Pustaka Lestari

6,2 juta Balita Kita Menderita STUNTING

 

Arimbi Heroepoetri.,S.H.,LL.M

Direktur PKPBerdikari, Fellow MIT – UID Ideas 5.0, Tenaga Ahli Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR-RI)

 

Waduh stunting di pedesaan lagi menjadi program prioritas, banyak balita kurang gizi, keluarga yang anaknya stunting ada yang mendapat jatah susu bahkan uang, namun petugas lapangan pusing, karena ada yang susunya dijual, bapaknya yang lebih sering minum susu buat campuran ngopi  2 – 3 sekali sehari sementara anaknya hanya sekali itupun encer,  ada juga dapat bantuan uang tunai 600 ribu malah buat genepin beli HP bapaknya atau keperluan lain yang bukan untuk meningkatkan  kesehatan anaknya...

 

Kalau diingatkan supaya kasih perhatian pada anaknya, jawabnya enteng saya dulu masih kayak gini sekarang ya sehat walaupun nggak lulus SD (dari dinding FB Suporahardjo Fnu, 11 April).

 

Demikian tulisan di dinding FB seorang sahabat. Sungguh menyedihkan kondisi riil di masyarakat ternyata masih ditemui para orang tua yang masih abai terhadap kondisi stunting anaknya. Dalam forum Diskusi Denpasar 12, 6 April 2022 tentang stunting terungkap bahwa masalah stunting itu memang bukan masalah kesehatan saja, tetapi juga masalah budaya termasuk budaya patriarki yang mendorng perkawinan anak,  budaya mendahulukan ayah dalam tradisi makan di keluarga, budaya menjual hasil ternak yang bagus, sementara yang jelek dikonsumsi keluarga.  Sementara kebiasaan konsumsi junk food  dan makanan instan menjadi salah satu penyebab prevelansi stunting juga tinggi di kalangan keluarga menengah ke atas, demikian dinyatakan oleh Dyah Puspitarini, Ketua umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (2016 – 2020) .

 

Pemerintah sendiri serius untuk mengatasi stunting ini, termutakhir telah dikeluarkan  Perpres No. 72 Tahu 2021 tentang Percepatan Penurunan angka stunting yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah sampai tingkat desa. Pendekatan by name by address dilakukan, dengan prioritas di 12 propinsi: (7 propinsi dengan prevalensi stunting tertinggi),  yaitu NTT, Sulbar, Aceh, NTB, Sultra, Kalbar dan Sulteng, dan 5 propinsi dengan jumlah balita stunting terbanyak, yaitu  Jabar, Jateng, Jatim, Banten dan Sumut di mana total 51,2 persen balita stunting, alias 3 juta jiwa lebih, tinggal di 5 propinsi ini.

 

Target pemerintah di tahun 2022 ini adalah menurunkan angka prevalensi stunting  di Indonesia dari 24 persen menjadi 14 persen. Sekarang angka stunting masih di 24.4 persen dari keseluruhan jumlah balita yang mencapai 23 juta. Jadi sekitar 6.1 juta Balita masuk dalam kategori stunting, masih melebihi standar WHO yaitu 20 persen.

 

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang  cukup lama, sehingga mengakibatkan  gangguan pertumbuhan  pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya, yang pada akhirnya akan mempengaruhi perkembangan otak dan tingkat kecerdasannya.

 

Seribu hari emas adalah seribu hari pertama kehidupan anak, itu artinya sejak anak dalam kandungan ibunya sampai menjelang usia 3 tahun perlu dijaga asupan gizi yang cukup bagi ibu dan anak. Tentu saja pemenuhan gizi yang cukup bukanlah beban sang ibu seorang, tetapi tanggung jawab bersama dalam keluarga, selain harus memiliki pemahaman mengenai makanan bergizi. Dan ternyata ini menjadi masalah utama dalam pemenuhan gizi, pendekatan ‘asal kenyang’ dan pengabaian pentingnya 1.000 hari emas di tingkat masyarakat, seperti yang yang terungkap di awal tulisan ini, akan membuat kerja keras pemerintah menjadi sia-sia, dan kita akan terus dibayangi oleh: 6 juta anak Indonesia  terancam kehilangan IQ 10 – 15 poin, dan dampak beruntun yang mengikutinya: 6 juta anak Indonesia terlambat masuk sekolah dan memiliki prestasi akademi lebih buruk; direct cost penanganan malnutrisi mencapai $20 – 30 milyar per tahun; Indonesia akan kehilangan potensi GDP 2-3 %; dan Kemiskinan generasi akan semakin buruk.

 

Pemerintah sudah bersungguh-sungguh menjalankan program penurunan prevalensi dan jumlah balita penyandang stunting. Mari sukseskan program pemerintah, tekan angka stunting, pahami sumber pangan bergizi dan beri asupan makanan yang bergizi untuk Balita kita. Kelak, para Balita ini akan menjadi penerus generasi kita sekarang, maka sudah kewajiban kita untuk mempersiapkan mereka sebaik mungkin.