Pustaka Lestari

Pengeluaran kesehatan Selama Tahun 2020

Senin, 04 Januari 2021 2020, pengeluaran kesehatan 2020, kesehatan

 

Pengeluaran kesehatan merupakan hal yang sangat penting karena berkaitan dengan kemampuan rumah tangga dalam menjaga kesehatan anggota rumah tangga. Jika rumah tangga mengabaikan kesehatan anggota rumah tangga maka akan menyebabkan anggota rumah tangga tersebut tidak bisa beraktivitas secara maksimal, misalnya bekerja menjadi tidak optimal, bersekolah tidak konsentrasi, dan tidak bisa berolahraga

Pengeluaran kesehatan juga merupakan salah satu cara untuk melihat tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Hal ini dapat dilihat melalui pengeluaran konsumsi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan makanan dan bukan makanan. Teori konsumsi menurut Ernst Engel (1821-1896) menyatakan bahwa pada saat tingkat pendapatan meningkat maka proporsi pendapatan yang akan dihabiskan untuk membeli makanan akan berkurang. Hal ini mengandung arti bahwa tingkat kesejahteraan seseorang dapat dikatakan membaik apabila konsumsi bukan makanan (seperti kesehatan, dll.) semakin meningkat dan pengeluaran untuk konsumsi makanan cenderung semakin menurun.

Hal yang perlu menjadi catatan adalah dalam Susenas Konsumsi dan Pengeluaran (KP), pengeluaran kesehatan yang dikumpulkan mencakup biaya yang benar-benar dikeluarkan rumah tangga (pengeluaran out of pocket (OOP)) dan biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh rumah tangga dalam setahun terakhir.

Pada tahun 2020, rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Indonesia sebulan sebesar Rp1.225.685,00. Lebih dari separuh dari total pengeluaran per kapita tersebut digunakan untuk pengeluaran bukan makanan. Hal ini menggambarkan adanya pergeseran pola pengeluaran masyarakat yang secara tidak langsung juga menunjukkan kondisi kesejahteraan penduduk Indonesia yang semakin membaik. Namun demikian apabila diperhatikan lebih jauh, terlihat bahwa selisih antara pengeluaran bukan makanan dan makanan tidak terlalu jauh.

Pengeluaran untuk kesehatan merupakan satu dari sekian banyak jenis biaya yang dikeluarkan penduduk. Pengeluaran kesehatan sendiri disusun oleh tiga komponen, yaitu biaya pelayanan pengobatan/kuratif (termasuk biaya melahirkan dan biaya obat yang tidak dapat dirinci), biaya obat (hanya obat yang dibeli di apotek, toko obat, dan lain-lain), dan biaya pelayanan pencegahan/preventif. Pada tahun 2020, kontribusi pengeluaran per kapita penduduk untuk kesehatan terhadap rata-rata total pengeluaran per kapita sebulan tergolong kecil, yaitu di bawah angka 3 (tiga) persen, sedangkan kontribusinya terhadap rata-rata total pengeluaran bukan makanan per kapita sebulan hanya sekitar 5,07 persen

Pengeluaran per kapita sebulan untuk kesehatan penduduk yang tinggal di perkotaan hampir 2 (dua) kali lipat penduduk yang tinggal di perdesaan. Apabila dikaitkan dengan perbandingan antara persentase penduduk yang mengalami keluhan kesehatan, persentase penduduk yang berobat jalan, dan persentase penduduk yang rawat inap antara penduduk di perdesaan dan perkotaan yang tidak jauh berbeda, hal ini kemungkinan disebabkan biaya kesehatan di perkotaan yang lebih tinggi daripada di perdesaan.

Distribusi pengeluaran per kapita penduduk sebulan untuk kesehatan menurut komponen penyusun memperlihatkan bahwa biaya pelayanan pengobatan/kuratif memiliki kontribusi terbesar dibandingkan kedua komponen lainnya. Biaya pelayanan pencegahan/preventif memiliki kontribusi yang relatif kecil yaitu hanya sebesar 15,70 persen terhadap pengeluaran per kapita penduduk sebulan untuk kesehatan. Hal ini mengindikasikan penduduk Indonesia yang tidak sedia payung sebelum hujan, dalam arti lebih rela mengeluarkan uang untuk mengobati dibandingkan untuk melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit

Biaya pelayanan pengobatan/kuratif dikeluarkan penduduk apabila yang bersangkutan melakukan kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk menyembuhkan penyakit, mengurangi penderitaan akibat penyakit, mengendalikan penyakit atau kecacatan agar kualitas kesehatan dapat terjaga seoptimal mungkin. Sebaliknya, biaya pelayanan pencegahan/preventif dikeluarkan dalam rangka upaya pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.

Nominal pengeluaran per kapita sebulan untuk pelayanan pengobatan/kuratif yang dikeluarkan penduduk hampir 5 (lima) kali lipat nominal yang dikeluarkan untuk memperoleh pelayanan pencegahan/preventif. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan perilaku masyarakat Indonesia yang lebih suka melakukan upaya kesehatan setelah terpapar penyakit dibandingkan melakukan upaya pencegahan. Hal ini kemungkinan terkait juga dengan adanya jaminan kesehatan yang dapat membebaskan penduduk yang terpapar penyakit untuk dapat memperoleh pelayanan kesehatan untuk menyembuhkan dirinya dari penyakit yang diderita.

Pengeluaran per kapita sebulan untuk pelayanan pengobatan/kuratif paling banyak dikeluarkan untuk fasilitas kesehatan berupa rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta. Hal ini kemungkinan terkait dengan terpilihnya 2 (dua) fasilitas kesehatan tersebut sebagai pilihan utama penduduk untuk rawat inap yang tentunya menghabiskan banyak biaya.

Sementara itu, jenis upaya pencegahan/preventif dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan tertinggi adalah biaya pemeliharaan kesehatan lainnya. Kegiatan yang termasuk upaya pemeliharaan kesehatan lainnya antara lain urut, fitness, bekam, detox, yoga, futsal, senam kebugaran, pembelian vitamin, pembelian jamu untuk menjaga kesehatan, dan lain sebagainya. Berbagai kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik maupun konsumsi vitamin dan jamu ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh sehingga memperkecil peluang terpapar penyakit

Jenis pengeluaran kesehatan terakhir yang akan dibahas pada bagian ini adalah biaya obat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, biaya obat yang dimaksud adalah hanya untuk obat yang dibeli di apotek, toko obat, dan sebagainya. Jenis obat dengan persentase pengeluaran per kapita sebulan tertinggi adalah biaya obat yang dibeli dengan resep dari tenaga kesehatan yaitu 40,91 persen. Persentase pengeluaran per kapita sebulan untuk obat modern yang dibeli tanpa resep dari tenaga kesehatan juga cukup tinggi yaitu 39,40 persen. Hal ini kemungkinan terkait dengan tingginya persentase penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dan mengobati sendiri.

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI