Menuju Pendidikan Pembelajar Mandiri

Category: Pustaka Lestari

 

Pandemi COVID-19 menyebabkan diterapkannya berbagai kebijakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. Himbauan untuk menjaga jarak di antara masyarakat, menjauhi aktivitas dalam segala bentuk kerumunan berimbas pada proses pengajaran di dunia pendidikan. Sesuai tema perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun 2020, Belajar Dari COVID-19, lebih baik jadikan pandemi ini sebagai pembelajaran untuk memperbaiki dan menyiapkan sistem pembelajaran mendasar yang lebih sesuai.

 

Setelah diatur dengan UU No. 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan yang kemudian dipertegas dengan PP No. 21 Tahun 2020 dan Permenkes 9 tahun 2020 tentang pembatasan sosial berskala besar, dunia pendidikan kita “terpaksa” melakukan pembelajaran daring (online learning). Kenyataannya, banyak  guru maupun murid belum mengenal apa itu pembelajaran daring dan bagaimana melakukannya.

 

Pembelajaran secara daring merupakan pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan perangkat komputer atau gadget yang saling berhubungan. Guru dan murid berkomunikasi secara interaktif melalui perangkat yang terhubung dengan jaringan internet.

Penerapan program belajar dari rumah menantang murid untuk belajar mandiri menggunakan beragam media. Banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran daring seperti Zoom, Whatsapp Group, Google Classroom, Edmodo, Quizzi, Jitsi, dan lain-lain.

Segala kerepotan ini mungkin mengingatkan sebagian kita pada masa awal penerapan Cara Belajar Siswa Aktif di kurikulum tahun 1984. Namun seperti dikutip Tribunnews, pengamat pendidikan Prof. Dede Rosyada menilai kegiatan belajar-mengajar secara daring efektif untuk memenuhi kurikulum. Dan sebenarnya, pembelajaran jarak jauh ini bukanlah kebijakan baru di Indonesia. Setidaknya UU no 20 tahun 2003 telah menyebutkan, Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain. Sistem ini telah diterapkan antara lain di SMP Terbuka, Kejar Paket A, Kejar Paket  B dan layanan Universitas Terbuka. Tetapi secara umum sistem pembelajaran digital masih bersifat pilihan, bahkan untuk jenjang universitas.

 

Pembelajaran jarak jauh menuntut Lembaga Pendidikan untuk mengintegrasikan sistem pengajaran dan tata administrasi akademik. Selain itu tenaga pengajarnya pun perlu memahami sistem pembelajaran digital sebagai bagian kunci dari proses belajar mengajar, lebih dari sekadar memindahkan bahan pengajaran menjadi unggahan PowerPoint, misalnya. Guru perlu bisa lebih persuasif  membuat peserta didik semakin tertarik dengan materi yang diberikan, misalnya dengan membuat video pengajaran yang kreatif supaya murid tidak merasa bosan mengikuti pembelajaran secara daring. Selain itu metode pembelajaran yang bervariasi membuat murid belajar secara kreatif, mengembangkan pemikiran melalui analisis mereka sendiri, tanpa keluar dari pokok bahasan materi yang telah disampaikan oleh guru.

 

Penggunaan teknologi juga dapat menimbulkan kreativitas murid dalam mengembangkan pengetahuan yang dimiliki. Orang tua dapat memantau sejauh mana kompetensi dan kemampuan anaknya. Ketidakjelasan materi yang diberikan oleh guru, bisa menjadi kesempatan menjalin komunikasi antara orang tua dan anak, termasuk untuk membina karakter. Lebih jauh peran orang tua pun diperlukan dalam melakukan pengawasan terhadap penggunaan gadget, untuk membatasi hal-hal yang kurang bermanfaat, hingga menghindarkan penggunaan negatif. Permasalahannya kemudian bukan hanya tentang perangkat, tetapi juga pada biaya lain, seperti pulsa yang perlu diisi ke perangkat agar tetap terhubung ke internet.

 

Kebijakan pembelajaran jarak jauh daring mau tak mau meningkatkan kesadaran untuk menguasai kemajuan teknologi saat ini dan mengatasi permasalahan proses pendidikan di Indonesia. Upaya pemerintah melalui Kemendikbud yang bekerjasama dengan TVRI menyiarkan program belajar dari rumah tiga kali sehari sejauh ini patut dipuji. Setidaknya upaya ini membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena kondisi ekonomi maupun geografis, bisa tetap belajar di rumah. Namun pemerintah pusat dan daerah masih tetap perlu punya inovasi lebih untuk melancarkan kemampuan murid dari masyarakat bawah, termasuk pihak guru, dalam mengakses gadget cerdas dan internet yang baik dan murah untuk belajar-mengajar di rumah.

 

Penerapan belajar di rumah juga menggugah pemahaman tentang pembelajaran mandiri untuk meningkatkan tanggung jawab murid dalam proses belajar. Yang dimaksud adalah, kegiatan belajar yang lebih menitikberatkan pada kesadaran murid untuk mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain. Tugas guru di sini ialah menjadi fasilitator yang siap membantu bila diperlukan. Misalnya dalam menentukan tujuan belajar, memilih bahan dan media belajar, serta memecahkan kesulitan yang tidak dapat dipecahkan oleh murid sendiri. Tanggung jawab ini akan meningkatkan motivasi yang dibangun dengan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan sekarang adalah untuk persiapan masa yang akan datang. Dengan demikian murid punya keyakinan dan dorongan kuat untuk mengembangkan dirinya.

 

Kemandirian pada manusia bersifat psikologis dan dapat dikembangkan melalui latihan yang dilakukan secara berkesinambungan. Bila masyarakat merasakan manfaat metode belajar mandiri sebagai kenormalan baru, sistem pendidikan selanjutnya bisa diarahkan untuk membangun inisiatif murid, kemandirian, yang berujung pada peningkatan mutu murid itu sendiri.