Ini yang Dilakukan Pemerintah untuk Bersama-sama Melawan Kanker

Category: Pustaka Lestari

 

Kanker masih menjadi misteri dunia medis yang masih terus-menerus dicari obat dan penyembuhannya. Seperti dikutip oleh wartaekonomi.com, menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), angka kejadian penyakit kanker di Indonesia mencapai 1.362 kasus per 1 juta penduduk. Kejadian kanker tertinggi di Indonesia untuk laki-laki adalah kanker paru dengan angka kematian kematian 109 per 1 juta penduduk. Selanjutnya, kanker hati sebesar 124 per 1 juta penduduk dengan rata-rata kematian 76 per 1 juta penduduk.

 

Sedangkan, angka kejadian untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara sebesar 421 per 1 juta penduduk dengan rata-rata kematian 170 per 1 juta penduduk. Angka tertinggi kedua dari jenis kanker yang banyak diderita perempuan adalah kanker leher rahim sebesar 234 per 1 juta penduduk dengan rata-rata kematian 139 per 1 juta penduduk. Ini membuat Indonesia berada di urutan ke delapan di Asia Tenggara dan urutan 23 di Asia.

 

Meningkatnya mortalitas dan morbiditas penyakit tidak menular, termasuk kanker membawa tantangan berupa pembiayaan yang besar. Laporan Jamkesmas menunjukkan bahwa pada tahun 2012 pengobatan kanker menempati urutan ke-2 setelah hemodialisa yaitu mencapai Rp 144,7 milyar. Sementara itu, menurut data BPJS, pada periode Januari-Juni 2014 dilaporkan pengobatan kanker untuk rawat jalan menempati urutan ke-2 dengan jumlah kasus 88.106 dan pembiayaan sebesar Rp 124,7 milyar, sedangkan untuk rawat inap menempati urutan ke-5, dengan jumlah kasus 56.033 dan pembiayaan sebesar Rp 313,1 milyar.

 

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 43% kanker dapat dicegah. Kanker sebenarnya dapat dikatakan sebagai penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat dan menjauhkan diri dari faktor-faktor yang berisiko kanker. Kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, kebiasaan minum alkohol, obesitas, pola makan yang tidak sehat adalah sedikit dari sejumlah gaya hidup tidak sehat yang memicu kanker.

 

Selain mengurangi gaya hidup tidak sehat, tentu dibutuhkan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjadikan kegiatan penanggulangan penyakit kanker sebuah kerja nyata yang menjangkau semua lapisan masyarakat.

 

Langkah awal yang dilakukan pemerintah adalah mengadakan kegiatan pemahaman kepada masyarakat tentang berbagai hal yang perlu diketahui, dilakukan, dan dikerjakan secara bersama-sama secara individu maupun ditingkat keluarga maupun masyarakat untuk mencegah kanker.

 

Beberapa program pengendalian kanker yang bersifat promotif adalah dengan mengeluarkan regulasi antara lain kawasan tanpa rokok (KTR), diet sehat dan kalori seimbang. Selain itu, dalam upaya preventif, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan dukungan organisasi profesi, Yayasan Kanker Indonesia dan masyarakat telah mengembangkan program deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di puskesmas.

 

Untuk jenis kanker payudara dan leher rahim, pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30 sampai 50 tahun dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.

 

Di tingkat masyarakat, contohnya, kegiatan penanggulangan kanker dilakukan Kemenkes dengan menyasar kelompok usia dini melalui pemberian imunisasi Human Papilloma Virus (HPV). Imunisasi ini diberikan kepada siswa sekolah dasar kelas 5 dan 6 di sejumlah provinsi dan kota termasuk Jakarta, Kulonprogo, Gunung Kidul, Surabaya, Manado, dan Makassar.

 

Selain itu juga pemerintah lakukan berbagai hal yang berkaitan dengan upaya penemuan kanker pada anak secara dini melalui screening, pengendalian faktor resiko kanker, dan program paliatif yang terintegrasi dalam berbagai pelayanan yang sudah dikembangkan selama ini.