Pustaka Lestari

Investasi Masa Depan Bangsa Melalui Kesehatan Ibu

 

Salah satu tujuan pembangunan Indonesia 2020-2024 adalah membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing, yaitu sumber daya manusia yang sehat dan cerdas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas anak (Bappenas, 2020). Perawatan kesehatan bagi ibu khususnya ibu hamil akan berpengaruh terhadap kondisi anak yang dikandung dan dilahirkannya kelak. Oleh karena itu, kesehatan ibu perlu diperhatikan sehubungan dengan anak yang akan dilahirkan sebagai investasi untuk masa depan bangsa Indonesia.

Ibu hamil dengan konsumsi asupan gizi yang rendah dan mengalami penyakit infeksi akan melahirkan bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR), dan/atau panjang badan bayi di bawah standar. Asupan gizi yang baik tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga tetapi juga dipengaruhi oleh pola asuh seperti pemberian kolostrum (ASI yang pertama kali keluar), Inisasi Menyusu Dini (IMD), pemberian ASI eksklusif, dan pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) secara tepat (Bappenas, 2018).

Pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sudah berupaya untuk memberikan intervensi kepada ibu hamil dan balita seperti pemberian makanan tambahan pada kelompok rentan, pemberian asam folat, dan mengatasi kekurangan yodium.

Selain itu, terdapat pula program Kecap Manis (Kelas Edukasi Calon Pengantin, Menuju Pernikahan Sehat dan Harmonis) dimana program ini dilaksanakan untuk meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi melalui pemeriksaan calon pengantin di puskesmas dan diharapkan mengantisipasi bayi yang dilahirkan kelak tidak membawa penyakit yang ditularkan dari orang tua (Kemenkes, 2018)

Ibu memegang peranan penting terhadap kesehatan keluarga. Ibu yang sehat akan mampu membentuk keluarga yang sehat pula. Oleh karena itu, kesehatan ibu penting untuk peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas. Informasi mengenai ibu yang mengalami keluhan kesehatan dapat digunakan sebagai proksi untuk melihat derajat kesehatan ibu yang tercermin dalam indikator angka keluhan kesehatan. Angka keluhan kesehatan ibu diukur dengan menggunakan pendekatan ibu yang mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir.

Data Susenas Maret 2018-2020 menunjukkan bahwa ibu yang mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir berada di sekitar angka 28 persen. Sementara itu, persentase ibu yang mengalami keluhan kesehatan dan terganggu kegiatan sehari-harinya selama dalam 3 (tiga) tahun terakhir berada di sekitar 10-11 persen. Hal ini memperlihatkan bahwa hanya sebagian kecil ibu yang mengalami keluhan kesehatan dan terganggu kegiatan sehari-harinya.

Jika dilihat disagregasi menurut tipe daerah, tidak ada perbedaan yang besar antara ibu di perkotaan dan perdesaan. Namun demikian untuk ibu bekerja memiliki persentase keluhan kesehatan lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak bekerja yaitu 29,62 persen berbanding 27,32 persen. Ibu yang bekerja bisa mengalami banyak permasalahan kesehatan seperti keluhan yang berhubungan dengan ketegangan otot, keluhan terkait perut dan usus, bahkan penyakit yang berhubungan dengan keluhan pernapasan (Malhotra, Arambepola, Tarun, de Silva, Kishore, dan Østbye, 2013)

Disagregasi menurut kelompok umur menunjukkan bahwa ibu pada kelompok umur 45-49 tahun mengalami keluhan kesehatan dengan persentase yang paling tinggi. Adapun provinsi dengan persentase ibu yang memiliki keluhan kesehatan tertinggi adalah Nusa Tenggara Barat (43,29 persen) dan terendah adalah Papua (13,71 persen).

Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kesehatan menyebutkan bahwa upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregasi, dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.

Seseorang yang mengalami keluhan kesehatan memiliki kecenderungan untuk melakukan upaya menyembuhkan keluhan yang dialami. Upaya kesehatan tersebut umumnya berdasarkan pada seberapa parah keluhan yang dialami. Pertolongan yang paling pertama dipilih oleh seseorang umumnya adalah mengobati sendiri.

Pada kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir, persentase ibu yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan mengobati sendiri mengalami peningkatan dari 73,86 persen pada tahun 2018 menjadi 75,98 persen pada tahun 2020. Adapun bila dilihat dari tipe daerah, persentase untuk daerah perdesaan sedikit lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Disagregasi menurut status bekerja ibu menunjukkan persentase ibu bekerja yang mempunyai keluhan kesehatan dan pernah mengobati sendiri dalam sebulan terakhir sedikit lebih tinggi dibandingkan ibu yang tidak bekerja.

Selain upaya yang dilakukan dengan cara mengobati sendiri, untuk keluhan kesehatan tertentu dilakukan pula upaya kesehatan berupa rawat jalan. Rawat jalan adalah suatu upaya dari ibu yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir untuk memeriksakan diri dan mendapatkan pengobatan dengan mendatangi tempat-tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa menginap, termasuk mendatangkan petugas kesehatan ke rumah ibu.

Persentase ibu yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan pernah rawat jalan selama periode tahun 2018-2020 mengalami fluktuasi. Menurut tipe daerah, ibu di perkotaan yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan pernah rawat jalan memiliki persentase lebih tinggi daripada ibu di perdesaan, yaitu 43,14 persen berbanding dengan 40,81 persen

Masing-masing ibu juga memiliki preferensi sendiri untuk memilih tempat untuk rawat jalan, persentase paling tinggi rawat jalan dilakukan ke praktik dokter/bidan yaitu sebesar 35,69 persen. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa layanan fasilitas kesehatan yang banyak dikunjungi untuk rawat jalan adalah praktik dokter (Nugraheni dan Hartono, 2017).

Persentase ibu yang pernah rawat jalan masih belum mencapai 50 persen. Hal ini artinya sebagian ibu memilih untuk tidak melakukan rawat jalan. Alasan ibu yang tidak rawat jalan cukup beragam, mayoritas alasannya yaitu ibu memilih untuk mengobati sendiri ketika mempunyai keluhan kesehatan (64,66 persen). Kemudian disusul dengan alasan merasa tidak perlu untuk rawat jalan yaitu sebesar 32,74 persen.

Ketika seseorang menderita sakit dan berkunjung ke fasilitas kesehatan, biasanya oleh tenaga kesehatan akan direkomendasikan apakah cukup rawat jalan atau harus rawat inap. Hal ini umumnya didasarkan atas jenis penyakit, kondisi penderita, hasil pemeriksaan penyakit, diagnosa, dan sebagainya. Selama periode tahun 2018-2020, persentase ibu yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2020 sekitar 9 (sembilan) dari 100 ibu pernah rawat inap dalam setahun terakhir.

Jika dilihat menurut tipe daerah, persentase ibu di perkotaan yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir lebih tinggi daripada ibu di perdesaan (9,33 persen berbanding 7,70 persen). Hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor keberadaan fasilitas kesehatan yang menyediakan layanan rawat inap lebih banyak di perkotaan, fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, dan akses untuk mencapai fasilitas kesehatan tersebut cenderung lebih mudah.

Ibu yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir memiliki persentase tertinggi rawat inap di RS Swasta yaitu sebesar 38,57 persen. Jika dilihat menurut provinsi, Provinsi Sumatera Barat merupakan provinsi dengan angka persentase ibu yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir paling tinggi yaitu 12,66 persen dan Provinsi Papua merupakan provinsi dengan angka persentase terendah yaitu 3,42 persen

Jaminan kesehatan merupakan upaya untuk menjamin pelayanan kesehatan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan sakit (preventif), pengobatan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), termasuk obat-obatan dan bahan medis habis pakai. Kepemilikan jaminan kesehatan bagi seorang ibu sangat penting karena selain dapat digunakan untuk memberikan jaminan terhadap kebutuhan pelayanan pengobatan penyakit, juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pemeriksaan kehamilan dan persalinan.

Selain itu, kepemilikan jaminan kesehatan juga dapat mengatasi kondisi ekonomi ibu yang tidak dapat mengakses fasilitas kesehatan karena ketiadaan biaya sehingga jaminan kesehatan tersebut bisa digunakan sebagai pembebasan biaya kesehatan (Taguchi, Kawabata, Maekawa, Maruo, dan Dewata, 2003).

Dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun, persentase ibu yang memiliki jaminan kesehatan mengalami peningkatan semula 66,52 persen pada tahun 2018 menjadi 71,85 persen pada tahun 2020. Kepemilikan jaminan kesehatan pada ibu di perkotaan lebih tinggi daripada ibu di perdesaan yaitu 75,69 persen berbanding 67,24 persen.

[08:28, 1/1/2021] Om Dhony Iswandi  Bu Rerie A 370: Feed# Pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial pasal 15 disebutkan bahwa pemberi kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan pekerjanya sebagai peserta kepada BPJS, sesuai dengan program jaminan sosial yang diikuti. Pemberi kerja dapat dikenai sanksi adminstratif jika tidak melaksanakan ketentuan tersebut.

Sejalan dengan Undang-Undang tersebut, data menunjukkan bahwa persentase ibu bekerja yang memiliki jaminan kesehatan lebih tinggi daripada ibu yang tidak bekerja yaitu 73,67 persen berbanding dengan 69,91 persen. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang bekerja cenderung memiliki jaminan kesehatan. Ibu yang bekerja dapat memiliki jaminan kesehatan baik berupa fasilitas dari tempat kerja maupun jaminan kesehatan yang diikuti secara mandiri dengan pendapatan yang dimiliki.

Kondisi saat ini terdapat berbagai macam jenis jaminan kesehatan baik yang disediakan oleh pemerintah maupun yang disediakan oleh nonpemerintah. Jenis jaminan kesehatan yang paling banyak dimiliki oleh ibu adalah BPJS Kesehatan, baik BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) ataupun BPJS non-PBI.

Seiring dengan peningkatan persentase ibu yang memiliki jaminan kesehatan, Gambar 3.6 menunjukkan peningkatan persentase ibu yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan pernah rawat jalan menggunakan jaminan kesehatan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Kepemilikan jaminan kesehatan dapat mendorong ibu untuk melakukan rawat jalan.

Hal ini yang mungkin sebelumnya tidak dilakukan karena tidak ada biaya untuk mengakses fasilitas kesehatan. Sejalan dengan kepemilikan jaminan kesehatan, jenis jaminan kesehatan yang paling banyak digunakan untuk rawat jalan adalah BPJS kesehatan PBI yaitu sebesar 26,90 persen. Jika dilihat menurut tipe daerah pola yang sama juga ditemui yaitu persentase ibu di perkotaan yang menggunakan jaminan kesehatan untuk rawat jalan lebih tinggi daripada ibu di perdesaan dengan selisih hingga 13,27 persen.

Pola penggunaan jaminan kesehatan untuk rawat inap memiliki kesamaan dengan penggunaan untuk rawat jalan. Persentase ibu yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir menggunakan jaminan kesehatan juga mengalami peningkatan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun. Pola yang sama juga terjadi untuk ibu di perkotaan yang pernah rawat inap dalam setahun terakhir menggunakan jaminan kesehatan dimana persentasenya lebih tinggi daripada ibu di perdesaan, yaitu 78,50 persen berbanding 71,62 persen. Jenis jaminan kesehatan yang paling banyak digunakan pun masih sama yaitu BPJS kesehatan PBI sebesar 35,74 persen.

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI