa melestarikan dan mengembangkan nilai serta mengamalkan kesetiakawanan sosial dalam masyarakat sehingga bisa melaksanakan pembangunan kesejahteraan sosial.

Pada peringatan tahun ini, Kementerian Sosial (Kemensos) merayakannya dengan blusukan ke Kalimantan Selatan dengan mengirim tim Lintas Batas Kesetiakawanan Sosial (LKBS) untuk melakukan bakti sosial dalam berbagai potensi. Ekspedisi dilakukan melalui darat dan sungai. Melalui LKBS diharapkan dapat terjalin kesetiakawanan sosial di antara berbagai komponen masyarakat.

Dicanangkan juga oleh Kemensos, bulan donor darah sebagai penanda dimulainya rangkaian peringatan HKSN 2019. Melalui donor darah, diharapkan kepedulian sosial tumbuh di masyarakat, karena nilai kemanusiaannya pun tinggi.

Perayaan ini diselenggarakan dengan melibatkan berbagai komponen bangsa dalam masyarakat. Generasi milenial pun diikutsertakan dalam berbagai kegiatan sosial ini, agar tertanam sifat kepedulian sosial sejak muda dan siap untuk melanjutkan ke generasi penerus.

HKSN berbasiskan kearifan lokal berbagai suku bangsa di negeri tercinta ini dan sangat penting untuk dijaga agar lestari. Dari generasi ke generasi sifat kepedulian sosial dan kegotongroyongan tetap dipertahankan, demi keberlangsungan NKRI.