Hari Perempuan Internasional

Category: Pustaka Lestari

Perjuangan Tiada Akhir

Sejak berabad lalu, kedudukan kaum perempuan selalu di belakang kaum pria. Sudah lama pula kaum perempuan memperjuangkan nasibnya agar kedudukannya sama dengan kaum pria, baik di rumah tangga, di tengah lingkungannya, di tengah masyarakat, juga di semua jabatan publik.

Namun sampai sekarang, di abad 21, di zaman milenial, kaum perempuan masih saja terpinggirkan.

Alkisah ada seorang perempuan dari kalangan buruh tekstil, melakukan demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1857 di New York. Tujuannya adalah untuk melawan penindasan dan gaji buruh yang rendah. Tetapi polisi membubarkannya secara paksa.

Akan tetapi, 50 tahun kemudian (1907), tanggal 8 Maret, disahkan menjadi Hari Perempuan Internasional.

Temma Kaplan, seorang sosialis yang melakukan studi feminist tidak percaya bahwa peristiwa demonstrasi itu pernah terjadi. Tetapi banyak orang Eropa meyakini bahwa tanggal tersebut merupakan awal dari terbentuknya Hari Perempuan Internasional.

Hari Perempuan Internasional pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York. Penyelenggaranya adalah Partai Sosialis Amerika Serikat. Pada hari itu, New York menjadi saksi diselenggarakannya Hari Perempuan pertama di dunia. Acaranya, mengenang upaya pekerja wanita International Ladies Garment Workers Union yang diikuti lebih dari 15.000 pekerja wanita. Mereka menuntut mendapatkan kesetaraan hak sosial serta politik.

Bertahun-tahun kemudian, pada 8 Maret 1917, kaum perempuan di Petrogard yang melakukan demonstrasi. Peristiwa ini bahkan sampai memicu terjadinya Revolusi Rusia. Dan sejak itu, di Soviet Rusia Hari Perempuan dirayakan oleh kaum perempuan secara luas, di negara sosialis maupun komunis.

Berbagai peristiwa yang dipicu gerakan dan aksi kaum perempuan tersebut, mendorong Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 1977 untuk meresmikan perayaan Hari Perempuan Internasional yang diselenggarakan secara luas setiap tahun pada tanggal yang sama, 8 Maret. Tujuannya, memperjuangkan hak perempuan sedunia dan mewujudkan perdamaian dunia.

Kesetaraan gender antara perempuan dan laki laki di dunia belum juga selesai. Sampai saat ini, masih saja ada diskriminasi terhadap kaum perempuan. Baik di perusahaan-perusahaan, maupun di lembaga negara, perempuan masih saja belum diperlakukan sesuai haknya. Di perusahaan, upah atau gaji kaum perempuan, dengan jenis dan beban pekerjaan yang sama, tetap saja jauh di bawah kaum pria. Begitu juga kesempatan untuk maju. Perempuan harus dua kali lebih baik dari pria bila ingin memperoleh penghargaan kenaikan pangkat. Belum lagi hak untuk menyusui.
Meskipun sudah cukup banyak juga perusahaan yang sadar bahwa kaum perempuan harus diperlakukan sama dengan kaum pria, dan harus diperhatikan hak-haknya. Di perusahaan ini, kesetaraan gender cukup diperhatikan, bahkan di beberapa perusahaan sangat dipedulikan.

Di Indonesia, kita mempunyai R.A. Kartini yang juga berjuang demi kemajuan perempuan. Dilahirkan pada tanggal 21 April 1879 dan meninggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. R.A. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Karena orangtuanya adalah seorang yang terpelajar, R.A. Kartini beruntung mendapat kesempatan bersekolah sampai lulus ELS (Europese Lagere School) – sekolah dasar.

Di sekolah inilah Kartini belajar bahasa Belanda. Setelah lulus, usianya 12 tahun, Kartini tidak boleh bersekolah lagi. Tapi di rumah, Kartini tidak tinggal diam. Dia banyak membaca sehingga pengetahuannya berkembang. Kartini juga membina korespondensi dengan seorang wanita Belanda, Rosa Abendanon. Kegiatan ini membuat Kartini mempunyai mimpi memajukan pengetahuan perempuan pribumi.

Kesempatan datang setelah ia menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat yang sudah memiliki tiga istri. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan mendorongnya mewujudkan mimpinya. Ia diberi kebebasan mendirikan sekolah di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang. Kartini mengajar murid-murid perempuan. Ia memotivasi kaum perempuan untuk tidak hanya menjadi ibu dan istri, tetapi juga menjadi perempuan yang berjuang buat kemajuan perempuan.
Sayang bahwa Kartini meninggal dalam usia sangat muda. Segera setelah melahirkan bayi pertamanya, Kartini meninggal. Namun semangatnya tak pernah mati. Sekolahnya berkembang di berbagai kota di Pulau Jawa. Sekolahnya diberi nama Sekolah Kartini yang dikelola oleh Yayasan Kartini. Dan kini, di zaman milenial ini, cukup banyak perempuan yang berjuang untuk kemajuan perempuan, menghilangkan diskriminasi dan memotivasi perempuan memperjuangkan haknya dan bebas bersaing dengan kaum pria.