Pustaka Lestari

Ritel dan Belanja Online Nasional

 

Penyelenggaran Hari Ritel Nasional kali ini kebetulan akan dibarengi dengan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang digelar 11 November 2020. Harbolnas adalah hari perayaaan belanja nasional yang digelar oleh para ritel secara online dengan diskon besar-besaran

Dengan pertumbuhan ekonomi yang mengarah pada pola komsumtif yang tinggi, bisnis ritel berlomba-lomba untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan sistem jual beli yang memberikan nilai yang menguntungkan bagi peritel maupun konsumen. Ritel merupakan bagian penting dalam rantai distribusi dari produsen hingga sampai pada konsumen akhir, dimana salah satu peran ritel sebagai pemecah barang atau produk yang dihasilkan manufaktur atau produsen  dalam kapasitas yang besar sehingga mampu dikonsumsi oleh konsumen akhir dalam jumlah kecil sesuai dengan kebutuhanya.

Pasar ritel terus tumbuh sebagai akibat dari perkembangan berbagai bidang. Perkembangan tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan ritel contohnya demografi, jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan semua barang dan jasa meningkat sehingga timbul peluang usaha / kerja ritel baik ritel modern maupun retail tradisional.

Retailing mempunyai kegunaan terhadap konsumen atau pelanggan untuk memenuhi kebutuhannya  dengan menggunakan cara – cara sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen dapat dipenuhi, hal ini retailling mempunyai karakteristik dan fungsi. Hal ini harus diperhatikan dalam manajemen ritel.

Selain itu dalam ritel, saluran distribusi harus benar-benar  diperhatikan memilih atau menyeleksi saluran distribusi yang akan digunakan, sebab kesalahan dalam pemilihan saluran distribusi ini dapat menghambat bahkan dapat memacetkan usaha menyalurkan barang atau jasa tersebut

Menurut Christina Widhya (2008) Ritel berasal dari kata ritellier yang berarti memotong atau memecah sesuatu, Bisnis Ritel adalah semua kegiatan yang terlibat dalam penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi atau bukan penggunaan bisnis. Ritel tidak hanya berarti menjual barang/jasa di toko (instore), melainkan ritel dapat dilakukan di luar toko (nonstrore) seperti katalog, website, direct selling.

Manejemen ritel dipahami sebagai segala upaya yang dilakukan dalam mengelola bisis ritel, Dimana didalamnya termasuk pengolaan yang terkait dengan keuangan, pemasaran, sumber daya, dan oprasional bisnis ritel. Denagn semakin berkembangnya bisnis ritel dan upaya untuk sellu menyesuaikan dengan kebutuhan pasan serta perubahan selera konsumen, maka muncul berbagai format ritel sebagai perkembangan dari format ritel tradisional. Saat ini bisnis ritel tidak hanya dilakukan dalam toko. Perkembangan teknologi intenet mendorong lahirnya ritel tanpa toko, beberapa contoh ritel tanpa toko seperti bukalapak.com, traveloka, alibaba.com, Tokopedia.com

Peran ritel sangat penting pada saluran distribusi dari produsen manufaktur sampai akhirnya kepada konsumen akhir. Para produsen mejual produk-produknya kepada peritel maupun peritel besar (Wholesaler). Hal ini membentuk suatu jalur distribusi antara produsen ke konsumen akhir.

Ritel merupakan mitra dari pedagang besar/agen/ distributor yang memiliki jalur distribusi masing-masing barang dagangan. Pada gambar diatas masing-masing pihak memiliki tugas yang terpisah. Perusahaan atau pabrikan mempunyai tugas untuk mendesain, membuat merk, menetapkan harga, mempromosikan dan menjual, dan tidak menjual langsung kepada konsumen. Pedagang besar biasanya melakukan fungsi pembelian, stocking, promosi, penjualan, pengiriman, dan pembayaran kepada produsen, tidak menjual langsung kepada konsumen. Sementara itu, ritel menjalankan fungsi pembelian, stocking, promosi, penjualan, pengiriman dan pembayaran kepada agen atau distributor, tetapi tidak memproduksi barang dan tidak melakukan penjualan kepada peritel lain.

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mencatat ada 190 mal yang ditutup sementara (Mei 2020) saat PSBB lalu sehingga menurunkan tingkat kunjungan konsumen dan menggerus hingga 98% pendapatan peritel (Mei 2020). Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, menginformasikan penurunan di sektor ritel hingga Rp 12 triliun selama dua bulan terakhir (Juni 2020). Puncak penjualan yang biasanya terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri harus bertolak belakang tahun ini. Banyak peritel yang gagal memenuhi target dan sulit membiayai kegiatan operasionalnya.

Di era kenormalan baru, proses belanja dan produk yang dikonsumsi konsumen berubah. Perusahaan yang memberlakukan work from home (WFH) dan aktif mengadakan video conference membuat produk-produk terkait laris dibeli konsumen. Dilansir dari Kementerian Keuangan (Kemkeu) tanggal 6 April 2020, produk web camera menjadi produk non-kesehatan yang kenaikan permintaannya tertinggi mencapai 1.572 persen. Demikian pula produk-produk lainnya, seperti: makanan ringan, perkakas, sarana hiburan, bahkan sepeda menjadi tren baru di normal baru. Konsumen membelinya untuk membunuh kebosanan dan beradaptasi dengan perubahan. Kenormalan baru telah memunculkan produk-produk baru di bisnis ritel.

Platform daring akan menjadi bagian dari bisnis ritel di normal baru. Transaksi ritel secara daring yang meningkat tajam membuktikan bahwa penjualan secara daring merupakan solusi di kenormalan baru. Transformasi digital ini bukan berarti meninggalkan toko ritel fisik, tetapi menambah jalur penjualan baru dan memperluas target pemasarannya. Proses baru harus dilakukan oleh peritel di normal baru.

Keragaman produk yang disesuaikan di era kenormalan baru memperbesar peluang datangnya konsumen baru, khususnya bagi mereka yang terbiasa bertransaksi daring dan mencari produk di media sosial selama PSBB. Konsumen baru tersedia bagi peritel di kenormalan baru.Penjualan ritel yang dicerminkan dalam Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Juli 2020 mencatat kontraksi atau pertumbuhan negatif 12,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang terkontraksi 17,1% YoY.

Pertumbuhan Penjualan Ritel Indonesia dilaporkan sebesar -7.3 % pada September 2020. Rekor ini naik dibanding sebelumnya yaitu -9.2 % untuk Agustus  2020. Data Pertumbuhan Penjualan Ritel Indonesia diperbarui bulanan, dengan rata-rata 8.7 % dari Januari 2011-01 sampai September 2020, dengan 117 observasi. Data ini mencapai angka tertinggi sebesar 28.2 % pada Desember 2013 dan rekor terendah sebesar -20.6 % pada Mei 2020.

Untuk Agustus 2020, BI memperkirakan penjualan ritel masih negatif tetapi kontraksinya menipis menjadi 10,1% YoY. Penjualan kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau diprakirakan mulai mencatat pertumbuhan positif pada Agustus 2020. Sementara itu, kelompok barang yang lain diprakirakan juga mengalami perbaikan dengan kontraksi yang menurun, kecuali kelompok barang Pelengkapan Rumah Tangga Lainnya.

Dari sisi harga, tekanan inflasi pada tiga dan enam bulan mendatang (Oktober 2020 dan Januari 2021) diprakirakan meningkat. Indikasi peningkatan harga tersebut tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tiga dan enam bulan mendatang masing-masing sebesar 133,7 dan 157,7, lebih tinggi daripada periode sebelumnya masing-masing sebesar 131,5 dan 156,1. Responden memperkirakan kenaikan harga tersebut dipengaruhi gangguan distribusi barang dan jasa seiring dengan masuknya musim hujan.

Tidak semua bisnis ritel mengalami kondisi dan memiliki peluang yang sama. Peritel tradisional akan sulit bertahan bila tidak beradaptasi. Pada era kenormalan baru, bisnis ritel tetap bisa jadi andalan bila peritel mampu memanfaatkan peluang dan beradaptasi dengan perubahan karakter dan gaya belanja konsumen. Toko-toko yang berada di transit area, seperti: rest area, stasiun, bandara, tetap menghadapi kondisi sulit bila mobilitas masyarakat masih dibatasi. Demikian pula dengan toko-toko di traffic area, seperti: perkantoran, sekolah/kampus, tempat wisata. Sebaliknya, toko-toko ritel di residential area lebih diuntungkan karena konsumen lebih banyak berada di rumah.

Peritel harus beradaptasi dengan perubahan produk yang dicari konsumen. Walau produk dasar (staple merchandise) tidak terpengaruh karena permintaannya yang cenderung stabil, namun proses baru harus dilakukan peritel untuk mempertahankan pangsa pasar. Perancangan ulang strategi bisnis sangat diperlukan bagi peritel dengan produk fesyen merchandise dan fads merchandise.

Keduanya merupakan produk yang diinginkan ketimbang dibutuhkan sehingga memerlukan strategi khusus agar minat belanja konsumen tetap tumbuh walau tidak melihat fisik produknya secara langsung. Hal ini mirip dengan seasonal merchandise, namun euforia penjualannya masih dapat diprediksi dan diciptakan. Peritel yang bergantung dengan produk impor mengubah strategi bisnisnya bila produksi di negara asal masih terganggu dan proses impor terhambat. Salah satu opsi untuk mencari produk pengganti atau substitusi dengan produk lokal patut menjadi pertimbangan. *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI