Mempersiapkan Milenial Berdaya Saing Tinggi Lewat Perbaikan Gizi

Category: Pustaka Lestari

Dalam menyongsong Visi Indonesia Emas 2045 dan Era Revolusi Industri 4.0, generasi milenial dipastikan menjadi motor penggerak utama roda pembangunan bangsa. Bagaimana tidak? Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan milenial -mereka yang berusia 20-34 tahun- mendominasi 23,77 persen dari total populasi Indonesia yang mencapai 268 juta jiwa. Artinya, hampir seperempat penduduk di tanah air adalah kelompok milenial. Tentunya bonus demografi ini bisa menjadi petaka alih-alih karunia jika tidak disertai dengan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni.

 

Pemenuhan kecukupan gizi tentunya tak lepas dalam menciptakan generasi berdaya saing tinggi untuk menunjang pembangunan bangsa. Karenanya, tak berlebihan rasanya jika pemerintah memperingati Hari Gizi Nasional ke-60 yang jatuh pada tahun 2020 ini dengan mengusung tema “GIZI Optimal untuk Generasi Milenial”. Namun sejumlah pekerjaan rumah pun membayangi. Indonesia saat ini sedang menghadapi triple burden dalam status gizi; yakni kekerdilan (stunting), kurus (wasting), dan obesitas. Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh anak usia bawah lima tahun akibat kekurangan gizi kronis, terutama di 1.000 hari pertama kehidupannya. Stunting tak hanya menghambat tumbuh kembang anak namun juga otaknya.

 

Kementerian Kesehatan mengumumkan memang ada tren penurunan prevalensi stunting sebesar 3,1 persen menjadi 27,67 persen dari hasil riset status gizi balita di Indonesia tahun 2019. Namun angka tersebut masih jauh dari standar prevalensi stunting yang ditetapkan Badan PBB Untuk Kesehatan Dunia (WHO), yakni sebesar 22 persen. Jika Indonesia mampu secara konsisten menurunkan angka stunting sebesar tiga persen setiap tahun, maka baru di tahun 2024 Indonesia bisa mencapai target standar WHO.

 

Dalam kasus wasting atau kondisi berat badan balita menurun di bawah rentang normal, Indonesia juga berhasil menurunkan angka kasus sebesar 2,8 persen menjadi 7,44 persen di tahun 2019. Angka ini mulai mendekati prevalensi global kasus wasting, yakni 7,3 persen. Sayangnya dalam kasus obesitas, di mana berat badan jauh di atas normal dan berisiko terhadap kesehatan, Indonesia menghadapi peningkatan dari tahun ke tahun. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang digelar Kemenkes, prevalensi penduduk berusia lebih dari 18 tahun yang mengalami obesitas meningkat dari 14,8 persen di tahun 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018. Angka ini berada di atas prevalensi global obesitas di usia 5-19 tahun yakni 18 persen di tahun 2016.

 

Tak hanya gizi, Indonesia juga menghadapi tantangan dalam pembangunan ketahanan pangan. Di tahun 2035 nanti, populasi Indonesia akan mencapai lebih dari 300 juta jiwa. Konsumsi sejumlah komoditi bahan pangan seperti beras dan jagung pun akan naik 20 persen. Kementerian Pertanian sendiri optimistis Indonesia memiliki peluang dalam peningkatan produksi, dengan adanya sumber daya lahan yang begitu besar, dimana 77 persen dari total 190 juta hektar di Indonesia adalah lahan kering yang bisa dioptimalkan dengan sentuhan mekanisasi pertanian.

 

Namun demikian, mekanisasi pertanian sendiri masih terkendala jumlah sumber daya manusia yang akan menjadi operator peralatan pertanian. Kompleksnya tantangan dalam menyiapkan generasi emas milenial ini menjadi pekerjaan rumah berat bagi bangsa besar seperti Indonesia. Tentunya dibutuhkan kerja sama dari semua pihak dalam menjawab semua tantangan ini.