Pustaka Lestari

Situasi Pekerja Anak Selama 2020

Selasa, 29 Desember 2020 KPAI, situasi pekerja anak, 2020, pekerja anak 2020

 

Situasi pekerja anak dalam 5 tahun terakhir belum menunjukkan penurunan signifikan. Penarikan pekerja anak dianggap berhasil pada tahun 2015, namun meningkat kembali pada tahun 2016 hingga kini. Persoalan pekerja anak terkonfirmasi oleh meluasnya varian pekerja anak, jangkauan peningkatan pekerja anak dan kasus demi kasus yang terlaporkan kepada Lembaga mengenai jumlah eksploitasi dan tindak pidana perdagangan orang. Angka eksploitasi dan TPPO pada anak dalam data di KPAI menunjukan data dinamis mencapai 2.474 kasus sejak tahun 2011 sd 2020.

Memasuki tahun 2020, persoalan pekerja anak semakin kompleks manakala wabah pandemi covid-19 berdampak signifikan terhadap ekonomi dan sosial. Terutama bagi mereka yang rentan secara ekonomi. Hal ini menimbulkan dampak domino pada pekerja anak dan keluarganya. Beragam kebijakan protocol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 salah satunya menuntut anak-anak belajar dari rumah (BDR).

Namun di sisi lain kondisi tersebut dimanfaatkan oleh keluarga menjadi peluang anak dapat dipekerjakan untuk menambah penghasilan keluarga. Bukan hal mudah melewatinya, anak menjadi kelompok rentan yang kemudian menjalani kehidupan sebagai pekerja anak hingga masuk dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak (PBTA). Dalam penelitian ILO, dampak dan resiko bagi anak dimasa pandemik diramalkan telah mengakibatkan kemunduran bertahun-tahun. Salah satunya adalah mungkin akan melihat peningkatan pekerja anak untuk pertama kalinya dalam 20 tahun terakhir. Pandemi bukan saja membalik keberhasilan penarikan pekerja anak yang selama ini dilakukan, sekarang bahkan jutaan anak beresiko kembali bekerja di usia dini atau dalam kondisi yang membahayakan (ILO 4th Monitoring, 27 Mei 2020).

Biro Pusat Statisik (BPS) tahun 2009 meyatakan bahwa jumlah anak di Indonesia dengan kelompok umur 5-17 tahun sebesar 58,8 juta anak dengan 4,05 juta atau 6,9% diantaranya dianggap sebagai anak-anak yang bekerja. Dari jumlah total tersebut sejumlah 1,76 juta anak atau 43,3 % adalah pekerja anak dan 20,7% bekerja pada bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak (PBTA).

Beragam kebijakan merespon situasi tersebut, salah satunya melalui rapat terbatas dengan Presiden, Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang menangani urusan perempuan dan anak memperoleh mandate yakni program prioritas nasional meliputi (1) Mengefektifkan Peran keluarga dalam Pengasuhan Anak, (2) Menurunkan Tingkat Kekerasan Pada Anak (3) Menekan angka pekerja anak (4) Mencegah Perkawinan Usia Anak Dengan Tanpa Mengurangi Perhatian Pada Kebutuhan Perlindungan Khusus Lainnya (5) Meningkatkan Pemberdayaan Perempuan Di Bidang Kewirausahaan.

Sehingga KPAI sebagai lembaga negara yang bertugas melakukan pengawasan mengambil andil dalam turut serta menekan angka pekerja anak. Sejatinya anak tidak boleh bekerja, anak tidak tidak boleh bertanggungjawab atas kebutuhan dan ekonomi keluarga. Namun situasi dan latar belakang mereka bekerja dan masuk dalam katagori pekerja anak tidak lepas dari peran orang tua, keluarga dan orang dewasa/lingkungan yang melekat di sekitarnya.

Keragaman situasi tersebut melahirkan pengelompokan anak bekerja dan pekerja anak, serta pekerjaan terburuk pada anak/PBTA, yang memiliki karakteristik khusus saat anak berinteraksi dan beraktivitas dalam dunia pekerjaan. Untuk itu, KPAI melakukan kerja sama dengan IOM, Sekretariat Jarak dan para pegiat TPPO dan pegiat anak dalam menyelenggarakan survey pekerja anak yang menyasar observasi pada anak, yakni komunitas anak-anak yang bekerja pada bentuk pekerjaan terburuk, terdiri dari 5 sektor; (1) anak yang dilacurkan (2) anak Pemulung (3) anak Jalanan (4) anak yang bekerja di sector pertanian dan (5) pekerja rumah tangga anak.

Kemudian wawancara terhadap orangtua, Pemerintah Daerah, Lembaga penyedia layanan dan masyarakat pendamping pekerja anak. Survey dilakukan pada 9 provinsi meliputi 20 kota dan kabupaten selama dua bulan yakni September-Oktober.

Berbagai temuan dalam survey tersebut sebagai berikut : Anak-anak dalam PBTA berada di berbagai kantong pekerja anak. Secara umum PA bekerja di daerah Perkotaan, sebanyak 14 lokus (85%) yang diobservasi, berdasarkan jenis PA yakni Anak Jalanan, Anak Pemulung, Anak Yang Dilacurkan, dan sebagian Pekerja Rumah Tangga Anak bekerja di daerah perkotaan. PA yang berkerja di daerah perdesaan yaitu Jenis PA yang dipekerjakan di Pertanian (Lokus NTB, Jawa Barat dan Jawa Timur). PA yang bekerja di perdesaan dan perkotaan yakni Jenis PA yang dipekerjakan di Pertanian (Lokus Sumatera Utara), hal ini karena tempat kerja PA sangat luas sekali.

Jenis Pekerja Anak yang terobservasi ada 5 sektor, yakni Anak Jalanan sebanyak 15,8%, Anak yang dilacurkan sebanyak 31,6%, Anak Pemulung sebanyak 15,8%, Anak yang dipekerjakan di Pertanian sebanyak 21,1% dan Pekerja Rumah Tangga Anak sebanyak 15,8%. Adapun Jenis Pekerja Anak sebagai Anak Jalanan, Anak Pemulung dan Pekerja Rumah Tangga Anak, masing-masing ada 3 lokus yang diobsevasi, Sedangkan Anak yang dilacurkan ada 6 lokus dan anak yang dipekerjakan di pertanian ada 4 lokus.

Kondisi kerja PA rata-rata bekerja dalam situasi pelacuran, kemudian pada suhu panas yang ekstrim dan bekerja di jalanan. Jenis PA yang dilacurkan (lokus Bogor) mengalami kondisi kerja terbanyak, yaitu dalam situasi pelacuran, bekerja di bawah tanah, bekerja dengan ventilasi terbatas serta rawan tertular Covid-19 (lainnya). Jenis PA pemulung dan anak jalanan semuanya bekerja di jalanan. Jenis PA pemulung lokus Medan ada yang bekerja di rumah untuk membersihkan dan mengolah sampah yang akan dijual.

Fenomena kuantitas jumlah PA terdampak Covid-19 terjadi 75% pada lokus atau 12 lokus. Hanya 7 lokus atau 25% lokus yang tidak ada gambaran fenomena kuantitas PA terdampak Covid-19. Penambahan Jumlah PA yang terdampak Covid-19 banyak terjadi pada anak yang dilacurkan dan anak pemulung.

Gambaran ruang lingkup fenomena jumlah PA terdampak Covid-19 sebagian besar adalah terjadi penambahan jumlah PA di masa pandemi Covid-19, hanya jenis PA jalanan yang ada fenomena penurunan anak bekerja sebagai pengamen karena tempat kerja sepi. Jenis PA yang dilacurkan dan anak pemulung pada setiap lokus mengalami penambahan jumlah PA. Jenis PA pemulung lokus Medan ada banyak ruang lingkup fenomena jumlah PA terdampak Covid-19 dibanding jenis PA pada lokus yang lain. Adapun gambaran fenomena dari jenis PA tersebut yaitu penambahan jumlah PA, perluasan lokus anak bekerja, penambahan jam kerja anak, munculnya berbagai jenis pekerjaan lainnya yang hampir sama, anak keluar sangat pagi (subuh) berharap mendapat banyak yang bisa dipungut.

Berdasarkan data dari 19 lokus, ada 78% atau 12 lokus jenis PA yang rentan TPPO. Hanya anak yang dipekerjakan dipertanian dan pekerja rumah tangga anak untuk setiap lokus tidak rentan TPPO.

Alasan kerentanan TPPO : Pertama, Dijual secara online. Kedua, Dikarenakan situasi covid-19, dimungkinkan karena banyak orangtua anak yang di berhentikan, sehingga ada banyak anak yang merasa ingin membantu penghasilan dan mencari tambahan penghasilan

Ketiga, Banyak mucikari yg menyediakan pekerja anak bagi pelanggan. Keempat, Karena jauh dari pengawasan orang dewasa dan mudah dibujuk. Kelima, Pekerjaan yang sangat berat dari mulai memulung, kemudian ada pekerjaan lainnya memetik batang cabe membutuhkan waktu sangat lama, namun harga jual sedikit. kemudian orang tua memaksa anak untuk kerja demi mempertahankan kehidupan mereka

Keenam, Anak-anak terpaksa harus bekerja memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan keluarga, yang seharusnya mereka mengenyam pendidikan, bahkan ada yang harus putus sekolah, karena sudah lelah dan merasa lebih nyaman bekerja.

Sebagian besar PA yang masih sekolah melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau 8 lokus dengan berbagai jenis PA melaksanakan PJJ. Empat lokus PA yang tidak melaksanakan PJJ, sebagai berikut: (1) Lokus Kep. Riau (anak jalanan: pengamen); (2) Lokus Jawa Barat (anak yang di lacurkan); (3) Lokus Sumatera Utara (anak yang dipekerjakan di pertanian); dan (4) Lokus Jawa Barat (anak jalanan).

Dengan demikian, Anak berada dalam lokus pekerjaan terburuk anak masih tinggi dapat diamati secara langsung oleh observer di 20 kota/kabupaten. Dimasa Covid mereka mengalami dampak langsung yaitu peningkatan jumlah dan perluasan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak (PBTA), terutama pada jenis anak yang dilacurkan dan anak pemulung

Sebagian besar lingkungan kerja PA dapat merusak atau menghambat tumbuh kembang anak. Jenis PA yang dilacurkan memiliki kondisi lingkungan kerja berbagai macam, seperti lingkungan kerja yang dapat merusak atau menghambat tumbuh kembang anak, tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas, membahayakan moral (diskotik, tempat bilyard) bahkan rentan tertular Covid-19. Jenis PA yang dipekerjakan dipertanian (lokus lombok timur) lingkungan kerja karena pengaruh taman, persaingan untuk belanja atau jajan, untuk menabung, untuk pakaian sekolah dll.

Situasi buruk lain yang mengancam pekerja anak adalah kerentanannya pada TPPO yang diakibatkan dampak secara ekonomi dan sosial : pada anak pemulung misalnya dikarenakan situasi covid-19, dimungkinkan karena banyak orangtua anak yang di berhentikan, sehingga ada banyak anak yang merasa ingin membantu penghasilan dan mencari tambahan penghasilan, pekerjaan yang sangat berat dari mulai memulung, kemudian ada pekerjaan lainnya memetik batang cabe membutuhkan waktu sangat lama, namun harga jual sedikit. Kemudian orang tua memaksa anak untuk kerja demi mempertahankan kehidupan mereka. Untuk anak yang dilacurkan, Anak dijanjikan pekerjaan bagus dengan gaji besar dan kini kecenderungan dijual secara online

Rekomendasi yang diberikan adalah, pertama, keberadaan anak dalam PTBA diberbagai daerah menjadi evaluasi atas kebijakan dan program penghapusan pekerja anak oleh pemerintah, terutama road map bebas pekerja anak tahun 2022. Fenomena ini mendorong pemerintah meningkatkan perhatian terhadap keberadaan PBTA untuk melaksanakan langkah-langkah kuratif dan rehabilitative terutama pada kantong-kantong yang sudah dilaksanakan pemantauan

Kedua, Mendorong segera dilakukan penarikan pekerja anak mengingat PBTA mendapat situasi paling buruk atas terjadinya kompleksitas sosial ekonomi dampak wabah pandemic. Anak untuk segera dipenuhi jaring pengaman sosial dan pemberdayaan pada tingkat komunitas

Ketiga, Hubungan pekerja anak dengan tindak eksploitasi dan TPPO sangat erat, sehingga diperlukan langkah terintegrasi dalam penanganan menarik dan memberdayakan anak PBTA.

  *Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI