Pustaka Lestari

Memahami Model dalam Pendidikan Anak Usia Dini

 

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam (6) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional bab 1 pasal 1 butir 14) dan pada pasal 28 dikatakan bahwa Pendidikan Usia Dini dilaksanakan dalam 3 (Tiga) jalur yaitu Pendidikan Formal dalam bentuk Taman Kanak-kanak (TKK) atau dalam bentuk yang sederajat. Jalur Pendidikan Nonformal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB) Taman Penitipan Anak (TPA) Satuan Pendidikan Sejenis (SPS) dan bentuk lain yang sederajat dan jalur Informal yakni pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan dalan lingkungan keluarga.

Para ahli perkembangan otak anak mengatakan bahwa anak pada usia 0-4 tahun perkembangan otaknya sudah mencapai 50% dan akan mencapai kesempurnaan (100%) pada usia 18 tahun (Depdiknas 2002). Himbauan untuk memberikan perhatian bagi anak usi dini juga merupakan keputusan dunia, dimana salah satu point Deklarasi Dakkar Tahun 2002 tentang pendidikan untuk semua berbunyi “ Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung “

Hasil identifikasi UNESCO memberikan empat (4) alasan tentang pentingya PAUD yakni : (1) Alasan Pendidikan : PAUD merupakan fondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi, menrunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah; (2) Alasan Ekonomi : PAUD merupakan investasi  yang menguntungkan bagi pribadi anak, keluarga maupun masyarakat; (3) Alasan Sosial : PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan; (4) Alasan Hak/Hukum : PAUD merupakan hak setiap anak ( sebagai Warga Negara) untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh Negara.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Dengan demikian, maka anak-anak usia dini pada kisaran usia 0 – 6 tahun (Golden Age) perlu diberikan perawatan dan pendidikan melalui PAUD. PAUD merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui PAUD, anak-anak usia 0-6 tahun memperoleh perawatan dan pendidikan dengan pemberian gizi yang seimbang, sentuhan, stimulasi dan atau rangsangan yang bermakna yang mengarah pada pencapaian kesempurnaan perkembangan otaknya. Di PAUD Formal (TKK, RA dan sejenisnya) segala sesuatu ada aturan yang sangat mengikat dan harus ditaati. Sedangkan dilain pihak daya tampungnya terbatas, kemudian penyelenggaraanya difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, baik dalam hal menghafal, maupun kemampuan membaca, menulis dan berhitung dengan memandang perkembangan kemampuan semua anak adalah sama.

Pendidikan anak usia dini tidak sekedar berfungsi untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak, juga untuk mengoptimalkan perkembangan otak. Pendidikan anak usia dini dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja seperti halnya interaksi manusia yang terjadi di dalam keluarga, teman sebaya, dan dari hubungan kemasyarakatan yang sesuai dengan kondisi dan perkembangan anak usia dini. Pendidikan yang penuh pemahaman, pengembangan dan kesempatan seluas-luasnya diberikan pada anak untuk menunjukan potensi dirinya sendiri dengan memberikan pengarahan yang jelas pada anak. Dengan demikian anak akan terdidik lebih cerdas dan menjadi seorang anak yang berpikir positif dan berpikiran terbuka. 

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu: (1) Membentuk anak yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa; (2) Membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

Ada empat model yang pernah dikembangkan oleh Pokja PAUD. Pertama, MODEL DIK SOFIA (Pendidikan Sosial & Finansial). Pendidikan anak usia dini (PAUD) tidak hanya terkait dengan upaya membekali mereka dengan tumbuh kembang yang memadai, tetapi juga penguatan karakter sejak dini. Masa emas anak-anak diisi dengan pemahaman dan karakter yang kuat sebagai bekal mereka kelak. Persoalan karakter di era globalisasi dan digitalisasi merupakan persoalan yang sangat fundamental. Salah satu implementasi pembentukan karakter ialah melalui pengenalan tentang kecerdasan finansial kepada anak usia dini, sebab salah satu bagian dari kemampuan dasar literasi adalah literasi finansial.  

Pendidikan finansial maknanya sangat luas. Bukan sekadar mengenalkan nilai uang, melainkan bagaimana menggunakannya dengan baik dan bijak, bagaimana hubungannya dengan orang lain termasuk pembentukan karakter, dan pengenalan keaksaraan.  Kecerdasan finansial merupakan upaya memampukan anak dan mengajari anak untuk bisa memahami kegiatan atau aktivitas mengelola keuangan sehari-hari yang sederhana.

Kemampuan mengelola keuangan tidak mungkin hanya dicapai melalui pendidikan finansial dan akses finansial saja, tetapi juga memerlukan adanya perubahan perilaku finansial setiap individunya. Artinya, pendidikan finansial tidak serta merta mengubah perilaku finansial seseorang, karena itu pendidikan finansial harus dilakukan terintegrasi dengan pendidikan sosial.  Oleh sebab itu, anak-anak sejak dini diajarkan tentang pemahaman pengelolaan uang sebagai pendidikan karakter. Sehingga ke depan akan menghasilkan generasi yang benar-benar mampu mengelola finansial dan sosial.  

Model kedua adalah MODEL TPPA (Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak) Kurikulum 2013 PAUD dikembangkan dengan mengacu pada Permendikbud Nomor 137 tahun 2014 tentang Standar Nasional PAUD. Hal ini merupakan upaya untuk merealisasikan Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA) yang merupakan bagian penting dari Standar Nasional PAUD. STPPA yang dimaksud adalah kriteria tentang kemampuan yang dicapai anak pada seluruh aspek perkembangan dan pertumbuhan, mencakup aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional, serta seni. Untuk mendapatkan gambaran obyektif dari STPPA pada anak usia dini Indoesia sesuai aspek-aspek perkembangan maka diperlukan pemantauan yang seksama, utuh dan kompresehensif. 

Agar proses dan hasil pemantauan dapat dipertanggungjawabkan, maka diperlukan instrumen yang handal, yaitu yang validitas dan reliabilitasnya terpercaya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Tim yang dibentuk oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jendederal PAUD dan Dikmas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menyusun instrumen yang diberi nama Instrumen TPPA (Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak), yang dilengkapi dengan rubrik dan cara-cara pengisiannya.  

Model ketiga adalah MODEL PURINA (Pendidikan Pengurangan Resiko Bencana untuk Anak Usia Dini) Kondisi alam wilayah negara Indonesia memiliki potensi sangat rawan atau rentan terhadap segala jenis bencana. Fakta yang dihadapi oleh Indonesia sampai sekarang ini yaitu bahwa hampir setiap wilayah tidak ada yang tidak pernah bebas dari peristiwa bencana. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk mengembangkan kesiapsiagaan terhadap bencana dituangkan melalui terbitnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan secara jelas bencana dan rawan bencana, yaitu: (1) bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis; dan (2) rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.

UU nomor 24 tahun 2007 (pasal 26) menyatakan prioritas Pengurangan Risiko Bencana perlu dimasukkan ke dalam sektor pendidikan, di mana setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana. Melalui pendidikan dan pelatihan penanggulangan bencana baik secara formal dan nonformal, diharapkan budaya aman dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dapat terus dikembangkan.

Bagian dari keseluruhan mandat Undang-Undang Penanggulangan Bencana yang harus direalisasikan pemerintah adalah melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana. Ini meliputi kegiatan-kegiatan pencegahan dan mitigasi bencana yang harus dilakukan di semua lini dengan pelibatan sebanyak mungkin unsur yang ada di dalam pemerintah dan masyarakat. Muara dari kegiatan pengurangan risiko bencana ini adalah meningkatnya ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana. Dalam konteks ini, sektor pendidikan memiliki peran sangat strategis untuk mengenalkan nilai-nilai, pengetahuan dan pemahaman tentang pengurangan risiko bencana kepada anak-anak sejak dini.

Undang-Undang Penanggulangan Bencana sendiri secara khusus menyinggung tentang kegiatan pengurangan risiko bencana yang berkaitan dengan pendidikan pada pasal 26 di mana dinyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Model keempat adalah MODEL STEAM (Science, Teknologi, Engineering, Art dan Matematic). Konsep pendidikan yang berfokus pada aspek kolaborasi, mengarahkan anak untuk berfikir kritis, kreativitas, berinovasi serta mencari solusi (problem solving), yang berbasis internasional didasari pada nilai-nilai moral dan budaya Indonesia. Disadari ataupun tidak, bahwa dunia pendidikan terus berinovasi sehingga jika tidak mengikuti perkembangan menuju pada perubahan maka kita akan tetap tertinggal dalam segala hal.

Oleh karena itu untuk melahirkan generasi masa depan yang siap menghadapi segala tantangan diperlukan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada praktek langsung. Pendekatan pembelajaran yang mengarah pada praktek langsung tidak terlepas dengan pelibatan lingkungan sebagai wahana pembelajaran sebagai obyek langsung. Hal ini terkait dengan pembelajaran yang digagas oleh Jean Jacques Rosseau (1712-1778) menekankan pembelajaran yang dilakukan harus menggunakan pendekatan alam yang disebutnya pendekatan naturalistik.

Pendidikan naturalistik membiarkan anak tumbuh tanpa intervensi dengan cara tidak membandingkan anak satu sama lain serta memberikan kebebasan anak untuk mengeksplorasi tanpa membahayakan diri sendiri dan orang lain. Sebagai seorang naturalist maka Rousseau meyakini agar orang dewasa tidak memberikan batasan-batasan pada anak, karena pengaruh batasan tersebut sangat besar, yakni menghambat perkembangan anak. Kesiapan anak merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini kebebasan yang dimaksud bukanlah kebebasan tanpa arah tetapi kebebasan yang terbingkai melalui pendampingan orang dewasa atau guru. Pendapat ini diperkuat oleh Montessori menyatakan bahwa anak-anak terlahir sebagai peneliti ilmiah, serta kemampuan untuk berfikir bagaikan seorang ilmuwan sudah dimiliki sejak lahir.  

Pembelajaran aktif, inovatif dan berfikir kritis sejalan dengan konsep pembelajaran STEAM (Science, Teknologi, Engineering, Art dan Matematic) dengan konsep utamanya adalah praktek sama pentingnya dengan teori. Artinya harus menggunakan tangan dan otak untuk belajar. Jika anak hanya belajar teori di dalam kelas maka anak takkan bisa mengimbangi perubahan dunia yang dinamis. Fitur utama STEAM adalah pusat pembelajaran dari berbagai subjek berbeda, ketika anak bisa menggunakan tangan dan otak mereka. Anak harus mempraktekkan ilmu yang mereka pelajari. 

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI