Radio di Era Kekinian

Category: Pustaka Lestari

“SEKALI di udara tetap di udara.” Ini adalah motto Radio Republik Indonesia (RRI) yang saya masih ingat ketika radio masih jadi media yang diandalkan sebagai sarana untuk mencari hiburan dan informasi.

Masyarakat yang pernah mengalami tahun 1960-1970 sangat familiar dengan kata-kata itu sebelum penyiarnya mengakhiri siaran RRI pada pukul 00.00.

Sebagai media informasi, RRI jadi andalan utama ketika jalur FM ketika itu belum ada.

Sejarah mencatat, RRI punya peran penting dalam menggelorakan kemerdekaan. Saat Jepang menjajah Indonesia selama tiga setengah tahun, radio dianggap sebagai media yang sangat menakutkan.

Pada masa itu, semua radio yang dimiliki rakyat Indonesia disegel oleh Jepang. Pendengar hanya boleh mendengarkan hanya satu stasiun radio yang sudah dalam penguasaan Jepang.

Fakta di atas membuktikan betapa pentingnya radio sebagai sarana komunikasi untuk menggugah dan memotivasi para pendengarnya untuk melakukan sesuatu. Maka tidak berlebihan jika saat kemerdekaan, teks proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta pun disiarkan RRI. Masyarakat dunia pun akhirnya mengetahui Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945.

Begitu efektif dan berpengaruhnya radio sampai-sampai masyarakat dunia pun merasa perlu menetapkan tanggal 13 Februari sebagai “Hari Radio Sedunia”.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal itu sebagai Hari Radio Sedunia belum lama, tepatnya setelah
Spanyol pada 20 September 2010 mengajukan usulan soal itu.

Dewan Eksekutif UNESCO lalu memasukkan usulan tersebut ke dalam agenda resminya dan mengumumkan ke publik pada 29 September 2011. Agenda sidang tersebut mendapat dukungan dari berbagai organisasi media penyiaran di seluruh dunia yang kemudian dimasukkan dalam dokumen UNESCO 187 EX/13.

Keinginan untuk menyelenggarakan Hari Radio Sedunia ini oleh UNESCO dikonsultasikan secara luas dengan berbagai pihak pada 2011.

Hasilnya 91% mendukung gagasan ini. Tetapi baru pada tanggal 3 November 2011, UNESCO menetapkan sebagai salah satu agenda dalam Konferensi Majelis Umum ke-36. Ujung-ujungnya baru setahun kemudian, yaitu pada bulan Desember 2012, PBB menetapkan bahwa tanggal 13 Februari adalah Hari Radio Sedunia yang disepakati oleh semua negara anggota PBB.

Informasi yang termuat dalam kpi.go.id mengungkapkan, Indonesia pun menyambut baik penetapan Hari Radio Sedunia.

Orang awan mungkin akan bertanya apa pentingnya diadakan Hari Radio Sedunia? Sebagaimana telah saya singgung di awal tulisan ini, diakui atau tidak, radio menjadi sumber informasi masyarakat sedunia.

Di Indonesia, masyarakat di perkotaan maupun di pelosok negeri mengandalkan radio sebagai sumber informasi yang akurat, bukan hoaks yang kini bertebaran di media sosial.

Saat kita mendengarkan radio, penyiarnya begitu dekat dengan para pendengarnya, seolah tak berjarak. Akrab. Dalam banyak aspek, radio cukup efektif sebagai media edukatif.

Ketika masa perang, berbagai informasi pun disebarkan melalui radio. Tentu saja tak semuanya benar, tergantung pihak mana yang menyiarkannya. Maklum, radio bisa digunakan sebagai medium propaganda.

Ketika Jerman dan Jepang kalah perang, masyarakat dunia mengetahui berita kekalahan perang dua negara itu melalui radio.

Begitu dekatnya radio di telinga dan perasaan para pendengarnya, masyarakat pun bersorak gembira, karena berarti perang telah usai.

Saat astronot Apollo 11 Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan, masyarakat dunia pada era 1968-an mengikutinya lewat siaran radio.

Tertembaknya Presiden AS (ketika itu) John F Kennedy diketahui masyarakat pertama kali juga melalui radio. Begitu juga dengan peristiwa bom di Cikini yang ditujukan untuk menyerang Presiden Soekarno, atau ketika peristiwa G30S PKI, masyarakat juga mengetahuinya lewat radio.

Di saat masyarakat dunia memperingati Hari Radio Sedunia, zaman keradioan telah berubah. Siaran radio kini bisa didengar tidak harus menggunakan pesawat radio, tetapi sudah bisa didengar lewat smartphone dalam bentuk streaming maupun manual.

Sebagai media elektronik (digital), radio masa kini lebih mudah dan luas menjangkau masyarakat. Oleh sebab itu berkembang tidaknya perusahaan (pengelola) radio tergantung seberapa besar kreativitas pengelolanya.

Faktanya, banyak acara radio yang sampai hari ini diminati pendengar dan yang menarik, mereka bukan generasi “jadul”, tetapi generasi milenial yang hidup dalam era digital.

Di era keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi saat ini pasti berdampak pada begitu membludaknya arus informasi yang diterima oleh masyarakat. Sayangnya dalam situasi seperti ini, banyak di antara kita yang tidak bisa membedakan mana informasi yang mengandung fakta dan yang berisi hoaks.

Dibandingkan media lain, peluang radio dan pengelolanya untuk ikut-ikutan menyebarkan hoaks atau berita pelintiran sangat kecil.

Informasi yang disampaikan lewat radio lazimnya sangat sederhana. Jika dikemas menjadi produk jurnalistik, berita radio umumnya ringkas, mudah dipahami, dan jauh dari rekayasa adegan.

Riset Masyarakat Telekomunikasi (Mastel) menempatkan radio sebagai media dengan persentase terkecil dalam katagori media penyebar hoaks, yaitu hanya 1,2% di bawah media cetak yang 5% dan televisi 8,7%.

Tingkat terbesar penyebar hoaks, menurut Mastel, media sosial mencapai 92% dan aplikasi chatting seperti WA 62,80% dan situs web 34,90%.

Berdasarkan penelitian itu terlihat media resmi seperti radio, televisi serta cetak kecil persentasenya dalam menyebarkan hoaks.

Di saat masyarakat radio memperingati Hari Radio Sedunia, semoga para pengelola radio di Tanah Air tetap mampu menjaga wibawa radio sebagai penyebar informasi positif bagi kemaslahatan bangsa.