Pustaka Lestari

Bulan Kesadaran Kanker Payudara

 

Bulan Oktober merupakan bulan kesadaran kanker payudara termasuk pada tanggal 13 Oktober yang diperingati sebagai Hari Tanpa Bra (No Bra Day) atau Hari Tanpa Beha. Berdasarkan studi Globocan 2018, kanker payudara menduduki grafik tertinggi dari seluruh pengidap kanker yang ada di Indonesia kemudian disusul oleh kanker serviks dan lainnya.

Masih merujuk pada data yang sama khusus untuk perempuan bahwa kasus baru kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi atau sebesar 30,9 persen atau 58.256 dari total 188.231 kasus baru di Indonesia. Penyebab pasti penyakit ini belum dapat diketahui. Namun ada 3 faktor yang berpotensi yaitu faktor endokrin, faktor lingkungan, dan faktor genetik

Yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan karena kematian nomor 2 perempuan yakni kanker payudara, bahwa 70 persen pasien sudah berada di tingkat lanjut. Di Amerika Serikat 180.000 kasus baru per tahun. Di Netherlands 91 kasus baru setiap 100.000 penduduk. Di Indonesia sendiri, diperkirakan 10 dari 100.000 penduduk terkena penyakit kanker payudara.

Di Indonesia terdapat beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan pengobatan maupun pencegahan kanker payudara. 70% dari penderita berkunjung ke dokter atau rumah sakit pada keadaan stadium lanjut. Hal lain yang juga menjadi faktor keterlambatan penderitA: (1) takut operasi, kemoterapi dan radiasi; (2) masih percaya dengan pengobatan tradisional, dukun, paranormal atau ‘orang pintar’; (3) tidak percaya bahwa kanker payudara dapat disembuhkan; (4) tidak menyadari akan penyakit yang dideritanya; (5) sosial-ekonomi.

Perempuan Indonesia menjaga kesehatan secara rutin selama satu bulan sekali. Jika ditemukan benjolan maka perlu dilakukan periksa payudara sendiri secara klinis atau memeriksakan diri ke dokter.

Kekambuhan menjadi momok menakutkan bagi para survivor atau mantan penyintas kanker payudara. Karena pada dasarnya, kanker payudara tidak akan benar-benar hilang, melainkan hanya berubah menjadi sel-sel tidur (dormant) di dalam aliran darah

Adapun faktor utama yang menyebabkan kambuhnya kanker payudara ialah imunitas tubuh yang menurun. Imunitas merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virus, mikroorganisme, maupun penyakit dari luar tubuh.

Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan imunitas tubuh menurun, antara lain makanan yang kurang bergizi, kurang beristirahat, hingga kurangnya kemampuan melakukan manajemen stres. Untuk itu makanan harus bergizi, sehat, diolah dengan baik dengan sehat, tidak lebih, secukupnya. Kalau asupan makanan kurang, maka daya tahan tubuh akan berkurang. Manajemen stres juga perlu dikelola dengan baik.

Terdapat dua jenis imunitas di dalam tubuh manusia, yakni imunitas spesifik dan imunitas nonspesifik. Imunitas spesifik merupakan pertahanan tubuh yang memiliki tugas khusus, atau yang kerap kali disebut antibodi. Sedangkan imunitas nonspesifik adalah daya tahan tubuh yang dibawa sejak lahir. Contohnya kulit tubuh, itu juga semacam jaringan imunitas supaya tubuh tidak dimasuki oleh kuman.

Bagi yang sudah terdiagnosis kanker payudara, sebaiknya mengikuti anjuran dokter. Pengobatan jangan ditunda karena pengobatan yang sesuai anjuran akan memberikan hasil yang lebih baik. Karena itu, sebagai langkah pencegahan, dianjurkan kepada masyarakat untuk rutin melakukan deteksi dini kanker payudara melalui periksa payudara sendiri (Sadari) maupun periksa payudara secara klinis (Sadanis).

Sadanis  dapat dilakukan dengan mamografi. Sejak mamografi digunakan secara luas sebagai metode skrining, ukuran tumor saat pertama dideteksi dan tingkat kematian akibat kanker payudara menurun cukup tajam sampai 20% dalam 10 tahun terakhir. Kanker payudara di Indonesia sampai saat ini merupakan kanker kedua tersering pada wanita setelah kanker mulut rahin.

Dengan insiden kanker payudara sekitar 100 per 100.000 jiwa per tahun dan lebih dari 50% di antaranya ditemukan dalam stadium lanjut, mamografi masih menjadi alat yang diandalkan dalam mendeteksi kanker payudara. Masih sedikitnya penemuan kasus dalam stadium dini menyebabkan upaya deteksi dini dan skrining menjadi sangat penting.

Mamografi merupakan salah satu upaya ini, di samping metode lain, yaitu SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) dan pemeriksaan klinis oleh dokter. Mamografi sendiri sangat bermanfaat dalam menemukan lesi berukuran sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran di bawah 1 cm).

Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun. Pemeriksaan dasar ini akan memberikan data awal jaringan payudara wanita.

Bila mamografi dilakukan secara rutin diharapkan jika ada perubahan sedikit saja dari jaringan payudara wanita akan dapat segera diketahui. Sayangnya, pola pikir seperti ini tidak dijumpai pada kaum perempuan umumnya, sangat jarang seorang perempuan datang dengan kesadaran sendiri dan meminta dilakukan mamografi. Hampir semua pasien datang dengan keluhan nyeri atau benjolan, dan hampir semuanya membawa surat rujukan.

Sekali seorang pasien terdeteksi memiliki gejala kanker payudara atau skrining mamogram menunjukkan adanya hal yang tidak normal pada payudara, biasanya akan disarankan untuk melakukan mamogram diagnostik. Mamogram diagnostik adalah seperangkat alat sinar x lainnya, yang lebih lengkap dengan merinci pada daerah yang mencurigakan.

Jika dokter mencurigai wanita memiliki kista atau wanita masih muda atau memiliki dense breast, dokter menyarankan untuk melakukan ultrasonografi. Ultrasonogrofi menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi di daerah yang dicurigai pada payudara. Ultrasonografi tidak menyakitkan dan seringkali berguna untuk membedakan antara lesi yang ganas atau jinak.

Berdasarkan hasil mamogram dan/atau ultrasonografi, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan biopsi. Biopsi adalah satu-satunya cara untuk memastikan apakah Anda terkena kanker, karena dengan biopsi, sel diambil dan diteliti di bawah mikroskop.

Ada beberapa jenis biopsi, tergantung dengan berapa banyak jaringan yang diambil. Ada biopsi yang menggunakan jarum yang halus, jarum yang lebih tebal atau membutuhkan prosedur operasi kecil untuk mengangkat jaringan lebih banyak. Tim dokter akan menentuan jenis biopsi yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan massa payudara.

Sesudah jaringan diangkat, spesialis patologi akan meneliti spesimen itu yang dapat diketahui bersifat kanker atau tidak. Jika kanker, patolog akan menggolongkannya melalui asal jenis jaringan, penampakan abnormal (dikenal sebagai tingkatan), penyebaran ke jaringan sekitar.

Jika seluruh benjolan telah diangkat, spesialis patologi dapat mengetahui apakah ada sel kanker yang tertinggal pada batas pengangkatan (disebut margin). Spesialis patologi juga akan meneliti keberadaan reseptor estrogen dan progesteron atau disebut HER-2/neu pada sel kanker. Hal ini penting dilakukan karena kanker dengan reseptor dapat melakukan pengobatan terapi hormonal. Terdapat juga terapi lain yang dapat dilakukan bergantung pada HER-2/neu. *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI