Mainan Anak yang Ramah Lingkungan untuk Liburan Natal dan Tahun Baru

Category: Pustaka Lestari

Tulisan ini mengungkapkan penelitian yang dilakukan Matthew Watkins, Senior Lecturer in Product Design, Nottingham Trent University. Penelitian ini di bawah dukungan dana dari EPSRC-funded Centre for Industrial Energy, Materials and Products.

Ketika berbicara tentang sampah plastik, kita membayangkan kemasan plastik, gulungan plastik, serta mikro plastik. Lalu, Natal dan Tahun Baru datang dan hadir bentuk produk plastik yang berumur pendek : mainan anak. Pasar mainan anak global sendiri mencapai nilai 90,4 milliar dolar AS pada tahun 2018.

Tidak seperti plastik kemasan atau gulungan plastik, mainan anak seringkali tersusun atas lebih banyak material plastik baru – dan bisa berumur lebih panjang dibandingkan dengan ketertarikan anak atau usia mereka.

Penelitian ini ingin membantu orang tua memilih mainan anak yang lebih ramah lingkungan untuk anak-anak mereka saat Natal dan Tahun Baru. Penelitian ini mengkaji berbagai macam mainan anak, dari yang mahal dan bermerek hingga yang lebih murah dan tak bermerek.

Dengan mempelajari masa pakai dari berbagai mainan anak, temuan penelitian ini bisa menentukan dampak lingkungan serta memperhitungkan banyaknya energi mulai dari pembuatan hingga lama penggunaan.

Penelitian ini juga menghitung energi untuk ekstraksi dan proses bahan baku, pengiriman produk, pengantaran sumber energi, misalnya batere yang dipakai, hingga mainan digunakan atau dipakai kembali melalui daur ulang atau pembuangan di akhir masa pakai.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa mainan-mainan yang disimpan lebih lama, dijual kembali, atau didonasikan memiliki dampak lingkungan yang jauh lebih kecil karena mereka akan menurunkan jumlah pembuatan dan pembelian mainan baru.

Sementara itu, kelompok mainan yang berdaya tarik lama terhadap anak-anak, memiliki nilai penggunaan yang berlipat atau bisa menjadi barang koleksi sehingga memiliki potensi untuk memperpanjang masa guna.

Penelitian ini juga memperhitungkan mainan bekas yang dijual secara daring dan menanyakan pendapat penjual mainan bekas seperti toko amal, orang tua, serta pekerja sosial yang mengasuh anak. Seperti dugaan, nilai mainan bekas akan lebih terjangkau bagi mereka yang tadinya tidak bisa memiliki mainan karena harga yang mahal.

Produk mainan bermerek memiliki kecenderungan untuk dijual kembali, sementara yang lebih murah akan dibuang atau didonasikan. Mainan seperti Lego dan Meccano terhitung ramah lingkungan karena anak-anak dapat menggunakannya untuk waktu yang lama dan bisa menarik bagi kelompok umur anak yang berbeda. Koleksi ini bisa ditambahkan dan disesuaikan, namun tetap menyenangkan seiring dengan pertumbuhan anak. Mainan semacam ini populer dari generasi ke generasi dan memiliki nilai guna yang terjaga dan bisa dijual kembali.

Mainan yang terhitung paling tak ramah lingkungan adalah mainan elektronik, karena membutuhkan banyak energi dalam proses pembuatan dan memiliki komponen yang sulit didaur ulang. Mainan elektronik juga sangat bergantung pada baterai dan memperpendek masa pakai. Selain itu, mainan elektronik juga hanya menarik bagi anak-anak berusia dini, berharga murah dalam kondisi baru, dan sulit untuk dijual kembali. Kesulitan untuk membersihkan mainan elektronik juga menjadi tantangan lain, yang membuka peluang mereka untuk dibuang dibandingkan untuk didonasikan.

Dalam wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini, baik orang tua maupun pengasuh anak sama-sama setuju bahwa mainan berbahan dasar kayu lebih baik untuk perkembangan usia dini. Sementara itu, penjual mainan bekas juga mengatakan bahwa mainan berbahan dasar kayu seperti susun cincin dan balok, tetap memiliki nilai tinggi saat dijual kembali.

Dengan fakta tersebut, penelitian ini juga tidak melarang penggunaan mainan plastik seperti Lego, karena berkualitas baik, tahan lama, dan akan mudah dibersihkan jika ingin menjualnya kembali.

Tips untuk membeli mainan untuk anak saat liburan tahun ini: (1) Membeli mainan bekas pakai jika memungkinkan; (2) Membeli mainan buatan toko lokal, atau meminjam mainan dengan sewa, jika ada; (3) Hindari membeli mainan elektronik, terutama jika anak masih sangat dini dan ketertarikan mereka sangat cepat berganti; (4) Pertimbangkan berapa lama anak bisa tetap menggunakan sebuah mainan; (5) Jika tetap harus membeli mainan dengan masa pakai pendek seperti produk kerajinan tangan, pastikan bahwa material mainan tersebut bisa digunakan kembali atau bersifat biodegradable.