FDD12

Edisi 64 Lanskap Pandemi: Optimisme di Tengah Ketidakpastian

 

Gelombang baru Covid-19 melanda sebagian negara Asia dengan sangat hebat. Kita berhadapan dengan situasi ketidakpastian. Dengan realitas “kelelahan” akibat pandemi, kita diharuskan bertahan dan beradaptasi dengan melonjaknya kasus Covid sepanjang gelombang kedua ini.

Adaptive resilience atau ketahanan adaptif adalah kemampuan organisasi untuk bertahan dan beradaptasi kemudian merespons situasi melalui budaya transparan (openness), kerja tim (teamwork) dan visi bersama (shared vision). Ketahanan adaptif membutuhkan kepemimpinan, kolaborasi, pembelajaran, dan sumber daya manusia yang terikat dalam komunikasi intens. 

Apresiasi atas gerak tanggap pemerintah yang terus berupaya melalui ragam kebijakannya termasuk program vaksinasi nasional yang membangkitkan optimisme sebagai satu bangsa untuk secepatnya keluar dari cengkeraman ketidakpastian (uncertainty). Data dan statistik mestinya tidak melunturkan simpati dan kepekaan kemanusiaan kita. Artinya setiap upaya kita sekecil apapun dibutuhkan dalam rangka gerak bersama menahan bahkan memutus laju penyebaran wabah.

Di tengah duka yang mesti kita hadapi setiap hari, kepedulian hati dan pikiran rasional kita mesti terarah pada ruang batin masyarakat karena kegalauan akibat ketidakpastian dunia usaha, nasib tenaga kerja yang menjadi tidak menentu, hak pendidikan anak yang tidak terpenuhi secara layak sehingga meningkatkan level stress warga negara yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan.

McKinsey & Company menerbitkan sebuah essay dengan judul Strategic Resilience during The Covid-19 Crisis menggarisbawahi kemitraan, adaptasi, mengoptimalkan peluang, memediasi aspirasi dan menciptakan model dan pendekatan baru sebagai strategi bertahan.

Optimisme penanganan, pencegahan covid-19, dan menghadapi ketidakpatian (uncertainty) perlu dibangun sebuah pemahaman (understanding) dan kesadaran bersama untuk terus menaati ragam kebijakan seperti protokol kesehatan kemudian beradaptasi dengan kenormalan baru. Ada sebuah frasa yang selalu (saya) tekankan yakni sense of crisis. Tanpa “sense” ini kecenderungan menganggap remeh krisis pasti ada dan masyarakat tak terbiasa mendapatkan edukasi yang diperlukan.

Warren Bennis dan Burt Nanus, dua pakar ilmu bisnis dan kepemimpinan merumuskan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity). Persis seperti saat ini, keadaan menuntut reaksi cepat kita dengan perubahan cepat dan diluar kontrol sehingga diperlukan visi bersama (volatile – vision). Kemudian diperlukan pemahaman untuk mengambil langkah pasti (uncertainty – understanding). Kompleksitas permasalahan dengan banyak ketergantungan dan keterhubungan memerlukan kejelasan dalam kebijakan dan tidakan bersama (complexity – clarity). Satu permasalahan yang menimbulkan permasalahan lain dan nyatanya di luar kemampuan kita patut diimbangi dengan gerak cepat penanganan (ambiguity – agility)

Di atas semua itu, nilai-nilai luhur dalam konsensus kebangsaan yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika mesti menjiwai seluruh diri anak bangsa, untuk memberi diri saling melayani sebagai wujud spiritualitas diri, memperkuat persatuan, membangun dialog dan sinergi, berkolaborasi, bahwa kemanusiaan Indonesia mesti menjadi tempat pertama di tengah ketidakpastian berakhirnya pandemi. (RLM)

 

Highlight