Pustaka Lestari

Kondisi Perekonomian Provinsi Bali Agustus 2020

Minggu, 13 September 2020 coronavirus, covid-19, agustus 2020, bali, ekonomi

 

Ditengah pandemi COVID-19, kinerja ekonomi Bali pada triwulan II 2020 terkontraksi makin dalam. Ekonomi Bali tercatat tumbuh sebesar -10,98% (yoy) pada triwulan II 2020, lebih rendah dibanding triwulan I 2020 yang sebesar -1,14% (yoy). Angka ini juga lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama, sebesar -5,32% (yoy).

Dari sisi permintaan, kontraksi kinerja ekonomi Bali bersumber dari seluruh komponen yaitu konsumsi RT, konsumsi pemerintah, investasi, dan ekspor luar negeri. Hal ini disebabkan oleh masih berlangsungnya pandemi COVID-19 yang menyebabkan penurunan kinerja pariwisata sehingga menekan daya beli, menahan konsumsi pemerintah ditengah pendapatan yang menurun, menyulitkan realisasi investasi ditengah penerapan protokol physical distancing, serta menurunkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.

Selanjutnya, dari sisi penawaran, kontraksi yang makin dalam juga bersumber dari seluruh lapangan usaha (LU). Kinerja LU Akmamin dan LU Transportasi kontraksi karena kunjungan wisatawan yang menurun signifikan ditengah kekhawatiran penyebaran COVID-19. Kinerja LU Perdagangan juga kontraksi makin dalam karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat termasuk pembatasan jam operasional pusat perdagangan. Kinerja LU Kontruksi juga tertahan akibat pengerjaan proyek menjadi sulit ditengah perlunya physical distancing. Kinerja LU pertanian juga kontraksi karena melemahnya permintaan.

Ekonomi Bali pada triwulan III 2020 diprakirakan akan sedikit membaik dibanding triwulan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pelonggaran kebijakan pariwisata Bali untuk wisatawan domestik seiring dengan dimulainya tatanan kehidupan era baru, didukung dengan kebijakan sertifikasi pelaku usaha pariwisata. Selain itu, pembangunan proyek strategis juga tetap berjalan sesuai jadwal.

Realisasi belanja pemerintah (APBD & APBN) di Wilayah Bali pada triwulan II tahun 2020 tercatat sebesar Rp11,43 triliun atau tumbuh -6,61% (yoy). Capaian ini lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan realisasi belanja triwulan II tahun 2019 yang tumbuh sebesar 11,78% (yoy), dengan nominal Rp12,24 triliun. Penurunan realisasi belanja tersebut, terutama disebabkan oleh kontraksi pertumbuhan realisasi belanja di kategori APBN yang mengalami kontraksi 6,00% dan APBD Kabupaten/Kota yang terkontraksi sebesar 15,34% pada triwulan II 2020. Kondisi ini seiring dengan kebijakan refocusing anggaran untuk penanganan COVID-19.

Realisasi pendapatan daerah di Bali pada triwulan II tahun 2020 terkontraksi sebesar 12,78% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2019 yang tumbuh sebesar 8,44%. Realisasi pendapatan yang menurun tersebut bersumber dari penurunan realisasi APBD Kabupaten/Kota, maupun APBD provinsi. Kondisi ini terutama disebabkan oleh melambatnya realisasi komponen Dana Perimbangan, sejalan dengan melambatnya realisasi DAK. Sejalan dengan hal tersebut, realisasi komponen retribusi daerah juga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh penurunan kegiatan pariwisata sebagai dampak COVID-19.

Realisasi inflasi Provinsi Bali pada triwulan II 2020 tercatat sebesar 2,18% (yoy), melandai dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan I 2020 yang sebesar 3,04% (yoy). Namun demikian, realisasi inflasi tersebut lebih tinggi dibanding dengan realisasi inflasi Nasional pada periode yang sama (1,96% (yoy). Melandainya inflasi disebabkan oleh turunnya tekanan harga di sebagian besar kelompok barang.

Turunnya tekanan inflasi bersumber dari masih lemahnya permintaan, terutama disebabkan oleh belum pulihnya industri pariwisata. Namun demikian, kondisi cuaca seperti gelombang tinggi dapat berisiko meningkatkan harga ikan laut dan mengganggu distribusi pasokan makanan.

Secara umum, kondisi stabilitas keuangan di Bali pada triwulan II 2020 masih terjaga. DPK dan Kredit pada triwulan II 2020 masih tumbuh positif, meski melambat seiring dengan penurunan kinerja perekonomian secara keseluruhan. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) di Wilayah Bali pada triwulan II 2020 tercatat tumbuh sebesar 0,91% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 9,44% (yoy).Sementara itu, penyaluran Kredit pada triwulan II 2020 tercatat tumbuh 2,58% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,36% (yoy). Kualitas kredit di Wilayah Bali pada triwulan II 2020 masih terjaga. Hal ini tercermin dari Non performing loan (NPL) Gross, yang menurun pada triwulan II 2020 menjadi 3,66% dari 3,80% pada triwulan sebelumnya.

Penyaluran kredit korporasi  pada triwulan II2020 terkontraksi sebesar 0,55%(yoy), menurun dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,96%(yoy). Dari sisi penggunaan, menurunnya kinerja penyaluran kredit korporasi  bersumber dari penyaluran kredit investasi. Berdasarkan jenis LU, menurunnya kredit korporasi terutama bersumber dari melambatnya kredit LU Akmamin dan kontraksi kredit LU Perdagangan. Kualitas kredit korporasi sedikit membaik. Pada triwulan II 2020, NPL kredit korporasi tercatat sebesar 6,17%, lebih rendah dibandingkan dengan NPL triwulan sebelumnya (7,13%).

Pada triwulan II 2020, kredit rumah tangga tumbuh 2,83%(yoy), melambat dari triwulan lalu yang sebesar 7,28% (yoy). Melambatnya kredit rumah tangga bersumber terutama dari melambatnya kredit multiguna, seiring dengan mulai meningkatnya suku bunga kredit tersebut. Risiko kredit RT masih terjaga cukup baik, tercermin dari tingkat NPL yang masih cukup rendah dan berada di bawah 5%. Namun demikian, NPL pada triwulan II 2020 sedikit meningkat (2,16%) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (1,79%).

Kredit UMKM terkontraksi pada triwulan II 2020, sejalan dengan penurunan kinerja ekonomi Bali. Kredit UMKM terkontraksi sebesar 2,51% (yoy), menurun dari  triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,79% (yoy). Menurunnya kredit UMKM di Bali terutama bersumber dari kredit UMKM LU Perdagangan (pangsa 55,67%) dan LU Akamamin (pangsa 11,49%).  Meskipun kredit UMKM terkontraksi, namun kualitas kredit masih terjaga. NPL kredit UMKM pada triwulan II 2020 tercatat sebesar 3,19%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan lalu (3,10%), namun masih terjaga di bawah 5%.

Perkembangan transaksi tunai dan non tunai cenderung melambat. Perkembangan kinerja transaksi tunai pada triwulan II 2020 di Provinsi Bali menunjukkan terjadinya net inflow sebesar Rp1,42 triliun. Kondisi tersebut disebabkan oleh kinerja ekonomi Bali yang mengalami kontraksi cukup dalam pada triwulan berjalan. Sejalan dengan hal tersebut, perkembangan transaksi nontunai juga menunjukkan perlambatan.

Pada triwulan II 2020, volume transaksi melalui SKNBI tercatat sebesar 264,87 ribu lembar atau tumbuh -35,83 (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar -13,10% (yoy). Nominal transaksi SKNBI tercatat sebesar Rp8,2 triliun atau tumbuh -31,37% (yoy) pada triwulan II 2020. Capaian ini lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar -3,57% (yoy). Transaksi Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) juga mengalami perlambatan. Nominal BI-RTGS tercatat sebesar Rp27,13 triliun atau tumbuh -14,89% (yoy) pada triwulan II 2020, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp31,94 triliun atau tumbuh sebesar 15,65%. Volume transaksi melalui BI-RTGS tercatat sebesar 16,25 ribu lembar atau tumbuh -14,57 (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan I 2020 yang tumbuh sebesar 1,47% (yoy).

Sementara itu, perkembangan nominal transaksi penyelenggara KUPVA BB menurun. Nominal transaksi penyelenggara KUPVA BB di Provinsi Bali pada Triwulan II 2020 mengalami kontraksi sebesar 87,50% (yoy), menurun dibandingkan triwulan I 2020 yang tercatat tumbuh sebesar 2,66 % (yoy).

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sedikit meningkat. Perkembangan TPT di Bali pada Februari 2020 tercatat menunjukkan peningkatan dari sebesar 1,19% pada Februari 2019 menjadi 1,21% (yoy) pada Februari 2020. Peningkatan angka pengangguran disebabkan oleh peningkatan angkatan kerja yang belum mampu diimbangi oleh peningkatan kesempatan kerja.

Pada Maret 2020 mengalami peningkatan dibandingkan September 2019. Persentase penduduk miskin Bali pada Maret 2020 tercatat sebesar 3,78%, atau sejumlah 165,19 ribu orang, meningkat dibandingkan dengan periode September 2019 yang sebesar 3,61%(156,91 ribu orang). Sejalan dengan itu, rasio gini provinsi Bali meningkat dari 0,366 pada September 2019 menjadi 0,369 pada Maret 2020.  *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI