Pustaka Lestari

Hari Udara Bersih Internasional

Udara merupakan unsur yang paling penting bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia. Oleh sebab itu, udara bersih sangat mempengaruhi kualitas hidup. Atas dasar itu, tidak heran bila udara bersih dicanangkan menjadi salah satu hak asasi manusia.

Dewan Hak Asasi Manusia PBB memberikan mandat kepada UN Environment Programme (UNEP) untuk mengkaji kewajiban HAM yang berhubungan dengan lingkungan yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Dalam hal ini, UNEP bekerja sama dengan David R. Boyd, pelapor khusus untuk HAM dan Lingkungan.

Sebab, udara yang kotor akan sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Dan korban paling parah dari polusi udara adalah anak-anak karena mereka bernafas lebih cepat dari orang dewasa. Selain itu, anak-anak juga menghirup udara lebih banyak dari orang dewasa.

Sembilan dari sepuluh anak dilaporkan menghirup udara kotor, dan 600.000 anak di dunia meninggal setiap tahun karena polusi udara. Pneumonia menjadi faktor utama penyebab kematian anak di bawah usia lima tahun.

WHO menyebut polusi udara sebagai pembunuh senyap atau yang biasa dikenal silent killer. Polusi udara tidak hanya berdampak buruk bagi paru-paru. Namun, polusi udara juga berdampak pada jantung dan otak.

Polutan, partikel kecil dalam polusi udara, dapat mengiritasi paru-paru dan pembuluh darah sekitar jantung. Polutan yang terdiri dari arsenik, timbal, nitrat, karbon organik, sulfat, dan karbon hitam, bisa menembus pembuluh darah dan menyebabkan sumbatan. Lalu, sumbatan tersebut dapat menyebabkan stroke.

Polusi udara membunuh 800 orang setiap jam atau 13 orang setiap menit. Jumlah itu 3x lebih banyak dibandingkan kematian akibat malaria, tuberkulosis, dan AIDS yang digabungkan setiap tahun.

Sejumlah polutan global dan lokal itu termasuk karbon hitam atau jelaga, dihasilkan karena sistem pembakaran yang tidak efisien dari sumber seperti kompor, mesin diesel dan metana. Sebanyak 97 dari 193 negara di dunia telah meningkatkan lebih dari85 persen rumah tangga yang memiliki akses ke bahan bakar bersih hingga lebih dari 85 persen. Namun, 3 miliar orang masih terus menggunakan bahan bakar kotor.

Polusi udara dari sektor rumah tangga menyebabkan sekitar 3,8 juta kematian dini setiap tahun. Sebagian besar terjadi di negara berkembang, dan sekitar 60% dari kematian itu terjadi pada perempuan dan anak-anak. 93% anak-anak di seluruh dunia tinggal di daerah-daerah di mana polusi udara melebihi pedoman WHO, dengan 600.000 anak di bawah 15 tahun meninggal akibat infeksi saluran pernapasan pada tahun 2016.

Polusi udara bertanggung jawab atas 26% kematian akibat penyakit jantung iskemik, 24% kematian akibat stroke, 43% akibat penyakit paru obstruktif kronis dan 29% akibat kanker paru-paru. Pada anak-anak, polusiudara terkait dengan berat badan lahir rendah, asma, kanker pada masa kanak-kanak, obesitas, perkembangan paru-paru yang buruk dan autisme. 97% kota di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan lebih dari 100.000 penduduk, tidak memenuhi tingkat kualitas udara minimum WHO, dan di negara berpenghasilan tinggi, 29% kota tidak memenuhi panduan WHO.

Sekitar 25% polusi udara sekitar perkotaan dari partikel halus berasal dari sektor transportasi, 20% oleh pembakaran bahan bakar domestik dan 15% oleh kegiatan industri termasuk pembangkit listrik. Saat ini, 82 dari 193 negara memiliki insentif yang mempromosikan investasi dalam produksi energi terbarukan, produksi bersih, efisiensi energi, dan pengendalian polusi.

Pertanian dan peternakan global menghasilkan emisi metana dan amonia. Metana merupakan gas pemanasan global yang lebih kuat daripada karbon dioksida – dampaknya 34 kali lebih besar selama periode 100 tahun. Pembakaran limbah terbuka dan limbah organik di tempat pembuangan sampah melepaskan dioxin, furan, metana, dan partikel halus berbahaya seperti karbon hitam ke atmosfer. Secara global, sekitar 40 persen limbah dibakar secara terbuka. Pembakaran terbuka limbah pertanian dan sampah perkotaan dilakukan di 166 dari 193 negara.

Menjaga agar pemanasan global “jauh di bawah” 2 derajat Celcius, seperti diamanatkan dalam Perjanjian Paris 2015, dapat menyelamatkan sekitar 1.000.000 jiwa per tahun pada 2050 melalui pengurangan polusi udara saja. Sebanyak 15 negara emiter gas penyebab pemanasan global. Biaya kesehatan akibat polusi udara diperkirakan lebih dari 4% dari PDB. Sebagai perbandingan, menjaga pemanasan hingga batas suhu Perjanjian Paris 2015 akan membutuhkan investasi sekitar 1% dari PDB global.

Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi Hari Udara Bersih Internasional untuk langit biru pada 19 Desember 2019. Lalu, WHO bekerja sama dengan BreatheLife untuk mengadakan peringatan Hari Udara Bersih Internasional yang akan diperingati pada 7 September 2020. Peringatan ini menjadi peringatan pertama Hari Udara Bersih Internasional.

Peringatan Hari Udara Bersih Internasional bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pencemaran udara, menunjukkan keterkaitan erat antara kualitas udara dengan pembangunan berkelanjutan global, mempromosikan solusi untuk meningkatkan kualitas udara, dan mengumpulkan pihak-pihak terkait untuk berkolaborasi meningkatkan kualitas udara.

Dari sekian banyak kota, angka pencemaran udara di Jakarta termasuk tinggi karena berada di angka 4,5 kali dari tingkat aman 2,5 PM (particulate meter). Pencemaran udara yang tinggi ini disebabkan berbagai faktor, seperti transportasi, debu, pembuangan limbah pabrik, limbah rumah tangga, dan limbah pertanian.

Berdasarkan tangkapan satelit ESA Copernicus Sentinel-5P, ternyata ada penurunan konsentrasi nitrogen dioksida di Paris dan Wuhan pada saat pandemi corona ini. Bahkan, badan pengawas kualitas udara Paris mencatat penurunan polusi udara mencapai 30 persen, dikarenakan adanya penurunan tingkat lalu lintas. Sementara di Indonesia sendiri, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga menginfromasikan bahwa kualitas udara pada Maret tahun 2020 lebih bersih dibandingkan Maret tahun 2019.

Ada berbagai hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi polusi akibat pencemaran udara. Hal paling mendasar yang dapat dilakukan adalah mengolah limbah rumah tangga menjadi energi terbarukan. Selain itu, hal yang dapat dilakukan adalah mengurangi limbah pabrik, limbah pertanian, dan membuat desain gedung dan rumah yang hemat energi. *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI