Membangkitkan Kembali Kepedulian pada Sesama

Category: Pustaka Lestari

Hari ini dunia memperingati Hari Palang Merah Internasional, yang bertepatan dengan hari kelahiran Jean Henry Dunant, pendiri Red Cross, sekaligus penerima hadiah Nobel pertama di bidang perdamaian. Peringatan yang telah diadakan sejak tahun 1948 hingga kini ini adalah wujud pengakuan dunia atas peran Komite Palang Merah Internasional atau International Committee of the Red Cross (ICRC) dalam membantu para korban yang terkena dampak konflik dan kekerasan senjata di seluruh dunia.

 

Sebagai sebuah organisasi yang independen dan netral, Komite Palang Merah Internasional yang berdiri sejak 1863 mendapatkan mandatnya dari Konvensi Jenewa pada tahun 1949. Lembaga ini mempekerjakan 16.000 individu di lebih dari 80 negara dengan markas besar di Jenewa, Swiss. Dan selama ini Palang Merah dikenal selalu sigap dan efisien merespon mereka yang terkena dampak kekerasan senjata, terutama di zona konflik ini juga turut serta mempromosikan hukum yang melindungi para korban peperangan.

 

Di Indonesia, Palang Merah memang selalu identik dengan kegiatan donor darah. Kegiatan yang kerap dinilai sebagai aktivitas amal ini tak jarang digelar bermitra dengan berbagai kelompok masyarakat maupun organisasi. Palang Merah juga banyak diberitakan berpartisipasi dalam penanganan berbagai bencana. Demi membantu sesama, Palang Merah sigap bergerak dan efisien menyelamatkan agar tidak menjadi korban bencana ataupun korban kekurangan darah. Bantuan yang diberikan pun beragam, dari obat-obatan hingga bantuan lainnya. Selain memberikan pertolongan pertama dan perawatan darurat sebelum ke rumah sakit, Palang Merah juga memastikan adanya akses kesehatan pertama bagi para korban konflik bersenjata. Misalnya vaksinasi pada anak atau menyediakan perawatan selama kehamilan, termasuk fasilitas kesehatan untuk para korban kekerasan, khususnya perempuan yang membutuhkan bantuan.

 

Palang Merah hadir sebagai wujud kerelawanan dan kepedulian terhadap kemanusiaan. Tentu saja hal ini tak lepas dari cita-cita yang diusung oleh sang pendiri, Jean Henry Dunant. Ia dilahirkan pada 8 Mei 1828 di Jenewa, dari keluarga bangsawan terhormat. Namun status ekonomi keluarga yang lebih dari cukup tidak menahannya untuk memilih hidup sederhana dan lebih banyak belajar mengenai arti kehidupan. Dunant berpikir bahwa setiap negara di dunia harus membentuk sebuah organisasi yang mampu memberikan perawatan selama masa perang bagi orang-orang yang terluka. Tiap masyarakat harus dilibatkan secara aktif dalam gerakan-gerakan pertolongan tersebut, dengan sebelumnya diberi pelatihan keterampilan agar sigap menangani korban. Selama bertahun-tahun Dunant hidup dalam kemiskinan dan kesepian. Saat kematiannya pun, tidak ada upacara penguburan secara resmi. Malah, dia mewariskan seluruh hadiah yang diterimanya kepada orang-orang yang telah merawatnya di rumah sakit desa dan meninggalkan beberapa yayasan amal di Norwegia dan Swiss.

 

Semangat dan nilai-nilai yang diusung Palang Merah pun berlaku di Indonesia. Setidaknya dalam berbagai pemberitaan tercermin, Palang Merah siap membantu dan mengajak semua orang untuk siap dan bisa membantu orang lain saat dibutuhkan. Dengan dilandasi jiwa kemanusiaan Palang Merah mengajak orang untuk menolong sesama saat kesulitan, berjuang untuk menyejahterakan orang banyak. Dan di masa pandemi ini, mau tak mau kita perlu kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang dipegang teguh oleh Palang Merah. Kita berusaha bermanfaat bagi orang lain, dan bukan memanfaatkan yang lain. Dengan saling peduli dan merangkul (tidak secara fisik, tentu saja), kita akan bisa melampaui krisis ini.

 

Masyarakat Cina telah saling menguatkan dengan patuh pada instruksi pihak otoritas dengan mengatakan “Wuhan, jiayou”, yang artinya “Wuhan, kamu pasti bisa”. Italia dalam kondisi krisis pangan, krisis alat kesehatan, dan obat-obatan melawan Corona pun bersemangat dari rumahnya masing-masing menyanyikan lagu-lagu heroik dan mengibarkan bendera negara lewat jendela rumahnya. Di Indonesia, tentu kita telah melihat solidaritas yang tinggi diperlihatkan oleh masyarakat. Berbagai Lembaga, kelompok masyarakat, maupun perorangan yang menggalang dana dan bantuan untuk berbagai pejuang kesehatan dan berbagai pihak yang terdampak COVID-19. Sungguh hati terasa hangat melihat terbangunnya suasana gotong-royong, saling berbagi, saling mencukupi, saling menguatkan, dan saling mengamankan.

 

Jadikan pandemi ini sebagai momentum untuk memperkuat solidaritas sosial sesama anak bangsa dalam menghadapi beragam bencana. Setiap kita bisa melakukan perubahan dari diri sendiri, dengan bergerak berlandaskan pada kepedulian akan sesama. Dan juga terus dukung kinerja Palang Merah, dengan berdonor secara berkala untuk membantu mereka yang membutuhkan. ***