Ini yang Harus Dilakukan, Agar Bumi “Awet Muda”

Category: Pustaka Lestari

Tahukah Anda, planet bumi tempat hidup kita ini umurnya ditaksir sudah lebih dari 4,5 miliar tahun? Dalam rentang waktu yang sedemikian panjang, bumi telah menjadi saksi evolusi berbagai jenis makhluk hidup. Ada yang punah karena hantaman bencana, ada yang menghilang tergerus seleksi alam, ada juga yang berhasil hidup sampai saat ini, termasuk manusia.

Bumi sendiri juga mengalami evolusi yang dampaknya kita rasakan sampai detik ini. Dulu, bumi adalah satu daratan maha luas yang disebut Pangea. Menurut para ahli, akibat gempa dan peristiwa alam dahsyat lainnya, lempeng bumi mengalami pergeseran terus menerus, perlahan terpisah dan mulai tercerai-berai.  Serpihan-serpihan besar daratan ini menjadi lima benua yang dihuni manusia saat ini, dan sisanya terserak menjadi pulau-pulau yang jumlahnya sulit diketahui dengan pasti. Tapi setidaknya, sekitar 17 ribu dari pulau-pulau ini berada dalam wilayah kedaulatan negara tercinta kita, Indonesia.

Para ahli memprediksi bumi masih akan bertahan sampai 1,7 milyar tahun lagi, tentu dengan catatan tidak ada peristiwa alam maha besar yang dapat serta merta menghancurkan bumi beserta isinya. Tapi tentu saja, semua ini hanya prediksi belaka. Ketahanan bumi, yang saat ini menjadi satu-satunya tempat hidup manusia, sangat tergantung pada perilaku dan gaya hidup manusia yang menghuninya.

Sumberdaya alam yang disediakan bumi selama milyaran tahun, satu waktu akan habis, dan yang berasal dari fosil, seperti minyak dan gas tidak bisa diperbarui lagi selamanya. Hemat energi sudah bukan menjadi jargon semata, tapi wajib menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Menggunakan transportasi umum saat bepergian sehari-hari adalah satu hal kecil yang bisa kita lakukan untuk menghemat energi yang disediakan bumi secara gratis selama milyaran tahun. Dalam skala besar, dengan dukungan riset dan teknologi yang mumpuni, pemanfaatan energi terbarukan seperti sinar matahari dan angin akan menjadikan program hemat energi sesuatu yang semakin nyata.

Menurut para ahli, salah satu penyebab berkurangnya ketahanan bumi sebagai tempat hidup manusia adalah tercemarnya wilayah-wilayah yang seharusnya menjadi paru-paru bumi, seperti hutan dan laut. Tumpukan sampah plastik yang hampir tidak bisa terurai, misalnya, jelas membuat bumi kewalahan, karena tersebar di mana-mana dan bahkan sudah mengganggu habitat hewan laut dan kualitas tanah. Sampah plastik yang menumpuk dan tidak terurai, ditengarai juga menjadi penghambat pengelolaan sampah dan menyebabkan banjir di Jakarta pada akhir tahun 2019.

Berdasarkan data dari ScienceMag yang dikutip kompas.com, jumlah produksi sampah plastik dunia sejak 1950 hingga 2015 cenderung selalu menunjukkan peningkatan. Pada 1950, produksi sampah dunia ada di angka 2 juta ton per tahun. Sementara 65 tahun setelah itu, pada 2015 produksi sampah sudah mencapai 381 juta ton per tahun.

Sama seperti penghematan energi, pengurangan produksi sampah bisa kita mulai dari rumah. Sejumlah peraturan daerah yang melarang penggunaan tas belanja dari plastik serta proses daur ulang sampah yang semakin murah semakin memudahkan kita untuk segera melakukan proses pengurangan sampah rumah tangga sekarang juga.

Menghemat energi dan mengurangi pemakaian plastik Nampak seperti dua hal sepele yang tidak berdampak apa-apa bagi “kesehatan” bumi kita. Tapi jika hal-hal ini, dilakukan secara terus menerus oleh banyak orang tentu akan membawa dampak positif bagi ketahanan bumi. Akan semakin banyak hal yang bisa kita wariskan kepada generasi yang akan datang, termasuk bumi yang “awet muda” dengan segala sumberdayanya yang bisa dinikmati dalam jangka waktu yang lebih lama.