fbpx
Sahabat Lestari Ajak Warga Pantura Sehat
November 5, 2018
NasDem Raih Predikat Partai Cukup Informatif
November 6, 2018

Membangun Kota Aman untuk Perempuan

Untuk menjadi kota yang ramah terhadap perempuan ada banyak syarat yang harus dipenuhi, baik dari soal infrastruktur fisik termasuk fasilitas publik, regulasi, keberpihakan anggaran, sumber daya manusia, hingga keterlibatan masyarakat. Kota Jakarta sebagai barometer bagi kota-kota lain di Indonesia sebaiknya mengaplikasikan program komprehensif agar menjadi kota yang aman untuk perempuan.

Sementara itu, salah satu LSM yang bergerak di bidang tata kota dan transportasi Indonesia, ITDP Indonesia menyebutkan kriteria kota yang ramah bagi perempuan dan kaum rentan lainnya seperti anak dan lansia, bahkan dari hal-hal yang kelihatannya sepele. Indikator kota yang ramah terhadap perempuan bisa dilihat misalnya dari kualitas pencahayaan jalan, kualitas transportasi publik, trotoar yang rata agar kaum perempuan yang memakai sepatu hak tinggi atau mendorong stroller bayi dapat berjalan dengan nyaman.

Selain itu, Thomson Reuters Foundation, seperti dikutip Wego, pernah melakukan survei tentang kota yang nyaman ditinggali perempuan. Survei tersebut mengukur kota ramah perempuan berdasarkan 4 indikator, yakni: kekerasan seksual, akses kesehatan, praktik budaya, dan kesempatan ekonomi. Berdasarkan 4 indikator ini, Thomson Reuters Foundation dalam surveinya yang dilaksanakan tanggal 1 Juni hingga 27 Juli 2017, mengidentifikasi kota yang paling ramah dan kota yang paling berbahaya untuk ditinggali perempuan.

Menurut survei Thomson Reuters Foundation, lima kota yang paling ramah untuk ditinggali kaum perempuan, yakni: London, Tokyo, Paris, Moskow, Shanghai. Kelima kota ini memiliki akses pelayanan kesehatan yang baik bagi perempuan. Sementara lima kota yang paling berbahaya bagi perempuan, yaitu: Kairo, Karachi dan Kinshasa, Delhi, Lima. Kelima kota paling berbahaya ini tidak memiliki akses kesehatan yang baik bagi perempuan, termasuk untuk urusan kesehatan reproduksi perempuan. Dan kota Delhi menjadi kota yang berbahaya bagi perempuan karena tingginya kasus kekerasan seksual dan pemerkosaan, termasuk kesempatan ekonomi yang sangat rendah terhadap perempuan.

Bila dibandingkan dengan kota-kota yang disebutkan di atas, Jakarta lebih termasuk dalam kota yang berbahaya bagi perempuan daripada kota yang aman untuk perempuan. Alasannya, Jakarta tidak memberikan rasa aman pada perempuan. Penerangan di banyak sudut kota Jakarta masih kurang, yang mengakibatkan tingginya potensi kejahatan terhadap perempuan. Untuk itu perlu ditingkatkan pengamanan. Caranya dengan memperbanyak pos polisi atau satpam yang berjaga di sekitar jalan umum sehingga bisa mereduksi tingkat kejahatan dan membuat pengguna jalan merasa aman. Transportasi umum juga sebaiknya dapat dicapai dengan berjalan kaki agar mudah diakses.

Survei Thomson Reuters Foundation mengenai The World’s Most Dangerous Cities for Women 2017 menempatkan Jakarta di urutan ke-9 kota paling berbahaya untuk perempuan. Penyebab utamanya adalah potensi kejahatan dan pelecehan seksual di Jakarta masih sangat tinggi. Tingginya tingkat kejahatan seksual di Jakarta, juga termasuk di Indonesia secara umum. Menurut Komnas Perempuan, di Indonesia setiap hari terjadi 20 kali kekerasan seksual, dan sekitar 24 persen terjadi di ruang publik. Yang dimaksud ruang publik adalah di angkutan umum, taman kota, jalan raya, dan tempat-tempat umum lainnya.

Prinsip dasar dari pembangunan kota ramah perempuan adalah bagaimana membangun kota yang membuat warganya merasa aman. Untuk kota Jakarta, meskipun belum menjadi kota yang sungguh-sungguh aman bagi perempuan telah ada upaya untuk menuju ke arah perbaikan, seperti pengadaan gerbong khusus perempuan di commuterline, pemisahan penumpang perempuan dan laki-laki di busway, penyediaan ruang khusus ibu menyusui. Agar semakin terwujud kota ramah perempuan, upaya itu harus dilakukan di tingkat penyusunan konsep. Pemerintah sebaiknya membuat program-program yang mendukung kota ramah perempuan dan bisa diimplementasikan. Untuk itu setiap program yang dibuat sebaiknya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman perempuan selama berada di ruang publik.

Artikel terkait :

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/10/13/pgj7rs370-strategi-ciptakan-kota-ramah-anak-perempuan

https://www.rappler.com/indonesia/berita/157212-menata-jakarta-ramah-perempuan

http://rri.co.id/post/berita/588400/nasional/pemerintah_wujudkan_negara_ramah_perempuan_dan_anak.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *