Pustaka Lestari

Pangan dan Makanan Tidak Terkonsumsi

Sabtu, 17 Oktober 2020 indonesia, ketahanan pangan, pangan dan makanan

 

Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Seorang penulis buku ternama tentang makanan dari Amerika, M.F.K. Fisher, pernah mengatakan, “First we eat, then we do everything else.”, yang artinya “Pertama-tama kita makan dahulu, lalu baru kita lakukan hal yang lain.”. Kutipan tersebut menggambarkan bahwa sebenarnya makanan atau pangan adalah “inti” dari sebagian besar hal yang ada di hidup kita (Goodwin, 2016).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, pangan diartikan sebagai segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan/atau pembuatan makanan atau minuman.

Apabila kita berbicara mengenai pangan, maka bahasannya tidak luput dari ketahanan pangan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan (UU No. 18 Tahun 2012 Pasal 1 ayat 4).

Secara lintas pemerintahan, berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan ketahanan pangan. Namun tetap saja hingga saat ini upaya-upaya yang dilakukan tersebut belum berdampak besar bagi kelangsungan hidup masyarakat Indonesia. Faktor yang terkait dengan laju peningkatan produksi masih menjadi masalah yang sulit diatasi. Relatif tingginya laju konversi lahan pertanian (ke nonpertanian) yang sulit dicegah di satu sisi, dan laju pertumbuhan penduduk (1,49% per tahun) di sisi lain; keduanya secara simultan merupakan hal yang berpengaruh besar pada pemenuhan kebutuhan pangan dari budidaya pertanian.

Faktor lain yang relatif sulit dikendalikan antara lain perubahan iklim dan volatilitas harga pangan yang mengurangi insentif petani dalam memproduksi bahan pangan (Kariyasa dan Achmad, 2012). Lebih lagi, upaya untuk meningkatkan produksi pangan tersebut tidak seiring sejalan dengan upaya pengurangan makanan tak terkonsumsi (food waste) yang cenderung meningkat baik yang terjadi pada tingkat pengecer maupun tingkat konsumen.

Food waste kemudian berkembang dalam isu global yang saat ini menjadi pusat perhatian masyarakat dunia. Mulai dari negara berkembang hingga negara maju mencoba mengembangkan berbagai metode atau pendekatan untuk berkontribusi dalam menyelesaikan masalah ini. FAO menyatakan bahwa sekitar 33% hingga 50% makanan yang telah diproduksi, tidak dikonsumsi dengan semestinya.

Secara distribusi geografis, negara-negara berkembang lebih banyak membuang makanan secara jumlah dan berdasarkan per kapita. Namun, perkembangan pesat ekonomi dunia menghasilkan jumlah food waste yang semakin banyak sebagai hasil dari pertumbuhan penduduk dan peningkatan konsumsi yang terkait. (FAO, 2013).

Di Indonesia sendiri, tanpa disadari food waste menjadi isu yang sangat besar. Hal ini ditunjukan dengan Indonesia sebagai penghasil food waste tertinggi kedua di dunia. Sampah makanan (food wastage) Indonesia diestimasi sebesar 300 kilogram sampah makanan per orang setiap tahun (Economist Intelligence Unit, 2017).

Sampah makanan di sini adalah akumulasi food waste yang mengacu semua produk makanan yang tidak terserap konsumen berupa sisa makanan dan food loss yang mengacu pada produk pangan yang terbuang sebelum sampai ke pelanggan seperti gagal panen, ikan di laut yang teracuni, dan lain-lain. Karena masih merupakan negara berkembang, banyak faktor yang bisa jadi adalah sumber dari terjadinya food waste.

Ada studi yang memperkirakan 46% sampah berasal dari tahap pengolahan, distribusi dan konsumsi pasokan makanan rantai (Pressinott, 2013). Lalu disebutkan dalam studi terdahulu lainnya bahwa penyebab food waste adalah karakteristik perilaku konsumen terkait budaya 2 konsumsi, seperti terlalu banyak persiapan dan pembelian berlebih.

Hal ini ditunjukan dengan adanya penelitian yang menyatakan bahwa sebanyak 11% produk makanan yang dibeli terbuang oleh bahkan tidak dibuka (Wansink, 2001). Food waste mengacu pada makanan apa pun yang dibuang meskipun masih sesuai untuk konsumsi manusia, apakah itu disimpan di luar tanggal kedaluwarsa atau dibiarkan rusak (Food and Agriculture Organization of the United Nations, 2013).

Food waste mempengaruhi lingkungan dengan memperburuk konsumsi energi, penggunaan sumber daya, dan peningkatan kuantitas limbah yang dihasilkan sehingga menjadi masalah sosial, lingkungan yang penting, serta mempengaruhi biaya dalam rantai pasokan makanan. Dari semua makanan yang diproduksi di seluruh dunia setiap tahun, sekitar sepertiga, atau 1,3 miliar ton, dibuang menjadi limbah (Gustavsson et al., 2011; Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, 2013).

Produk pangan bersifat perishable, sehingga sumber penyebab utama food waste adalah lifetime produk pangan yang relatif pendek. Permasalahan terkait lifetime produk dalam industri pangan merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas, terutama pada store-level yang berada pada ujung rantai pasok sebelum mencapai end customer.

Lifetime produk pangan yang singkat ini sering kali membuat produk berakhir menjadi food waste. Food waste didefinisikan sebagai produk pangan yang masih layak untuk dikonsumsi, atau yang telah rusak atau kedaluwarsa, namun dikeluarkan dari rantai pasok karena perilaku ekonomi dan manajemen stok yang buruk atau kelalaian.

Food waste diasosiasikan sebagai produk tak terjual/ tidak terserap pasar dan sudah melewati masa freshness produk tersebut. Selanjutnya, ada dua opsi untuk menindaklanjuti food waste tersebut yakni dimusnahkan atau digunakan untuk kebutuhan lain. Adanya food waste pada suatu industri merupakan indikasi dari sistem produksi makanan dan konsumsi yang unsustainable. Hal ini akan berujung pada masalah berupa rendahnya margin total pada produk makanan dan biaya operasi yang semakin tinggi.

Oleh karena itu, mengurangi food waste merupakan permasalahan yang kompleks bagi industri pangan untuk diselesaikan. Dalam mengurangi food waste, ada banyak parameter yang harus diperhatikan. Food waste bisa muncul dari sistem persediaan dan distribusi barang yang kurang baik. Food waste sering muncul dari produk yang masih layak konsumsi namun tidak ditata (dirotasi) dengan baik sehingga justru produk yang seharusnya dikonsumsi terlebih dahulu justru diabaikan dan menjadi food waste.

Ketidakpastian tingkat konsumsi pelanggan akan produk pangan juga menjadi masalah besar penyebab munculnya food waste. Peninjauan ulang pada sistem persediaan dan melakukan strategi-strategi peramalan menjadi usulan yang aplikatif dalam penelitian ini untuk mengurangi food waste.

Dengan demikian, untuk mencari skenario yang terbaik dari usulan tersebut digunakan pendekatan simulasi monte carlo. Simulasi digunakan sebagai media penyelesaian masalah karena banyaknya unsur ketidakpastian yang tidak mampu ditangkap oleh model matematis bahkan model probabilistik sekalipun.

Lalu pemilihan monte carlo sebagai metode simulasi dikarenakan tidak adanya keterkaitan data satu sama lain, dimana penjualan yang terjadi pada suatu hari tidak dipengaruhi hari lainnya. Meminimasikan waste merupakan topik yang sudah dipikirkan oleh banyak industri sebagai langkah lain dalam minimasi biaya.

[05:56, 10/17/2020] Om Dhony Iswandi  Bu Rerie A 370: Feed# Pada penelitian Buisman, M.E. et al. (2017), dilakukan percobaan dengan menerapkan discounting dan dynamic shelf-life sebagai media untuk mereduksi food waste dari peritel. Kedua metode tersebut disimulasikan melalui model matematis dengan memasukan parameter yang beragam untuk melihat pengaruhnya. Dynamic shelf-life terbukti mampu mereduksi food waste, namun untuk mempertahankan profit maka perlu adanya kombinasi discounting pada produk dengan waktu yang tepat.

Lalu pada penelitian Teller (2018), dilakukan penelitian yang lebih luas secara eksploratif pada food waste yang terjadi pada tingkat peritel. Dilakukan simulasi dengan data yang didapatkan wawancara lalu didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya food waste yaitu pola permintaan dan persyaratan dalam toko sesuai persyaratan untuk kombinasi kualitas produk dan perilaku konsumen (FIFO / LIFO) dengan kebijakan pengisian di dalam toko, memiliki pengaruh yang signifikan pada kuantitas food waste dan mengejar service level yang lebih tinggi tidak selalu meminimalisir food waste. Bauran produk yang lebih besar, service level dan standar kualitas yang lebih tinggi, dan jumlah personil yang lebih tinggi cenderung meningkatkan probabilitas terjadinya food waste.

Maka dari itu, food waste awareness perlu digunakan untuk mencegah dan mengatasi food waste problem. Langkah preventif yang dapat dilakukan masyarakat sebagai konsumen adalah dengan menyadari jumlah kebutuhan pangan yang hendak dibeli sehingga dapat dihabiskan tanpa sisa, mengetahui penyimpanan makanan berdasarkan tingkat kadaluwarsa, dan mendonasikan makanan yang tersisa kepada yang membutuhkan.

Langkah represif yang dilakukan dapat dengan adanya pengolahan kembali menjadi produk makanan baru ataupun produk lain, jika sedang berada di restoran dan makanan yang dipesan tidak habis maka dapat dilakukan take away. Dapat pula Food waste awareness secara khusus misalnya dengan kebijakan pengadaan denda oleh restoran di Indonesia ketika konsumen tidak menghabiskan makanan sebagai upaya represif. Restoran dapat menyediakan poster bertema food waste awareness agar konsumen dapat cerdas dalam menentukan porsi makanan yang dipesan.

Upaya food waste awareness guna mengurangi food waste problem telah dilakukan di beberapa  negara, mengingat dampak dari sampah makanan yang dihasilkan semakin kentara terhadap lingkungan.

Pola food waste awareness tersebut dengan adanya peraturan di Texas yang mengharuskan restoran memiliki metode alternatif dalam mengelola sisa makanan, hal ini dilakukan dengan cara menyumbangkannya kepada yang membutuhkan atau mendaur ulang menjadi pupuk. Hal ini dilakukan karena pemerintah Texas berkomitmen pada kebijakan Zero Waste Policy by 2040.

Food waste/sampah makanan sisa juga dapat dijadikan sumber listrik seperti yang dilakukan oleh Swedia. Sampah menjadi energi alternatif dan bahan bakar yang menghidupkan generator sehungga menghasilkan listrik . Sehingga sekitar 2 juta ton sampah terbakar menjadi energi listrik. Cukup untuk mengganti 670 ribu ton bahan bakar minyak.  pemerintah Swedia menjalankan prinsip program waste-to-energy, mengkampanyekan prinsip reduce,reuse,recycling,alternatives energy dan landfill. Prinsip ini merupakan pemilahan sampah yang masih bisa digunakan, didaur ulang dan diperbaiki sebelum diubaha menjadi energi.

Perbandingan food waste awareness antar negara di atas, sebenarnya dapat diaplikasikan pula di Indonesia dengan mengambil kebijakan yang paling sesuai untuk diterapkan. Secara umum kebjakan tersebut dapat mencontoh dari negara Texas yang membentuk gerakan membagikan makanan sisa yang layak kepada yang membutuhkan atau menjadi kompos. Sedangkan seakan belajar dari Swedia, ternyata pemerintah telah mngeluarkan Perpres Nomor 35 tahun 2018 tentang Percepatan program pembangunan PLTsa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Keempat PLTSa tersebut terletak di DKI Jakarta, Bekasi, Solo dan Surabaya yang setidaknya dapat mengolah 16 ribu ton sampah per hari.

Adanya food waste awareness juga dapat mencerminkan tertibnya pelaksanaan regulasi di bidang lingkungan. Sebagaimana dengan adanya perubahan (amandemen) keempat Undang-Undang Dasar Negara Tahun 1945, ditegaskan pengaturan mengenai lingkungan hidup yang dijamin oleh konstitusi. Dengan menjauhi perilaku food waste maka akan merefleksikan Pasal 28 H yang menyatakan bahwa lingkungan yang baik dan sehat adalah salah satu hak asasi manusia yang harus dipenuhi. Karena dengan mengurangi timbunan sampah makanan yang mengandung sejumlah metana dan karbon dioksida akan mengurangi dampak pemanasan global yang memengaruhi perubahan iklim yang ekstrim seperti sekarang ini.

Maka dapat disimpulkan bahwa kesadaran terhadap masalah makanan sisa perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan lingkungan sebagai upaya keseriusan dalam menjalankan amanat konstitusi. Indonesia dapat bercermin dari negara-negara yang telah melakukan upaya food waste awareness  untuk membantu menjaga keseimbangan lingkungan. Hal terpenting disamping adanya regulasi adalah membentuk kesadaran untuk melek terhadap permasalahan lingkungan kepada masyarakat maupun pemangku kebijakan. *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI