Pustaka Lestari

Pahlawan dan Kepemimpinan Visioner Milenial

Selasa, 10 November 2020 pahlawan, 10 november, pahlawan milenial, hari pahlawan

 

Setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peringatan Hari Pahlawan ini diambil dari Peristiwa Arek-Arek Suroboyo pada 10 November 1945 sebagai bentuk mempertahankan kemerdekaan terhadap kolonialisme dan imperialisme di Indonesia. Keputusan hari Pahlawan ini juga didasari oleh Keputusan Presiden No. 316 Tahun 1959 tentang Hari-hari Nasional.

Memaknai hari pahlawan adalah hal penting karena merupakan bentuk penghargaan kita terhadap jasa para pahlawan yang mempertahankan NKRI. Memang memaknai nilai-nilai kepahlawanan saat ini tidak harus dengan mengangkat senjata dan tidak harus turun di medan perang. Namun, dengan menjaga negara Indonesia tetap utuh pun salah satu bentuk menghargai atas hasil perjuangan pahlawan

Menurut Undang-Undang nomor 20 tahun 2009, Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara. Atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Pahlawan adalah mereka yang rela mengorbankan ego dan kepentingan pribadinya untuk mencapai tujuan mulia untuk kepentingan umum yang mulia. Kerelaan berkorban demi tujuan mulia tanpa pamrih adalah poin penting untuk disebut sebagai pahlawan. Tidak banyak orang yang berjiwa pahlawan. Karena menjadi pahlawan menuntut keberanian untuk menekan ego dan kepentingan pribadi dengan mengepankan kepentingan bersama.

Nilai kepahlawanan ini dikemukakan oleh Hook (1997), seseorang yang menemukan masalah atau dihadapkan oleh peristiwa yang memiliki konsekuensi yang mendalam jika ia tidak bertindak sesuai dengan apa yang dilakukannya. Perbedaan seorang pahlawan sebagai seseorang yang penting dalam sejarah, dan sebagai seseorang yang membuat sejarah kemudian dikemukakan oleh Thomas Carlyle (1899) manusia dapat menjadi seorang pahlawan atau orang-orang besar dan seorang pahlawan yang dipuja oleh rakyatnya karena jasanya dalam tindakannya terhadap membela kebenaran.

Era milenial ini tantangannya berbeda dengan era sebelum kemerdekaan yaitu era milenial tidak lagi berjuang secara fisik untuk melepaskan diri dari Penjajahan Belanda. Namun tantangannya adalah menjaga keutuhan NKRI yang mulai menjadi sebuah ancaman jika kita sebagai warga negara Indonesia tidak saling menjaga.

Nilai kepahlawanan dapat dilihat dari, pertama, dalam setiap tindak kepahlawanan terdapat kesediaan berkorban. Kesediaan berkorban adalah dasar kepahlawanan yang harus dikembangkan dalam pendidikan sejarah. kesediaan berkorban adalah suatu kualitas manusia yang harus dimiliki setiap orang untuk menjadi pahlawan. Peristiwa-peristiwa sejarah dapat memberikan pelajaran yang berarti dalam pengorbanan dan tindakan kepahlawanan tersebut.

Kedua, kepemimpinan merupakan salah satu atribut nilai dan sikap kepahlawanan. Seorang pahlawan senantiasa berinisiatif melakukan perubahan serta mampu mengajak dan memimpin komunitas atau bangsanya untuk melakukan perubahan menuju masa depan yang lebih baik. sikap tersebut muncul bukan saja statusnya sebagai penguasa, raja atau pemimpin formal lainnya, namun juga muncul dari orang-orang di luar status itu yang memiliki jiwa kepemimpinan.

Ketiga, pahlawan adalah orang-orang yang terpanggil jiwa dan tindakannya untuk memikul tanggung jawab dari upaya-upaya menuju kehidupan yang lebih baik dalam masyarakatnya. Perwujudan dari rasa tanggung jawab itulah yang sering membuat pahlawan masuk dalam penderitaan yang menjadi resiko perjuangannya.

Keempat, sikap keberanian ini dalam bagain dari nilai kepahlawanan karena seorang pahlawan secara berani mengambil keputusan untuk menentukan sikap dan respon terhadap sesuatu tantangan/masalah. Nilai-nilai keberanian tersebut tentunya dengan kesadaran akan resiko yang akan dihadapi sebagai dampak dari sikapnya tersebut. namun dengan nilai keberanian, seorang pahlawan tetap teguh membela prinsip yang ia tersebut.

Dalam menuju kepahlawannya, generasi millennials diharapkan mampu menghadapi tantangan bonus demografi sekaligus mewujudkan kemandirian bangsa dengan catatan mereka harus menyadari akan potensi-potensi yang dimilikinya. Jika generasi ini mampu menyadari berbagai potensi yang dimiliki akan timbul sikap optimis. Sikap tersebut sangat penting guna menghadapi gejolak bonus demografi yang akan terjadi dalam waktu dekat.

Selain itu, diperlukan upaya pemerintah dan berbagai komponen pendukung untuk turun tangan dalam menanamkan nilai kepahlawanan. Peranan pemerintah melalui berbagai kebijakan dan regulasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kepemudaan dan kepahlawanan, sangat diperlukan. Dengan demikian, generasi milenial akan semakin berkembang dan berkompeten untuk menghadapi tantangan ini sekaligus tetap memiliki semangat kepahlawan.

Hal tersebut akan semakin efektif apabila setiap pihak mampu bersinergi untuk mewujudkan apa yang kita upayakan bersama. Bangsa Indonesia patut optimistis terhadap berbagai potensi yang dimiliki oleh generasi milenial. Oleh karena itu, generasi ini adalah modal besar bagi yang mengembangkan jiwa kepahlawanannya untuk mewujudkan kemandirian bangsa dalam segala aspek.

Kaum milenial adalah penggenggam dan penentu arah ke mana Indonesia akan pergi. Ketika kita membaca dan mampu melihat kasus tantangan zaman, kecil kemungkinan untuk masuk dalam lingkaran gelap radikalisme dan intoleransi. Seperti yang dikatakan Hellen Keller dalam bukunya Aku dan Duniaku, "Kebutaan tidak membatasi visi mentalku, cakrawala intelektualku tak terbatas luasnya, semesta yang dilingkupinya tak terukur".

Kata "kebutaan" dalam kutipan Hellen di atas, ketika ditafsirkan secara kontesktual, dimana kita dapat menyisir informasi yang harus kita telan dengan banyaknya informasi hoaks yang semakin masif. Saat kita melihat tanpa mempunyai visi bisa dikatakan dalam keadaan buta, buta dalam informasi juga dalam intelektual.

Mengingat kaum milenial punya tugas sebagai Iron Stock, Agent of Change, Guardian of Value, Moral Force, Social Control, menuntut kita untuk lebih memahami nasib Indonesia selanjtnya. Jiwa kepahlawanan di era ini sangat diharapkan tidak hanya dimaknasi sebatas menumpahkan darah. Tetapi lebih subtantif dengan mampu menjadi benteng pertahanan untuk menghadapi problem zaman.

Secara khusus, untuk memiliki kepemimpinan yang berjiwa pahlawan, diperlukan kriteria yang sesuai dengan generasi milineal. Kriteria tersebut antara lain, pertama, Inovatif. Artinya, pemimpin nasional harus mampu menampilkan diri yang inovatif, pemikiran yang visioner, jauh ke depan, serba cepat, serba mudah, serba luwes dan mampu mengubah keadaan yang biasa saja menjadi luar biasa.

Kedua, Kreatif. Artinya, pemimpin nasional harus mampu menunjukkan kinerja yang kreatif, mendorong kreasi yang unggul, menciptakan kreasi baru, memoles yang sederhana menjadi menarik, serta mampu meningkatkan kreatifitas dalam setiap pekerjaan dan lingkungan sekitar

Ketiga, Transformatif. Maksudnya, pemimpin nasional harus mendorong perubahan, menjadikan program dan kegiatan selalu bersifat transformatif, ada nilai modernisasi, pembaharuan, dan restorasi ke arah yang lebih baik, lebih maju, dan lebih terfokus.

Keempat, Inventif. Maksudnya, pemimpin nasional harus berupaya mendorong berbagai temuan, penemuan, terobosan, dan pelopor terhadap dinamika kehidupan di masyarakat, sehingga setiap terobosan yang dibuat mampu dijadikan sebagai keteladanan dan kemanfaatan bagi masyarakat luas.

Kelima, Transparatif. Maknanya, setiap program, kegiatan, maupun visi, misi dan strategi harus transparatif, bisa diakses oleh semua pemangku kepentingan, bisa diaudit oleh lembaga independen, mengutamakan kepentingan masyarakat, terbuka, dan jauh dari budaya korupsi, kolusi dan nepotisme

Keenam, Interaktif. Maknanya, setiap pemimpin nasional harus selalu responsif, berinteraksi dengan masyarakat, merakyat, selalu berada di tengah masyarakat baik secara fisik maupun psikologis, memberikan solusi alternatif terhadap permasalahan rakyat, mau dikritik, dan menjadi bagian dari interaksi sosial antara pemimpin dengan rakyat

Selain itu, pemimpin dengan semangat pahlawan perlu, beradaptasi dengan teknologi informasi dan komunikasi. Artinya, seorang pemimpin nasional harus mampu beradaptasi terhadap berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi, seperti internet, komputer, gadget, maupun smartphone ataupun teknologi kekinian.

Pemimpin dengan sikap pahlawan perlu menggunakan aplikasi yang sesuai dengan zamannya. Hal ini dilakukan untuk dapat dan mampu mengimbangi generasi milenial yang memiliki kemampuan sejak dini sebagai digital native.

Kepahlawan juga dapat muncul saat berinteraksi secara aktif dengan Netizen. Sigap dan tanggap menghadapi berbagai kritikan di dunia virtual, dan merespon setiap pertanyaan dan komen di berbagai media, serta membalas ketidaktahuan netizen tentang pentingnya arti kepahlawanan dalam mennjelaskan berbagai kebijakan maupun kehidupan pribadi seorang pemimpin nasional tanpa harus melukai perasaan

Pahlawan saat ini dan masa depan adalah pahlawan yang memiliki salah satu karakter dari kepemimpinan visioner. Kepemimpinan visioner adalah gaya kepemimpinan yang mampu menciptakan visi yang jelas, target yang pasti, dan mampu mempertemukan antara harapan dan kenyataan. *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI