Pustaka Lestari

Sejarah Museum Nasional

 

Tanggal 12 Oktober merupakan hari Museum Nasional. Dalam memperingati hari museum nasional, maka diperlukan sejarah lahirnya museum nasional. Kata museum berasal dari mouseion, yang berarti kuil untuk sembilan Dewi Muses, anak-anak dewa Zeus, yang melambangkan ilmu dan kesenian. Kata museum mulai banyak digunakan pada masa Renaissance, Sekitar abad ke 16 dan ke-17. Kata museum itu, dikaitkan dengan ciri ilmiah, di samping bersenang-senang

Sejak masa prasejarah hingga sekarang, kebudayaan Indonesia senantiasa mengalami proses dinamika. Kebudayaan kerap kali dalam transisi untuk menerima hal baru, bahkan ada kecenderungan untuk mempertahankan yang lama. Demikianlah pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan Indonesia didasarkan kepada proses dialog, memakan waktu cukup lama untuk menghasilkan bentuk kebudayaan baru yang dapat diterima oleh seluruh warga bangsa.

Proses dialog dengan unsur-unsur kebudayaan asing, telah terjadi sejak masa protosejarah. Dalam era tersebut pengaruh kebudayaan sejenis yang datang dari luar kepulauan Nusantara, terutama dari daratan Asia Tenggara, mulai masuk dan diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

Demikian pula ketika pengaruh kebudayaan India mulai masuk ke Nusantara. Proses akulturasi terjadi tidak dalam masa singkat, melainkan memerlukan waktu lama sepanjang abad-abad pertama tarikh Masehi hingga berkembangnya kerajaan pertama yang bercorak kebudayaan India di Jawa bagian barat (Tarumanagara) dan Kalimantan Timur (Kutai Kuno).

Sebenarnya hanya tiga anasir budaya penting dari India yang diterima oleh nenek moyang bangsa Indonesia, yaitu (a) agama Hindu-Buddha, (b) Aksara Pallawa, dan (c) sistem penghitungan angka tahun (Kalender Saka). Dari ketiga anasir itulah kemudian kebudayaan awal dalam masa sejarah Indonesia berkembang pesat dengan menghasilkan banyak tonggak peradaban yang akan diacu hingga masa Indonesia merdeka.

Masa perkembangan agama Islam di kepulauan Nusantara,juga dapat terjadi berkat proses transisi dan dialog dari penduduk Nusantara yang telah mengembangkan kebudayaan sebelumnya, dengan agama Islam yang baru diperkenalkan dalam masa yang lebih kemudian. Kebudayaan Islam Nusantara telah memperkaya peradaban Indonesia selanjutnya. Selain perkembangan agama juga terdapat bermacam anasir budaya lainnya, seperti penghitungan tahun Hijriah dan aksara Arab. Dari periode ke periode perkembangan kebudayaan Indonesia senantiasa berlangsung dengan melalui masa transisi yang dapat menyaring mana anasir luar yang baik dan mana pula yang tidak dapat diterima

Penerimaan anasir kebudayaan luar tersebut tentu didasarkan kepada beberapa faktor, antara lain anasir kebudayaan luar merupakan hal baru yang sebelumnya tidak dikenal dan adanya kebutuhan di pihak masyarakat pribumi untuk menerima anasir kebudayaan dari luar. Dua faktor itulah yang sejatinya menjadi dasar penerimaan berbagai anasir kebudayaan luar yang akhirnya mempercepat dan memperkaya perkembangan kebudayaan di Nusantara.

Perkembangan kebudayaan di Indonesia mempunyai tahapan yang berbeda-beda di tiap daerah dan mempunyai bentuk beraneka, sehingga secara budaya setiap wilayah Nusantara sejatinya merupakan bentuk budaya unikum dan tidak dijumpai di lingkup budaya daerah lainnya. Kebudayaan unikum di tiap daerah adalah cerminan dari kepribadian bangsa yang merupakan refleksi dari jati diri bangsa Indonesia.

Ketika kebudayaan di tiap daerah tersebut diharapkan untuk tetap menjadi acuan dari generasi ke generasi berikutnya, sebagai simbol hakikat kebangsaan, maka diperlukan adanya pendokumentasian, inventarisasi, dan juga pengenalan kepada khalayak dari berbagai daerah. Saat itulah lembaga yang disebut museum sangat diperlukan. Dalam hal ini kaitan antara lembaga museum dan kebudayaan nasional beserta kebudayaan daerah yang unikum menjadi jelas. Museum adalah lembaga bagi kebanggaan perkembangan kebudayaan di tiap daerah di Nusantara.

Dewasa ini telah banyak didirikan museum di seluruh wilayah Indonesia. Agaknya telah tumbuh kebanggaan kepada pentingnya kebudayaan daerah sebagai komponen penegak kebudayaan nasional. Setiap peninggalan yang berhubungan dengan perkembangan sejarah kebudayaan Indonesia dapat dijadikan koleksi museum. Begitu pun setiap hasil kebudayaan etnik, dapat dijadikan bahan yang dipamerkan dalam museum-museum. Kehadiran museum mutlak adanya di Indonesia.

Walaupun kesadaran sejarah telah meningkat dan pembangunan bermacam museum terus terjadi, akar terbentuknya lembaga museum dan perkembangan lembaga tersebut masih belum banyak diketahui oleh insan permuseuman itu sendiri, apalagi oleh masyarakat luas. Pengetahuan tentang ikhwal terbentuknya museum dan perkembangan selanjutnya masih sangat parsial dan belum diintegrasikan ke dalam kesatuan narasi yang memadai.

Sejak kehadiran manusia di muka bumi, mereka sudah memperlihatkan kegemaran mengumpulkan sesuatu yang dipandang menarik atau unik. Hal ini ditunjukkan oleh adanya temuan-serta pada makam-makam prasejarah di berbagai negara. Kemungkinan besar temuan-temuan itu merupakan benda-benda koleksi si mati semasa hidup.

Kegemaran mengumpulkan benda rupa-rupanya sudah dikenal sejak lama sebagaimana tergambar dari kata museum (Yunani, mouseion), yakni 'kuil untuk memuja dewi-dewi inspirasi, pembelajaran, dan patron seni' (Akbar, 2010: 3). Di Mesopotamia museum dalam bentuknya yang paling primitif, dikenal pada awal milenium ke-2 SM. Di Sumeria pada abad ke-6 SM, menurut Kotler (2008) yang dikutip Akbar (2010), para raja sudah mengoleksi benda-benda antik. Koleksikoleksi tersebut disimpan di ruangan dekat kuil mereka masing-masing.

Di Eropa terutama Yunani dan Romawi, benih-benih permuseuman lahir akibat peperangan. Biasanya kerajaan yang menguasai wilayah lain akan membawa banyak pampasan perang. Keadaan yang lebih baik mulai terjadi setelah masa Renaisans atau 'Kelahiran Kembali' pada abad ke-15 M. Renaisans terkait dengan ilmu pengetahuan dan kalangan elit (bangsawan, hartawan, tokoh politik, dan pemuka gereja).

Lahirnya museum juga tidak lepas dari hobi kalangan terpelajar dan bangsawan Eropa untuk mengumpulkan benda-benda kuno. Ketika itu benda-benda kuno terlebih yang dianggap menarik, indah, aneh, atau langka, amat diminati. Apalagi yang berasal dari suatu zaman yang disebut-sebut oleh kitab sejarah, legenda, atau dongeng. Kalangan ini lazim disebut antiquarian

Sifat kritis dan selalu ingin tahu menjadi ciri pikiran orang Eropa, sehingga berbagai ilmu berkembang dengan pesat. Bersamaan dengan itu, para pedagang barang antikjuga mempunyai naluri bisnis. Mereka sering bepergian ke berbagai tempat, termasuk ke negara-negara non Eropa. Dari sana mereka membawa berbagai kisah dan benda dari negara-negara yang mereka kunjungi. Hal ini membawa kesadaran pada orang-orang Eropa bahwa di luar lingkungannya masih banyak terdapat kebudayaan lain.

Perkembangan hingga abad ke-17 memperlihatkan minat yang mula-mula terpusat pada sejarah bangsa Eropa, berkembang lebih luas. Akibat kegiatan orang-orang berada dan terpelajar, terkumpullah benda-benda kuno dalam jumlah besar. Benda-benda tersebut kemudian disimpan dalam suatu tempat. Mereka saling mempertontonkan koleksi, bahkan secara berkala mereka bertemu untuk mendiskusikan benda-benda tersebut. Namun 'museum' yang mereka bangun belum terbuka untuk umum, biasanya mereka hanya mengundang kalangan terbatas untuk berkunjung

Mencari rempah-rempah di Nusantara, sebenarnya merupakan tujuan utama bangsa Eropa datang ke sini. Sebagai negara tropis, tentu saja banyak hal tidak dapat dijumpai di Eropa. Rupa-rupanya me.-eka tertarik dengan flora, fauna, dan budaya Nusantara yang dianggap eksotik. Karena rasa keingintahuan yang besar, maka mereka melakukan berbagai ekspedisi dan penelitian ilmiah sa11pai ke daerah pedalaman.

Peneliti yang paling sering disebut adalah Georg Eberhard Rumpf (1628-1702). Dia seorang naturalis kelahiran Jerman tetapi bekerja untuk VOC. Pada 1660 ketika menjadi saudagar, Rumpf mulai tertarik kepada dunia alam Pulau Ambon. Pada 1662 dia mulai mengumpulkan berbagai spesies tumbuhan dan kerang di rumahnya. Sejak itu namanya lebih terkenal sebagai Rumphius sesuai selera ilmu pengetahuan pada zaman Renaisans yang gandrung akan nama-nama Latin atau Yunani

Di Batavia, sejumlah orang Eropa mendirikan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen pada 24 April 1778. Berbagai benda arkeologi dan etnografi milik para kolektor dan cendekiawan dikumpulkan di sini, antara lain milik J.C.M. Radermacher (1741-1783) dan Egbert Willem van Orsoy de Flines (1886-1964). Radermacher adalah kolektor numismatik, sementara Orsoy de Flines adalah kolektor keramik. Lembaga ini menjadi cikal bakal Museum Nasional.

Raden Saleh Syarif Bustaman (1814-1880) selain sebagai pelukis, dikenal sebagai bangsawan dan ilmuwan. Dia sering melakukan perjalanan budaya ke Jawa untuk mencari benda-benda arkeologi dan manuskrip yang masih dimiliki oleh keluarga-keluarga pribumi. Bahkan Raden Saleh sering kali melakukan ekskavasi untuk mencari fosil. Sumbangan Raden Saleh terhadap Bataviaasch Genootschap dinilai sangat besar. Demikian pula F.W. Junghuhn (1809-1864). Dia menyumbangkan temuan-temuan fosil mamalia. Sumbangan lain untuk Bataviaasch Genootschaap datang dari Bupati Galuh, Kinsbergen, dan Canter Visscher.

Di tanah Jawa beberapa bangsawan juga menaruh perhatian besar pada bidang kebudayaan. Pada masa pemerintahan Paku Buwono IX, K.R.A Sosrodiningrat IV berperan mendirikan Museum Radya Pustaka (1890) di Surakarta. Museum ini mendapat dukungan dari kalangan keraton, seperti R.T.H. Joyodiningrat II dan G.P.H. Hadiwijaya. Museum Sonobudoyo di Yogyakarta berawal dari Java lnstituut yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Yayasan itu berdiri pada 1919 di Surakarta dipelopori oleh sejumlah ilmuwan Belanda. Museum Sonobudojo diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada 6 November 1935.

RA.A. Kromojoyo Adinegoro mempunyai andil dalam mengumpulkan koleksi di daerah Trowulan, Jawa Timur. Pada 1912 dia mendirikan Museum Mojokerto, namun sisa-sisanya sukar dilacak kembali. Pada 1924 arsitek Belanda Ir. Henry Maclaine Pont mendirikan Oudheidkundige Vereniging fvlajapahit (OVM). Museum Mpu Tantular, juga di Jawa Timur, merupakan kelanjutan dari Stedelijk Historisch Museum Surabaya, didirikan oleh Godfried Hariowald Von Faber pada 1933 dan diresmikan pada 25 Juni 1937.

Selain di Jawa, museum sejarah dan kebudayaan didirikan di Bali. Pemrakarsanya adalah Dr. W.F.J. Kroon didukung para raja dan bangsawan Bali. Museum Bali dibuka secara resmi pada 1932. Di Bukittinggi pada 1935 diresmikan Museum Rumah Adat Baanjuang. Pendirinya adalah seorang Belanda, Mondelar. Museum-museum tersebut umumnya merupakan bagian dari bidang sejarah dan kebudayaan.

Museum-museum bersifat ilmu pengetahuan sains didirikan di Bogar, yakni Museum Zoologi (1894). Pendirinya adalah Dr. J.C. Koningsberger. Di Bandung, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Museum Geologi (1929). *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI