Pustaka Lestari

COVID-19 dan Pembelajaran Ramah Difabel di Perguruan Tinggi

Rabu, 02 September 2020 covid-19, pandemi, disabilitas, pendidikan, Indonesia

 

Pandemi COVID-19 berdampak di semua lini kehidupan. Salah satu yang paling terdampak adalah dunia pendidikan. Di Indonesia, selagi sektor-sektor lain sudah mulai bergerak kembali, sektor pendidikan masih ‘terkunci di rumah.’

Mayoritas sekolah masih memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Hampir semua universitas berencana kuliah full online (daring) pada semester gasal tahun akademik baru 2020/2021 ini. Namun, tidak semua orang siap beralih ke pembelajaran daring. Guru dan dosennya, murid dan mahasiswanya, sama-sama menemui banyak hambatan. Siswa dan mahasiswa difabel, yang suaranya sering diabaikan, dapat diasumsikan mengalami hambatan berlipat dari yang non difabel.

Saat semester genap 2019-2020 baru berlangsung enam kali pertemuan, secara mendadak seluruh proses kuliah tatap muka dihentikan. Kampus ditutup dalam upaya mencegah persebaran COVID-19. Semua proses belajar mengajar, termasuk bimbingan dan ujian skripsi, dialihkan dalam layanan daring.

Untuk mengevaluasi apa saja yang terjadi selama kuliah daring tersebut dan menyiapkan kuliah semester gasal, Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kalijaga menyelenggarakan riset mini kesiapan kuliah daring bagi mahasiswa difabel.

Survei diselenggarakan antara tanggal 16-22 Agustus 2020 dan berhasil menjaring data dari 37 mahasiswa difabel. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa: pertama, survei ini bersifat sukarela, karena itu tingkat partisipasi sangat tergantung kepada para mahasiswa difabel sendiri, baik dalam hal kesediaan atau aksesnya. Kedua, mayoritas mahasiswa difabel, saat pandemi dan saat survei ini dilaksanakan, sedang berada di rumah.

Jadi, ada kemungkinan kendala teknis dan aksesibilitas yang tidak dapat didukung ketika mereka tidak sedang berada di kampus. Meski tidak semua ‘populasi’ berpartisipasi, tim peneliti berpendapat bahwa hasil survei ini cukup untuk memberikan gambaran kesiapan/ketidaksiapan para mahasiswa difabel yang terkena dampak Pandemi COVID-19.

Survei ini melihat beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan/ketidaksiapan pembelajaran para mahasiswa difabel—yang dalam banyak hal sebenarnya tidak berbeda dengan mahasiswa non difabel. Faktor yang mempengaruhi ini setidaknya dapat dilihat dalam empat hal (1) keadaan personal (jenis disabilitas), (2) lingkungan tempat tinggal, (3) sarana pembelajaran, dan (4) media pembelajaran.

Keadaan personal (jenis disabilitas) akan mempengaruhi akses ke lokasi pembelajaran dan media pembelajaran. Di satu sisi, tunanetra tentu akan berhadap dengan hambatan visual laten dalam teknologi komputer; penyandang disabilitas terkait motorik, akan mengalami masalah dengan keyboard; mahasiswa Tuli mengalami hambatan bila para dosen menggunakan webinar tanpa juru bahasa isyarat; dan semisalnya.

Sebaliknya, di sisi yang lain, Difabel tunadaksa, mungkin akan lebih dimudahkan dengan kuliah daring dibandingkan dengan kehadiran fisik di kampus menggunakan kursi roda. Maka, kondisi dan jenis disabilitas mahasiswa penting untuk diidentifikasi.

Kedua, tempat tinggal, karena terkait dengan dukungan sosial yang menjadi faktor penting kesuksesan belajar difabel. Saat perkuliahan berlangsung di kampus, mahasiswa difabel memperoleh dukungan yang baik dari Pusat Layanan Difabel. Mahasiswa Tuli, misalnya, mendapatkan pendampingan juru tulis atau juru bahasa isyarat pada setiap kuliah yang ia ikuti.

Namun, ketika perkuliahan berlangsung secara daring, mahasiswa penyandang disabilitas boleh jadi akan menemui tantangan. Penyandang disabilitas yang tinggal di rumah mungkin memperoleh dukungan pengganti dari keluarga. Akan tetapi, mereka yang tinggal jauh dari orang tua, bisa saja tidak akan memperoleh dukungan yang sama.

Ketiga, sarana pembelajaran atau gawai yang digunakan, baik itu smartphone, tablet, komputer PC maupun laptop dan akses internet. Dalam konteks difabel, jenis gawai yang digunakan mempunyai relevansi dengan jenis disabilitas. Dengan gawai yang sama, penyandang tuli menggunakan smartphone dengan cara yang berbeda dengan penyandang tunanetra.

Keempat, media pembelajaran. Media mana yang paling ‘ramah’ terhadap difabel? Apakah Zoom lebih ramah dibandingkan WhatsApp bagi tunanetra? Apakah Google Classroom lebih dipilih daripada eLearning yang disediakan oleh kampus? Penilaian ditentukan dengan melihat fitur dan aksesibilitasnya bagi masing-masing jenis disabilitas.

Kondisi pandemi mengakibatkan Yogyakarta mendadak sunyi, mayoritas mahasiswa pulang kampung karena kampus-kampus menghentikan belajar tatap muka. Demikian pula para mahasiswa difabel, survei menemukan bahwa selama pandemi ini mayoritas (85,5 persen) pulang kampung, dan hanya beberapa orang saja yang bertahan di Yogyakarta.

Karena PLD berhenti memberikan dukungan pembelajaran, tidak semua difabel mendapatkan alternatif dukungan di tempat tinggal mereka. Mereka yang tinggal di rumah (32 responden), hanya 28,1 persen yang mengaku mendapatkan dukungan penuh dari keluarga, 34,4 persen hanya kadang kala, dan sisanya tidak memperoleh dukungan sama sekali (37,5 persen).

Survei menunjukkan bahwa mayoritas (81 persen) mahasiswa memiliki akses ke smartphone dan kurang dari 70 persen yang memiliki laptop/komputer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada proporsi yang signifikan yang tidak akan dapat mengikuti kuliah secara baik dan nyaman karena mengakses materi visual melalui smartphone yang berlayar kecil.

Survei ini menemukan bahwa mayoritas mahasiswa mengandalkan smartphone dan koneksi internet mobile (3G/4G) sebagai pintu akses ke Internet, dan hanya sedikit (27 persen) yang memiliki akses WiFi di tempat tinggalnya. Akses data via smartphone tentu saja lebih mahal dibandingkan dengan WiFi dan mempengaruhi kemampuan ekonomi mereka.

Untuk akses ke komputer/laptop, survei menemukan bahwa masih ada 20 persen tunanetra yang belum bisa mengakses komputer/laptop dengan dilengkapi piranti lunak layar baca semisal Jaws. Sedangkan untuk mengakses HP, 100 persen tunanetra sudah bisa mengakses HP layar sentuh Android. Dengan kemampuan akses teknologi sedemikian ini, ketika diberi pilihan model kuliah yang paling cocok dengan tunanetra, ditemukan jawaban yang sangat beragam, tersebar relatif di semua pilihan jawaban.

Dengan model pilihan ganda (hanya bisa memilih satu di antara alternatif jawaban), Google Classroom menempati urutan teratas, tetapi kuliah lewat WA atau Zoom juga mereka pilih. Distribusi yang merata juga tampak dalam pilihan mahasiswa Tuli. Meskipun bagi mereka, kuliah di WA menempati porsi tertinggi, jauh di atas Google Classroom

Terdapat mahasiswa yang menjawab lebih enak kuliah online yang berasal mahasiswa dengan tingkat kesulitan mobilitas yang tinggi. Mereka hanya bisa di kursi roda dan setiap hari harus antar jemput, pulang pergi ke kampus. Sementara yang lain, tunadaksa yang tidak cukup mengganggu mobilitas.

Dosen juga perlu mengingat bahwa mahasiswa harus berada di depan layar kecil untuk jangka waktu yang lebih panjang dari yang dosen sadari. Karena bisa saja pada hari tertentu mahasiswa mengikuti 2-3 kuliah online. Ketidaknyamanan akibat kelelahan layar (screen fatigue) ini akan mengurangi kualitas pembelajaran, dan karena itu dosen perlu memastikan bahwa materi yang disajikan dapat diakses dengan ‘nyaman’ oleh mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa difabel khususnya.

Dosen fleksibel untuk menggunakan berbagai media yang saling melengkapi. Tidak melulu menggunakan WA atau Zoom, tetapi memvariasikan. Misalnya, dari mata kuliah berbobot 1 SKS, biasanya dipahami sebagai 50 menit tatap muka, 60 menit kegiatan terstruktur, dan 60 menit mandiri. Selama proses ‘diversifikasi’ ini diperlukan cara menyapa mahasiswa difabel untuk menanyakan kemungkinan bahwa mereka memilih variasi belajar tertentu yang lebih cocok menurut jenis disabilitas mereka

Sebagai alternatifnya, penting untuk mengkomunikasikan masalah ini dengan keluarga difabel. Sekali lagi, kuliah daring itu tidak mudah bahkan bagi mahasiswa non-difabel, akan lebih baik jika ada support untuk difabel dalam kuliah daring ini dari keluarga atau lingkungannya.

Kesimpulannya, bahwa suara mahasiswa difabel sering diabaikan, dan oleh sebab itu, sekecil apa pun suara yang berhasil ditangkap akan sangat berarti untuk didengarkan.

Survei ini setidaknya mengingatkan bahwa ada bagian dari sistem pendidikan di Indonesia yang perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa the new normal wajib menghasilkan the better normal. Jika pendidikan sebelum pandemi belum inklusif, maka akan lebih baik jika pendidikan setelah pandemi tidak hanya memperkenalkan kebiasaan baru, tetapi kebiasaan yang lebih baik, lebih inklusif, dan ramah bagi difabel. *)