FDD12

FDD 12 EDISI XXXVIII: Indonesi Economy Outlook: Meramu Jalan Kebangkitan Perekonomian Bangsa 2021

 

POINTERS FORUM DISKUSI DENPASAR 12 EDISI XXXVIII

Indonesi Economy Outlook: Meramu Jalan Kebangkitan Perekonomian Bangsa 2021

23 Desember 2020

 

Tahun 2020 akan diingat sebagai monoshock Covid-19, sebuah guncangan bagi dunia, dimana kita beradaptasi, bertahan dengan protokol kesehatan dan pembatasan sosial sebagai kenormalan baru. Tersedianya vaksin membangkitkan optimisme kebangkitan di berbagai sektor. Grafik menunjukkan pandemi belum berakhir. Kendati demikian dibutuhkan langkah antisipatif memasuki masa post Covid-19.

 

Kita menyadari tahun 2020 penuh dengan distraksi. Beberapa kata kunci yang menjadi variabel utama yang saling berhubungan dengan catatan perekonomian Indonesia sepanjang tahun ini adalah kesehatan, lapangan kerja, pengangguran, penyerapan anggaran, reformasi struktural, kebijakan fiskal, UMKM, produktivitas masyarakat, pendapatan, konsumsi, dan vaksin.

 

Secara global, Morgan Stanley dalam penelitiannya memproyeksi pertumbuhan GDP dunia sebesar 6,4% pada tahun 2021. Pertumbuhan ini disertai dengan perkembangan pasar dan dimulainya kerja sama perdagangan. Proses pertumbuhan ini disebut “V-Shape Recovery” sambil memperhatikan tren dampak pandemi pada sektor privat.

 

Akselerasi pasar dan konsumsi ikut menentukan dalam pertumbuhan ekonomi global pada quarter II tahun 2021. Prediksi pemulihan ekonomi secara global baru tercipta pada bulan Maret atau April 2021. Hal ini berarti kebijakan ekonomi di quarter pertama 2021 mesti mempertimbangkan situasi pra pandemic Covid. Kebijakan fiskal menentukan pemulihan ekonomi.

 

Catatan Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia berjudul Towards a Secure and Fast Recovery diterbitkan bulan Desember 2020 ini memberi catatan menarik bahwa pada Q2 dan Q3 sektor transportasi dan perhotelan ikut mendorong pertumbuhan GDP sementara sektor lain masih mengalami kontraksi.

 

Mobilisasi di setiap sektor kemungkinan baru terjadi pada Q3. Pada tataran ini kebijakan pada level makro-ekonomi dan kebijakan fiskal mampu memitigasi dampak krisis. Diperlukan upaya konkrit yang mampu mendorong pemulihan ekonomi.

 

Untuk pemulihan ekonomi pada tahun 2021, diperlukan komitmen bersama dengan pemerintah untuk:

1. Meningkatkan test and trace, sambil memastikan pemberian vaksin secara efektif untuk mencegah penyebaran wabah.

2. Mempercepat reformasi struktural untuk akselerasi pemulihan ekonomi, melalui pengembangan potensi ekonomi secara optimal.

3. Merumuskan kebijakan fiskal yang mesti berorientasi pada masyarakat berdampak sebagai wujud cricis response.

4. Mengawasi dan mendorong produktivitas masyarakat pada sektor privat, UMKM.

 

Hari ini, para narasumber akan memberi insight, catatan dan analisis yang dapat membantu kita untuk berbenah. Tahun 2020 akan menjadi sebuah catatan berarti bagi manusia. Sambil mengupayakan pemulihan ekonomi, kita pun belajar dari proses saling menjaga di antara masyarakat bahwa dalam situasi sulit sekalipun nilai kebangsaan tak boleh luntur apalagi terkikis. Sebab melalui solidaritas, persatuan, gotong-royong kita mampu melawan setiap tantangan.

 

Narasumber: 

Enggartiasto Lukita (Menteri Perdagangan RI Periode 2016-2019)

Purbaya Yudhi Sadewa (Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)

Prof. Bustanul Arifin (Professorial Fellow at the International Center for Applied Finance and Economics of Bogor Agricultural University (InterCAFE-IPB)

Shinta Witoyo Dhanuwardoyo (CEO/Founder Bubu.com & Angel Investor)

Doni Kris Puriyono (Presiden Komunitas Tangan Di Atas (TDA)

 

Highlight: