FDD12

FDD 12 EDISI XXXVI: Peran Produksi Film dan Konten oleh Negara dalam Rangka Pembentukan Karakter Bangsa untuk Mewujudkan Ketahanan Negara

 

POINTERS FDD12 – FGD PFN DAN MPR RI: PERAN FILM MENUMBUHKAN NILAI KEBANGSAAN

10 Desember 2020

 

Sejarah

Tanggal 28 Desember 1895 film pertama diputar dan diakui sebagai film pertama yang dibuat. Sebuah film pendek hitam putih tanpa dialog berjudul “Workers Leaving the Lumière Factory in Lyon” (La Sortie de l'Usine Lumière à Lyon), atau dikenal juga dengan judul “Employees Leaving the Lumière Factory and Exiting the Factory”. Menurut buku Risalah Jejak Film Indonesia (2019), film tersebut sudah masuk dan telah diedarkan untuk kemudian ditonton di Indonesia (Batavia) pada 30 November 1900. Harian Bintang Timur, mempublikasikan ttontonan bagus yang disebut "Gambar Idoep". Film yang menceritakan peristiwa di Eropa dan Afrika Utara itu diputar di bioskop Nederlandsche Bioscoop Maatschappij. Dalam “111 Tahun Kronika Perfilman Indonesia (1900-2011)” pada 5 Desember 1900, Harian Bintang Timur memberitakan "Gambar Idoep” bercerita tentang Ratu Belanda dan Raja Hertog Hendrik memasuki Den Haag akan diputar, bertempat di jalan Kebondjae, Tanah Abang (sebelah dealer mobil Maatschappij Fuch). Pemutaran dilakukan di ruang terbuka dengan harga karcis beragam: f.2 kelas satu, f.1 kelas dua dan f.0,5 kelas tiga. Kebiasaan menonton dapat dikatakan mulai dari masa ini. Pasca kemerdekaan, Hari Film Nasional jatuh tanggal 30 Maret diambil dari hari syuting pertama film berjudul “Darah dan Do’a” (The Long March) sutradara Usmar Ismail, diputar perdana di Istana Merdeka pertengahan tahun 1950 disaksikan oleh Presiden Soekarno.

 

Realitas kini

Dalam sejarah berbangsa dan sampai saat ini, krisis kebangsaan terjadi karena nilai-nilai Pancasila belum dihayati, dan terbatasnya kebijakan terpadu dalam pengamalan nilai Pancasila. Bergesernya fondasi moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menyebabkan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa memudar, ancaman disintegrasi bangsa, dan melemahnya kemandirian bangsa. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi dan menghadapi hal tersebut adalah melalui kebijakan nasional pembangunan karakter bangsa. Karakter merupakan ciri, perilaku berdasarkan identitas, budaya dan nilai luhur kebangsaan. Dasar dalam berpikir dan bertingkah laku kepada kepada diri sendiri, sesama dan sebagai warga negara.

 

Peran Film dalam Pembentukan Karakter Kebangsaan

Film berperan dalam pembentukan karakter berbangsa, karena dapat mengkomunikasikan dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda terutama pada generasi sekarang yang sangat lekat dengan teknologi. Berhadapan dengan perkembangan pemikiran kritis anak bangsa, diperlukan satu formulasi baru dalam cara untuk menyampaikan sehingga film adalah media yang paling tepat, menarik, dan mudah dicerna. Pelaku industri film seharunya menyadari kekuatan film, sehingga kelak lebih banyak lagi diproduksi film-film inspiratif. Film adalah media yang berperan penting dalam pembentukan karakter.

 

Kebijakan Pemerintah

Pemerintah melalui kemendikbud berupaya memperkuat karakter generasi muda melalui pemutaran film-film inspiratif berkualitas yang akan diputar di 30 kota. Pergeseran nilai pada generasi muda masa dan pengaruh globalisasi menjadi sebab yang tidak memungkinkan penggunaan pendekatan konservatif dalam pembentukan karakter dan penanaman nilai kebangsaan. Melalui film internalisasi nilai budaya dan pendidikan karakter dapat ditanamkan dengan menyenangkan dan efektif bagi masyarakat.

 

Rekomendasi

Atas pertimbangan tersebut, negara harus melakukan peremajaan sumber daya dan melibatkan stakeholders untuk menghasilkan konten berkualitas yang mampu menumbumbuhkan nilai kebangsaan. Selanjutnya membuat program jangkah panjang untuk film tanah air agar para produser film mampu mengedukasi masyarakan untuk lebih memahami kemudian mengimplementasikan nilai kebangsaan dan nasionalisme. 

 

Narasumber:

Dr. Rima Agristina (Deputi Pengendalian dan Evaluasi BPIP)

Muhammad Farhan (Anggota DPR RI Periode 2019-2024)

Hanifah Makarim SKom, M. Laws (Direktur Pembiayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI)

Drs. Purwadi Sutanto, M.Si (Direktur Sekolah Menengah Atas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).

 

Highlights