Pustaka Lestari

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan Anak Usia Dini di Keluarga

 

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat penting bagi perkembangan anak balita. Pengembangan kemampuan belajar, sosial, pemantauan kesehatan, dan pengembangan karakter. Semua aspek pertumbuhan tersebut bisa dipantau dan berkembang melalui Pendidikan Anak Usia Dini. Kokoh atau rapuhnya perkembangan otak anak sangat bergantung kepada semua hal yang dialaminya di usia dini.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan penutupan lambaga Pendidikan termasuk PAUD. Dapat dipastikan PAUD tahun ajaran baru 2020/2021 sepi dari peminat.

Melihat kondisi di lapangan, proses pembelajaran PAUD pada akhir tahun pelajaran 2019/2020 beralih dari belajar di sekolah ke belajar di rumah. Dengan situasi yang masih rawan hingga akhir tahun ini, kemungkinan besar tahun pelajaran 2020/2021 belum dapat dijalankan dengan normal. Proses pembelajaran PAUD kemungkinan akan tetap tanpa proses belajar tatap muka antara guru dengan peserta didik.

Terlepas dengan adanya revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri yang memperbolehkan sekolah di zona kuning untuk kembali beraktivitas tatap muka, tingkat kerawanan bagi anak usia dini tertular tetap tinggi. Hal ini mengakibatkan banyak orangtua yang masih enggan menyekolahkan anaknya terlalu cepat.

Tantangan dan ujian bagi kelangsungan proses pembelajaran maupun eksistensi PAUD tidaklah mudah. Peserta didik PAUD belum mampu atau belum saatnya mengoperasikan gawai sebagai alat pembelajaran jarak jauh. Proses pembelajaran PAUD yang penuh dengan kegembiraan, keakraban, kasih sayang, dan keharmonisan lainnya, lenyap ditelan wabah Covid-19.

Semua manfaat PAUD bagi perkembangan anak usia dini tidak boleh hilang karena pandemi Covid-19. Di sinilah pentingnya peran orangtua dalam berkomunikasi dengan para guru untuk memastikan aktivitas belajar mengajar bagi anak usia dini tetap berjalan dengan baik di rumah sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.

Orang tua membimbing berbagai aktivitas anak di rumah dan mengamati  segala hal yang dilakukan anak, seperti: apa yang diucapkan anak, termasuk ekspresi wajah, gerakan, proses belajar dan hasil karya anak, di setiap sudut ruang baik di dalam maupun di luar rumah. Selain tentunya, orang tua juga perlu mengamati pertumbuhan fisik dan kondisi psikologis anak, dengan berkonsultasi kembali pada para ahlinya segera setelah pandemi mereda dan fasilitas kesehatan dibuka.

Penilaian Kebutuhan Cepat (Rapid Need Assessment) yang dilakukan Save the Children Indonesia pada April 2020 menunjukkan bahwa 25 persen orang tua tidak memiliki alat dan bahan ajar yang memadai, 40 persen orang tua melihat motivasi anak menurun, dan hampir 30 persen guru membutuhkan materi pembelajaran jarak jauh. Kemungkinan kondisi asli di lapangan jauh lebih besar dari persentase kajian ini mengingat keterbatasan kajian yang memilih kelompok masyarakat pengguna telepon pintar sebagai responden.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis multi-dimensi tidak terkecuali sector Pendidikan sebagai salah satu sektor yang paling parah terdampak. Saat ini diperkirakan 60 juta murid dari semua jenjang pendidikan PAUD hingga SMA/SMK di Indonesia belajar dari rumah dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Proses belajar tanpa kehadiran guru dan murid di kelas, berpotensi mengurangi kualitas pendidikan. Orang tua tidak sama dengan guru. Orang tua tidak dapat mendampingi sepenuhnya  dan mengajari anak dalam berbagai mata pelajaran.

Sementara proses belajar dalam jaringan memaksa berkurangnya interaksi langsung antara guru dan murid. Hal ini diperburuk dengan kurangnya fasilitas pendukung seperti jaringan listrik, internet, dan kemampuan orang tua dalam menyediakan paket data serta tidak memiliki telepon pintar.

Pendampingan dan pendidikan pada anak usia dini dengan presentase 75 persen merupakan tanggung jawab orang tua dan 25 persen merupakan tanggung jawab guru PAUD. Orang tua mempunyai tanggung jawab yang lebih besar dalam pendidikan anak (Putra, 2020). Guru memberikan tugas melalui aplikasi WhatsApp dan memberikan pengarahan kepada orang tua mengenai petunjuk pengerjaan tugas. Selain memberikan tugas, guru bertugas, guru berhak untuk memberikan penguatan kepada siswa dengan cara memberikan apreasiasi melalui Voice Note atau dengan memberikan stiker bintang pada hasil tugas yang telah dikerjakan oleh siswa (Setyowahyudi & Ferdiyanti, 2020).

Hasil studi Trisnawati dan Sugito (2021) bahwa proses pendidikan anak dalam keluarga belum seluruh orang tua menerapkan prinsip-prinsip belajar untuk anak usia dini. Orang tua lebih berfokus pada semangat anak dalam megerjakan tugas, karena hal tersebut menurut orang tua dapat dijadikan stimulus untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Guru perlu memantau dan melakukan wawancara dengan orang tua mengenai cara yang diberikan dalam melaksanakan pendidikan anak, demikian dapat dilakukan evaluasi mengenai keberhasilan program belajar dari rumah.

Tidak semua orang tua memiliki pemahaman yang sama, meskipun dengan tugas yang sama tetapi orang tua memberikan stimulus kepada anak dengan cara yang berbedabeda. Orang tua memiliki inisiatif untuk memberikan penghargaan atau pujian kepada anak ketika anak sudah selesai mengerjakan tugas. Pujian tersebut dalam bentuk kalimat, dan terlihat anak merasa senang. Selain orang tua memberikan pujian kepada anak, guru memberikan penghargaan dalam bentuk bintang di hasil tugas yang diberikan kepada guru. Hal tersebut memberikan bukti bahwa anak memiliki semangat lebih jika hasil karyanya dihargai oleh orang lain di sekelilingnya.

Anak usia dini merasakan kebosanan untuk belajar di rumah saat pandemi, karena terdapat larangan untuk berkerumun sebagai akibat dari coronavirus disease atau covid-19. Suasana belajar yang nyaman ditumbuhkan oleh kondisi lingkungan sekitar dan orangorang disekitar tempat belajar. Orang tua memiliki hak untuk memberikan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar pada diri anak. Berdasarkan prinsip pendidikan anak usia dini, sebaiknya orang tua melaksanakan pembelajaran dengan cara bermain sambil belajar. Orang tua dituntut untuk kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga anak merasakan kenyamanan dalam proses belajar. Namun, tiga dari lima keluarga belum melaksanakan prinsip bermain sambil belajar.

Orang tua memberikan kebebasan kepada anak untuk bermain setelah tugas sekolah terselesaikan. Tetapi hal tersebut membuat anak merasa kurang nyaman dalam mengerjakan tugas. Sedikit paksanaan membuat anak sesekali mogok untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru. Meskipun demikian, orang tua belum memahami solusi yang sebaiknya diterapkan dalam menghadapi kendala yang terjadi. Orang tua memberikan pengetahuan kepada anak tetap sesuai dengan strategi yang menurutnya benar. Dua dari lima keluarga telah menerapkan prinsip bermain sambil belajar, orang tua ikut terlibat ketika anak bermain sambil memberikan materi pengetahuan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti mendeskripsikan bahwa orang tua memberikan pengetahuan bersumber dari pengalaman yang telah didapatkan dan materi yang telah dipelajari dari membaca buku atau menonton youtube.

Rendahnya pengetahuan orang tua berdampak pada pendidikan yang diterapkan kepada anak. Terpantau dari cara belajar yang diberikan orang tua kepada anak. Sifat rajin yang terdapat pada diri orang tua dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan pengetahuan melalui membaca dan belajar dari sumber-sumber relevan akan memberikan efek kreatif dalam merealisasikan proses pembelajaran di rumah. Pendidikan yang diberikan orang tua di rumah tidak hanya sebatas mengerjakan tugas dari guru melainkan belajar dari lingkungan sekitar dan belajar dari media digital. Saat sekarang anak usia dini dapat belajar mengenai coronavirus disease atau covid-19, orang tua memberikan pengetahuan tentang covid-19 dengan membiasakan pola hidup sehat. Hal tersebut sudah diterapkan oleh seluruh subjek penelitian dengan mengajarkan anak tentang cuci tangan yang benar, memakai masker saat keluar rumah, dan tidak boleh berkerumun dengan banyak orang. Pengalaman yang dialami oleh anak usia dini akan terekam hingga dia dewasa.

Kenyamanan belajar pada anak usia dini dapat dimulai dengan menyediakan fasilitas belajar yang memadai, pendampingan orang tua dalam proses mengerjakan tugas, dan pemberian rewards kepada anak saat selesai mengerjakan tugas. Ketiga hal tersebut sudah terlaksana 90 persen, seluruh orang tua memberikan fasilitas belajar sesuai dengan kebutuhan anak, memberikan pendampingan saat pengerjaan tugas, serta memberikan pujian ketika selesai mengerjakan tugas. Orang tua menyadari bahwa hal tersebut menjadi stimulus anak sehingga tidak banyak drama yang berakibat anak mogok belajar.

Pada kondisi normal umumnya orang tua berada pada kondisi bekerja namun pada masa pandemi orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan anak melalui pembelajaran dari rumah. Orang tua memberikan pendampingan kepada anak pada saat mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Selain pendampingan, orang tua memberikan pengetahuan kepada anak yang bersumber dari lingkungan sekitar dan media digital. Hal demikian sejalan dengan pendapat (Oktaria, 2013) menjelaskan bahwa waktu kebersamaan anak dan orang tua di rumah tidak hanya dihabiskan dengan menonton televisi dan bermain smartphone, tetapi orang tua diberikan kesempatan untuk memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak.

Peran sentral orang tua dalam pendidikan anak di era pandemi memberikan keberhasilan karena umumnya orang tua merupakan pendidik utama bagi anak usia dini. Hal tersebut sudah dilaksanakan orang tua selama terdapat aturan untuk belajar dari rumah. Menciptakan lingkungan belajar telah direalisasikan oleh orang tua sesuai dengan strategi masing-masing keluarga. Sejalan dengan hasil penelitian (Irma dkk, 2019) bahwa keberhasilan proses belajar mengajar pada anak usia dini bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan lembaga sekolah melainkan orang tua sebagai pendidik pertama dan utama yang berperan secara utuh dalam keberhasilan pembelajaran anak. Guru, siswa dan orang tua merupakan elemen unsur belajar mengajar anak usia dini yang bertindak saling mempengaruhi.

Pemberian tugas oleh guru dilakukan melalui WhatsApp memberikan rendahnya interaksi antara guru dan siswa. Sejalan dengan hasil penelitian (Muhdi & Nurkolis, 2021) bahwa implementasi kebijakan e-learning belum terlaksana secara efektif sehingga guru perlu menyusun rancangan pembelajaran dengan lebih memperhatikan kemaksimalan tingkat interaksi antara guru dan siswa. Sedangkan Wahyudi ( 2019) menjelaskan bahwa pendidikan keluarga perlu memperhatikan realitas sehingga orang tua lebih memperhatikan penerapan pendidikan yang tepat.

Orang tua berpedoman terhadap pengetahuan dan pengalaman dalam pendidikan anak sehingga orang tua dijadikan contoh oleh anak dalam proses belajar. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian (Andriyani, 2018) bahwa keluarga merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak usia dini. Orang tua menjadi contoh dalam anak berproses, pada dasarnya pendidikan anak usia dini merupakan hak anak yang diperoleh dari orang tuanya bukan pemberian orang tua kepada anak.

Orang tua menciptakan kenyamanan belajar yang dijadikan sebagai stimulus semangat belajar pada anak sehingga anak tidak banyak drama yang berakibat mogok belajar. Tidak berbeda dengan pendapat (Mustofa & Ishak, 2017) bahwa rasa bosan yang dirasakan oleh anak dapat diatasi dengan menerapkan berbagai variasi metode pembelajaran. Sebagai pendidik harus memahami lebih dari satu metode, karena tanpa adanya metode dalam pembelajaran maka proses pendidikan anak sia-sia. Gairah belajar pada anak perlu dibangkitkan, dipupuk, serta dikembangkan.

Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga dalam pelaksanaan pendidikan dari rumah perlu memperhatikan kenyamanan belajar anak sehingga tidak berakibat anak mogok belajar. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian (Sofiani et al., 2020) bahwa anak usia dini cenderung senang dengan hal baru yang didapatkan melalui aktivitas bermain. Tidak jarang anak bermain dan memuaskan rasa penasaran dengan media digital, salah satunya adalah smartphone. Namun tanpa disadari, hal tersebut berpengaruh terhadap perkembangan anak. Rahimah & Muzdhalifah (2019)menjelaskan bahwa pola asuh orang tua merupakan faktor penting dalam mengembangkan atau menghambat perkembangan kecerdasan anak.

Pandemi covid-19 memberikan tanggung jawab kepada orang tua menjadi pendidik utama bagi anak. Orang tua bertugas sebagai pendamping anak dalam mengerjakan tugas yaitu dengan cara membantu anak mengerjakan tugas, belajar dari lingkungan sekitar, dan memberikan pengetahuan kepada anak mengenai covid-19. Setiap keluarga memiliki cara berbeda dalam melaksanakan pendidikan dari rumah. Pelaksanaan pendidikan anak dalam keluarga belum sepenuhnya memperhatikan prinsip belajar anak usia dini namun orang tua sudah berhasil menciptakan kenyamanan belajar pada anak. Terlihat dari pemberian fasilitas belajar yang memadai, pendampingan dalam pengerjaan tugas, pemberian rewards oleh orang tua dan guru. Keberhasilan tersebut terpantau dari antusias anak dalam proses belajar.

 *Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI