Peranan Gerakan Perempuan

Category: Pustaka Lestari

 

Sejarah mencatat perempuan Indonesia terlibat aktif dalam pembangunan bangsa dari masa ke masa. Meskipun pada masa pergerakan anti kolonial pandangan umum adalah perempuan sebagai pemangku keturunan dan laki-laki sebagai tiang keturunan. Konstruksi sosial ini berimbas pada pola pendidikan yang mengutamakan anak laki-laki daripada perempuan. Sepanjang sejarah perempuan Indonesia ditempatkan pada posisi yang terpinggirkan, meskipun tak menghalangi perempuan Indonesia untuk tetap bergerak membangun bangsa.

Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia maupun di pelbagai negara, perempuan menghadapi beragam stigma, seperti posisi mereka yang lebih pantas dalam lingkup domestik. Akibatnya, jumlah perempuan yang menempati jabatan publik masih sangat sedikit dibandingkan laki-laki. Kondisi ini terjadi tak hanya di pusaran elit kekuasaan, tapi juga di tingkat lokal atau daerah. Tak hanya urusan politik dan pembangunan negara, bahkan untuk penyelesaian masalah perempuan sendiri pun, perempuan harus menerima bahwa pengambil keputusan adalah kaum lelaki.

Konstruksi sosial yang memarginalkan perempuan ini dipengaruhi beragam faktor, termasuk sejarah masa lampau, kultur, dan ideologi. Sebagai akibatnya, partisipasi perempuan dalam kehidupan bernegara menjadi lemah. Padahal menyertakan peran perempuan dalam proses pembangunan sangatlah penting. Keterlibatan perempuan akan mewujudkan pembangunan yang berkeadilan. Negara tak akan sejahtera bila perempuan tidak diberi peran dalam pengambilan keputusan, atau dibiarkan tertinggal.

Dalam lingkup pendidikan, misalnya, peran utama perempuan sangat vital. Di komunitas pionir pendidikan Taman Siswa, terdapat tiga nama perempuan priyayi yang disebut-sebut sebagai “Ibu Bangsa”, yakni Sutartinah yang juga istri Ki Hajar Dewantara, Sri Sulandari Mangunkarso, dan Siti Sukaptinah. Ketiga ibu bangsa ini memberikan kontribusi besar bagi pendidikan lewat komunitas Taman Siswa yang merupakan salah satu simbol pergerakan anti kolonialisme dan gerakan pendidikan modern. Sayangnya, peran dan kontribusi besar itu tak banyak diketahui masyarakat pada umumnya. Padahal mereka adalah perempuan pionir di bidang pendidikan, selain tokoh pendidikan perempuan yang sudah dikenal luas seperti R.A. Kartini dan Dewi Sartika.

Dalam periode perjuangan kemerdekaan, peran perempuan pun sangat hebat. Sesungguhnya perjuangan bangsa Indonesia melepaskan diri dari penjajahan tak bisa dilepaskan dari peranan perempuan. Sebut saja beberapa pahlawan perempuan yang sudah dikenal luas masyarakat, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati, Nyi Ageng Serang, dan Martha Christina Tiahahu.

Perempuan berperan penting tak hanya di medan laga. Mereka juga melakukan pergerakan secara strategis tanpa melibatkan senjata. Misalnya, perempuan mengambil peran sebagai ujung tombak media melalui tugasnya sebagai wartawan, redaktur, penulis, penyiar radio, penerjemah siaran radio asing. Dalam masa perjuangan kemerdekaan, pena dan pemikiran sama pentingnya dengan senjata. Tak hanya sekadar penyampai informasi terkini, para pejuang pemikir ini juga mengobarkan semangat nasionalisme lewat tulisan-tulisan yang kritis. Lebih jauh, mereka juga berani mengungkapkan pikiran-pikiran tentang kesetaraan hak perempuan. Nama-nama seperti Roehana Koeddoes, Rasuna Said, SK Trimurti, Herawati Diah adalah punggawa informasi dan berita, sosok jurnalis perempuan pada masa perjuangan kemerdekaan yang tak bisa dianggap enteng.

Salah satu tonggak yang menjadi pengingat bagi rakyat Indonesia tentang peranan perempuan dalam pembangunan bangsa adalah peringatan Hari Ibu setiap tanggal 22 Desember. Peringatan ini didasarkan atas ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama tahun 1928. Adapun kongres tersebut diadakan untuk meningkatkan hak-hak perempuan. Presiden Soekano meresmikan peringatan Hari Ibu Lewat Keputusan Presiden RI No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia.

Peringatan Hari Ibu ini dimaksudkan untuk terus-menerus mengingatkan seluruh rakyat Indonesia akan peran kaum perempuan. Ia juga dimaknai sebagai hari kebangkitan, persatuan, serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tak bisa dipisahkan dari perjuangan bangsa Indonesia. Perempuan secara aktif turut membangun bangsa di berbagai lini kehidupan, karena itu penting mengedepankan revitalisasi peran perempuan yang memiliki kesetaraan dalam membangun bangsa, tak hanya di sektor domestik.