Hari Ibu (Mothers Day) dan Hari Perempuan (Women Day)

Category: Apa Dan Bagaimana, Berita, Perspektif, Suara Perempuan

*Arimbi Heroepoetri.,SH.LL.M, Direktur PKPBerdikari, Fellow MIT – UID Ideas 5.0, staf ahli Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI).


Tanggal tepatnya bisa bervariasi, namun ada kesepakatan umum bahwa minggu kedua di bulan  April, adalah Hari Ibu (Mothers Day) yang  dirayakan di hampir seluruh Negara di dunia.  Hari Ibu adalah penghargaan kepada kaum ibu yang sehari-harinya  mengurus keluarga, setidaknya mengurus suami dan anak-anak, dan untuk kebanyakan orang termasuk mengurus keluarga besar, orang tuanya termasuk orang tua suaminya, kemenakan ataupun saudaranya.  Mengurus keluarga sudah dianggap lazim menjadi tanggung jawab ibu.  Hari Ibu adalah bentuk ungkapan rasa terima kasih kepada ibu yang telah menjaga dan memelihara keluarga selama ini. Pada hari itu, ibu diistimewakan, dimanjakan. Sehari dalam setahun.

Hari Ibu pertama kali digagas oleh Julia Ward Howe, penulis perempuan Amerika Serikat,  pada tahun 1872. Ia melihat bahwa liburan adalah kesempatan untuk menyatukan perempuan dan menggalang perdamaian, lepas dari tugas perempuan sehari-hari di rumah. Ia memulai pertemuan berkala mothers day di Boston. Terilhami oleh kegiatan yang dilakukan Julia Ward Howe, aktivis Anna Jarvis mendorong agar Hari Ibu menjadi hari libur di tahun 1908  ketika ia mengadakan peringatan untuk kematian ibunya,  yang kemudian dirayakan sampai sekarang ini.  Tradisi Hari Ibu adalah mengirim kartu dan memberikan hadiah atau bunga kepada ibu.

Walaupun, para ahli sejarah mengatakan bahwa perayaan Hari Ibu telah ada sejak jaman Yunani Kuno dan Romawi, yang menggelar ritual untuk menghormati ibunda Dewi Rhea dan Cybele. Hari Ibu menjadi hari libur resmi Amerika Serikat di tahun 1914 ketika Presiden Woodrow Wilson memproklamirkan bahwa hari Minggu kedua di bulan Mei sebagai hari “ekspresi publik atas cinta dan hormat kami kepada ibu di Negara kami”. Dan tradisi memberi kartu atau bunga untuk ibu terus berlangsung sampai sekarang.

Menjadi ibu menjadi perempuan

Hari Ibu di Indonesia jatuh pada tanggal 22 Desember, ditetapkan oleh Presiden Soekarno dalam Kepres no. 316 thn 1956, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Pemilihan tanggal 22 Desember karena bertepatan dengan diselenggarakannya Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928. Kongres pertama perempuan se Indonesia, jauh sebelum Indonesia merdeka di tahun 1945. Tema sentral kongres waktu itu adalah memperjuangkan hak perempuan dalam perkawinan, melawan perkawinan dini, poligami dan pendidikan perempuan. Karena itu, sebenarnya tanggal 22 Desember memiliki makna yang berbeda dengan makna Hari Ibu seperti yang diuraikan di atas. Semangat tanggal 22 Desember bukan sekedar penghormatan dan penghargaan kepada seorang ibu, seorang perempuan yang melahirkan. Tetapi melihat masalah perempuan Indonesia pada umumnya, baik yang melahirkan maupun tidak, karena ibu pasti adalah perempuan, namun tidak semua perempuan mampu melahirkan. Apalagi tema-tema utama yang dibawakan dalam kongres tersebut masih relevan sampai sekarang.

Karena itu, banyak aktivis perempuan yang menyarankan sekaligus mengkoreksi bahwa tanggal 22 desember bukanlah hari ibu an sich, tetapi hari kebangkitan perempuan Indonesia, hari di mana para perempuan Indonesia untuk pertama kalinya menghimpun diri, membicarakan dan mencari solusi masalah-masalah yang dihadapi perempuan Indonesia.

Sejarah panjang perjuangan perempuan membela hak-haknya juga dapat dilihat dalam perjalanan Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day)  yang dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya di seluruh dunia. Pertama kali dirayakan pada tanggal 28 Februari 1909 di New York dan diselenggarakan olah Partai Sosialis Amerika Serikat. Kemudian demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan  Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur di Uni Soviet pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di Negara sosialis maupun komunis. Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh PBB untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Pemicu gerakan hari perempuan internasional ini tidak akan terlepas dari nama-nama Clara Zetkin, Rossa Luxemburg dan Alexandra Kolontai. Tokoh-tokoh politik perempuan di Jerman dan Rusia. Clara Zetkin lahir  di Jerman pada 1857 dan meninggal pada 1933. Semenjak kecil ia sudah menyaksikan kehidupan buruh pabrik yang miskin di sekitar rumah tinggalnya. Talenta Clara dalam perjuangan feminisme dan sosialisme yang terpenting adalah sebagai pemikir  yang menggunakan newsletter sebagai medianya. Ia banyak menerbitkan artikel, pamflet, dan menciptakan slogan-slogan perjuangan yang populer, seperti “Proletarier aller Lander, vereinigt euch”. Ia berkawan karib dengan Rosa Luxemburg sebagai sesama aktivis di dalam Partai Sosialis-Demokratik Jerman, dengan feminis sosialis dari Revolusi Bolshevik seperti Aleksandra Kollontai, dan tentu saja dengan V.I. Lenin. Clara-lah yang banyak melakukan diskusi tentang persoalan perempuan dalam revolusi komunis dengan Lenin.

Selama 1885-1917 (sebelum dan selama Perang Dunia I) Clara dikenal sebagai pemimpin gerakan perempuan sosialis di Jerman. Ia dan teman-temannya bekerja untuk isu perempuan, seperti isu hak dipilih bagi perempuan dalam pemilu dan isu beban ganda perempuan sebagai ibu dan buruh. Clara menerbitkan newsletter  “Die Gleichheit”  (kesamaan). Sekali pun pada masa itu para aktivis laki-laki menerima emansipasi perempuan, namun Clara berpandangan bahwa itu tidak serta merta meng-emansipasi cara pandang masyarakat. Clara meyakini bahwa perempuan harus diorganisir secara terpisah di dalam Partai Sosial-Demokratik Jerman karena diskriminasi terhadap perempuan masih berlangsung dan prasangka seksualitas belum pupus. Karena itu, ia menerbitkan newsletter yang khusus mengagitasi perempuan.

Die Gleichheit” yang dikelola Clara mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Pada 1909, pelanggannya mencapai 82,000 orang, bandingkan dengan anggota Partai Sosial-Demokratik Jerman saat itu, yakni 62,259 orang. Pada 1914, pelanggannya melonjak menjadi 125,000 orang. Para pelanggan ini bukan hanya perempuan Jerman, melainkan perempuan skala internasional, mungkin disebabkan karena sejak 1907 Clara terpilih sebagai sekretaris dari Women’s Secretariat (yang kelak menyelenggarakan Konferensi Perempuan Internasional 8 Maret 1910 dan menetapkan hari itu sebagai Hari Perempuan –kelas pekerja– Internasional. Penentuan tanggal “8 Maret” diambil oleh Clara Zetkin sebagai pengingatan atas gerakan protes buruh garmen di New York City pada 1857 dan 1908).

Seorang pelanggan “Die Gleichheit”, yakni Aleksandra Kollontai –feminis dari Rusia— pada akhirnya menjadi kawan karib Clara yang setia. Mereka mempunyai kecocokan gagasan, sehingga terjalin surat-menyurat yang produktif dan saling membutuhkan. Aleksandra membutuhkan Clara untuk membangun feminis sosialis di Rusia, dan sebaliknya Clara meminta Aleksandra rajin mengirim artikel  untuk “Die Gleichheit” mengenai situasi perempuan kelas pekerja di Rusia.  Clara dan Aleksandra merupakan simbol perempuan Jerman dan perempuan Rusia yang dipersatukan dalam “Die Gleichheit”. Hari Perempuan Internasional, 8 Maret, tidak pernah dirayakan di Indonesia ketika Orde Baru (Orba) di bawah Soeharto berkuasa, kemungkinan besar karena sejarahnya yang dekat dengan sosialis dan komunis, ideologi yang dilarang di bawah Orba. Baru sesudah era reformasi paska lengsernya Soeharto di tahun 1998, hari perempuan internasional kembali dirayakan oleh para pegiat hak-hak perempuan di Indonesia. Demikian juga pengkoreksian 22 Desember gencar digaungkan sejak era Reformasi,  para aktivis perempuan di Indonesia lebih suka mengasosiasikan tanggal 22 Desember, yang dibesut sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno sebagai hari  kebangkitan perempuan Indonesia. Era reformasi banyak membuka peluang bagi kerja-kerja pembelaan hak perempuan Indonesia, namun ternyata masalah perempuan yang menjadi pusat perhatian dalam Kongres I perempuan, maupun yang digadang Clara Zetkin masih relevan sampai sekarang dan masih perlu diperjuangkan.(220520).