Hari Pendidikan Nasional

Category: Pustaka Lestari

 

Hari Pendidikan Nasional
2 Mei 2020
Belajar dari Covid-19

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang biasanya dirayakan dengan upacara bendera di pagi hari, kali ini ditiadakan. Penyebabnya ialah pandemi Covid-19 yang telah merenggut nyawa ratusan ribu manusia di seluruh dunia.

Menyadari kondisi tersebut, dalam merayakan Hardiknas 2020, Kemendikbud mengangkat tema “Belajar dari Covid 19”.

Pemerintah RI menerbitkan protokol pencegahan dan penanganan Covid-19. Antara lain dengan #Tinggal di rumah, #Gunakan masker, #Patuhi social & physical distancing, #Sering mencuci tangan, dan beberapa aktivitas lain untuk mencegah penularan.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta semua unsur yang berkaitan dengan proses belajar/mengajar dan semua Lembaga/Kantor perwakilan Kemendikbud, untuk menyelenggarakan perayaan Hardiknas dengan cara-cara yang kreatif dengan tetap mematuhi protokol Covid-19.

Kemendikbud mengeluarkan pedoman penyelenggaraan Hardiknas. Isinya, Kemendikbud menyelenggarakan Upacara bendera Peringatan Hardiknas tahun 2020 pada tanggal 2 Mei 2020 pukul 08.00 WIB secara terpusat, terbatas, dan memperhatikan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covod-19 yang telah ditetapkan Pemerintah.

Hal itu dilakukan tanpa mengurangi makna, semangat dan kekhikmatan acara. Kemendikbud mengimbau instansi pusat, daerah, satuan pendidikan, serta kantor perwakilan Republik Indonesia di luar negeri untuk mengikuti upacara bendera secara virtual dari rumah ataupun tempat tinggal masing-masing.

Rencananya, upacara akan disiarkan langsung di kanal YouTube Kemendikbud RI dan saluran TVRI Edukasi. Cara ini dilakukan untuk menghindari perayaan yang mengakibatkan berkumpulnya orang banyak pada satu lokasi.

Hardiknas adalah hari besar nasional yang bukan hari libur. Hari Pendidikan Nasional ini ditetapkan melalui Keppres No.316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Perayaan Hardiknas perlu diselenggarakan setiap tahun, untuk memperingati hari lahir Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889, di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta. Ia meninggal di Yogyakarta pada 26 April 1959.

Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh penting di bidang pendidikan yang berjuang demi kemajuan pendidikan bangsa Indonesia. Sekolah Taman Siswa didirikannya berkaitan dengan perjuangannya. Ki Hadjar Dewantara adalah juga pahlawan nasional karena aktivitasnya dalam perjuangan kemerdekaan. Atas jasa-jasanya serta keahliannya dalam bidang pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan yang pertama pada awal kemerdekaan Republik Indonesia.

Namanya yang asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Sejak 1922, namanya berubah menjadi Ki Hadjar Dewantara. Dialah yang mempelopori pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Dia mendirikan Perguruan Taman Siswa, sebuah lembaga pendidikan yang memberi kesempatan bagi pribumi untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti yang diperoleh para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Selama masa penjajahan Belanda, kaum pribumi tidak diperkenankan bersekolah di lembaga pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Yang diizinkan hanyalah kaum priyayi atau orang kaya. Perlakuan ini tidak adil.

Bukan masalah pendidikan saja yang menarik minat Soewardi. Ia adalah juga aktivis pergerakan kemerdekaan.

Sebagai anak yang lahir dari lingkungan bangsawan Jawa, Soewardi yang putra GPH Soerjoningrat dan cucu Pakualam III ini bersekolah di ELS – Sekolah Dasar Eropa – dan kemundian melanjutkan ke Stovia (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tak sampai tamat, karena sakit. Soewardi lalu bekerja sebagai wartawan dan penulis, antara lain di surat kabar Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaum Muda, Tjahaja Timoer dan Poesara.

Tergolong sebagai penulis yang handal, tulisan-tulisan Soewardi komunikatif, tajam dan sangat antikolonial. Pada 1913, keahlian menulisnya inilah yang membawa Soewardi ke pengasingan di Negeri Belanda, bersama Tjipto Mangoenkusumo dan Ernest Doewes Dekker. Di Negeri Belanda minat Soewardi makin tertarik ke pendidikan. Ia terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel, dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan yang dikelola keluarga Tagore.

Pengaruh semua tokoh pendidikan itulah yang mendasari pengembangan sistem pendidikan ciptaannya setelah kembali ke Hindia pada September 1919.

Sekembalinya di Hindia Belanda, segera saja ia bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Pada 3 Juli 1922, pengalaman mengajar di tempat ini, digunakannya untuk mendirikan sekolah Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa. Ketika itu usianya genap 40 tahun. Dan karena Soewardi ingin bergaul lebih dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa, ia pun lalu mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara, yang dalam tulisan ejaan baru, Ki Hajar Dewantara. Gelar kebangsawanannya tidak dipakainya lagi.

Ki Hajar mempunyai semboyan dalam mengelola sistem pendidikan dan pengajarannya yang sampai sekarang pun dikenal di dunia pendidikan. Dalam bahasa Jawa, semboyan itu ialah “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani “, yang dalam bahasa Indonesia bermakna, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang menberi dorongan.” Semboyan ini kemudian bukan hanya dipakai dalam dunia pendidikan di Indonesia, melainkan juga dipakai dalam dunia kepemimpinan. Seorang pemimpin seyogianya berperan di belakang mendorong, di tengah memberi semangat, di depan menjadi teladan.

Dengan merayakan Hardiknas secara virtual, secara virtual pula kita dapat mengetahui sejarah Ki Hajar Dewantara yang melatarbelakangi diadakannya Hardiknas. Akibat Covid-19, kita pun didorong kreatif untuk bukan hanya bekerja dari rumah, tapi juga bersekolah dari rumah.