Pustaka Lestari

Kreativitas berbasis Niteni, Nirokke, dan Nambahi (Tri-N)

Kreativitas merujuk pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai. Banyak perusahaan yang berkembang dengan kemajuan teknologi tetapi manusia di balik proses tersebut yang berperan untuk menciptakan teknologi.

Permasalahan berkembang sepanjang waktu. Teknologi tidak mampu diandalkan untuk mencari solusi yang tepat. Ia hanya berfungsi sebagai alat yang mempermudah pekerjaan manusia. Teknologi sejauh ini hanya menjalankan perintah dari penggunanya tanpa mampu berkembang dan berpikir mencari solusi baru untuk permasalahan yang tengah dihadapi. Kreativitas digunakan untuk melihat permasalahan dengan perspektif baru dan berbeda. Kemampuan ini yang nantinya menghasilkan solusi pemecahan masalah. Menggunakan daya kreativitas berarti membantu perbaikan secara cepat, tepat, dan efisien

Pemecahan masalah berbasis kreativitas pernah digunakan Kim, Insoo, dan James (2019) di Korea. Dalam penelitiannya pada siswa taman kanak-kanak, penggunaan program pemecahan masalah kreatif memiliki efek positif pada pada peningkatan kreativitas, karakter, dan pemecahan masalah kreatif.

Menyadari manfaat kreativitas, perusahaan-perusahaan besar telah menetapkan keterampilan ini sebagai ukuran kriteria pekerja yang akan mereka terima. Big Bend Community Collage (2014) telah merilis daftar keterampilan yang paling diinginkan oleh majikan (employer). Setidaknya ada delapan keterampilan yang muncul dan salah satunya adalah berpikir kreatif.

Memiliki kreativitas tinggi adalah penting. Bagaimana jalan kehidupan kita di masa yang akan datang bahkan juga dipengaruhi oleh keterampilan ini. Penelitian Cheng (2019) menemukan bahwa kreativi tas sebagai aktualisasi diri , telah mengembangkan kompetensi individu dan motivasi intrinsik yang kondusif untuk perilaku keberlanjutan lingkungan menentukan nasib sendiri seumur hidup.

Davies, Divya, Chris, Rebecca, Penny, dan Alan (2013) dalam penelitiannya menemukan bahwa lingkungan kreatif berdampak pada pencapaian murid dan pengembangan profesionalisme guru. Mereka bahkan merekomendasikan ke sekolah-sekolah di Skotlandia untuk mempromosikan kreativitas dalam kurikulum guna mendapatkan pembelajaran yang sempurna.

Setiap orang memiliki daya kreativitas yang dapat dikembangkan. Banyak penelitian mengenai pengembangan kreativitas siswa, salah satu di antaranya yang dilakukan oleh Yates dan Emma (2017). Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang jelas dalam kepercayaan siswa dalam kreativitas mereka sendiri dan kepercayaan diri mereka untuk mengimplementasikan kegiatan yang dialami dalam sesi menggunakan sebuah modul dalam praktik mereka sendiri

Pengembangan kreativitas dilakukan dengan banyak cara. Richardson dan Punya (2018) mengembangkan sebuah lingkungan belajar yang mendukung kreativitas siswa. Pendekatan secara kontekstual juga pernah digunakan untuk mengembangkan kreativitas guru musik pada kondisi pembelajaran modern (Sydykova, Laura, Bolat, Aizhan, & Ulbolsyn, 2018). Adapun penelitian lain yang dilakukan Kaycheng (2017) mengungkapkan bahwa kreativitas siswa dapat ditingkatkan melalui pemodelan sosial, penguatan, dan ekologi ruang kelas

Pentingnya pengembangan kreativitas harus menjadi perhatian bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Mengembangkan kreativitas di sekolah harus mendapatkan perhatian sebagai usaha pengambangan keterampilan sejak dini. Sekolah harus memiliki fleksibilitas agar peserta didik mampu beradaptasi dan berkembang di dalam masyarakat sesuai dengan perkembangan zaman (Ardhyantama, 2019). Fleksibilitas ini salah satunya adalah kemampuan untuk beradaptasi mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan pada saat itu dan masa mendatang

Kreativitas berkaitan dengan inovasi, penemuan, dan kebaruan yang mengandung makna menambahkan sesuatu yang baru (Torrance,1976). Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dalam proses ini. Untuk sampai pada creation atau penciptaan sesuatu yang baru, seseorang harus terlebih dahulu memperhatikan dengan seksama berbagai hal dan kemungkinan yang tersedia di sekitarnya, kemudian mampu menirukan dan yang terakhir adalah sanggup menambahkan sesuatu lain yang menjadi pembeda. Pembeda ini merupakan kebaruan yang diyakini lebih membawa banyak manfaat setelah dilakukan berbagai telaah.

Ardhyantama (2018) menyebutkan bahwa kreativitas merupakan sebuah kemampuan dengan ciri yang menambahkan, mengubah, atau bahkan membentuk suatu gagasan baru dari yang sudah ada sebelumnya ataupun yang sama sekali belum pernah diciptakan manusia. Tahapan-tahapan ini sesungguhnya sudah lama digagas oleh bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara dengan idenya yaitu: niteni (mencermati), nirokke (menirukan), dan nambahi (menambahkan).

Gagasan Ki Hajar Dewantara mengandung nilai dasar yang menghormati kemampuan kodrati anak untuk mengatasi permasalahan dengan kebebasan berpikir (Suparlan, 2015). Gagasan ini patut untuk dikaji demi memenuhi tujuan pengembangan kreativitas manusia Indonesia. Di samping itu, hal ini sangat sesuai dengan tahap pengembangan kreativitas sekaligus memiliki nilai originalitas unsur keindonesiaan yang sangat kental sebab dicetuskan oleh tokoh pendiri bangsa Indonesia secara langsung. Cheng (2019) menemukan bahwa kreativitas dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan dapat ditingkatkan dengan melakukan pembelajaran menggunakan kurikulum dengan tema sehari-hari yang sederhana.

Penggunaan langkah Tri-N dalam mengembangkan kreativitas memiliki nilai tambah karena merupakan sebuah gagasan yang dibawa oleh tokoh pendidikan Indonesia. Yong, Mannucci, dan Lander (2020), dalam penelitian yang dilakukannya pada lintas negara, menemukan bahwa budaya dapat digunakan untuk menumbuhkan kreativitas. Gagasan yang berasal dari anak bangsa, tentu sarat akan nilainilai budaya yang selama ini membesarkannya. Dengan menggunakan langkah Tri-N, peningkatkan kreativitas dapat sejalan dengan nilai dan budaya yang sudah melekat pada bangsa. Gagasan yang sudah sejalan dengan kebudayaan masyarakat sekitar akan lebih mudah diterima dan dijalankan.

Dalam pedoman operasional-praktis Ki Hajar Dewantara, ada 7 macam tri (tiga), yaitu: tri pantangan, trihayu, trisakti jiwa, tringa, triko, trijuang, Tri-N. Tri-N adalah sebuah gagasan yang bila dibunyikan secara lengkap adalah, niteni, nirokke, nambahi (Wiryopranoto, Herlina, Marihandono, Tangkilisan, & Tim Museum Kebangkitan Nasional, 2017). Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia ni teni berarti mencermati, nirokke berarti menirukan, dan nambahi memiliki arti menambahkan. Gagasan ini banyak digunakan di dunia pendidikan dan dikenal sebagai pedoman belajar yang sangat bagus dari pemikiran seorang Indonesia asli

Gagasan Ki Hajar Dewantara banyak bersinggungan dengan budaya jawa. Konsep niteni, nirokke dan nambahi tersirat makna bahwa dalam proses tersebut ada model yang dijadikan acuan dan pedoman. Keteladanan dilakukan dengan memberikan contoh. Mashari dan Qomariana (2016) menyampaikan gagasannya bahwa keteladanan harusnya diberikan dari lapisan atas ke lapisan bawah atau masyarakat. Menjadi teladan berarti menjadi panutan yang menjadi asal mula dari tiga tahapan dalam gagasan Ki Hajar Dewantara tersebut.

Konsep gagasan Tri-N adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sibyan (2019) mengungkapkan bahwa proses ini terjadi secara berjenjang dan berurutan (sistematis) serta tidak terjadi secara terpisah dan acak. Dengan demikian, Niteni, nirokke, dan nambahi adalah sebuah prosedur yang tiap tahap awalnya menjadi pijakan untuk masuk pada tahapan berikutnya

Gagasan Tri-N juga digunakan dalam pengembangan buku ajar. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Damayanti (2019) ditemukan bahwa konsep ini dapat ditelusuri dan diimplemantasikan dalam buku teks bahasa Indonesia SMP.

Damayanti mengidentifikasi kegiatan mengamati dengan memadukan berbagai indera, di antaranya indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan peraba. Tahap mengamati diartikan sebagai fase menggali informasi lebih dalam dari hasil pengamatan dan penalaran dengan menghubungkan pengetahuan awal . Nirokke mereplikasi apa yang sudah diajarkan dengan melibatkan, kognisi, rasa, hati nurani dan spiritual dengan integral dan hormon. Nambahi merupakan inovasi yang dilakukan terhadap sesuatu yang sudah diajarkan dengan mengembangkan kreativitas.

Konsep Tri-N pernah digunakan untuk mengembangkan kemampuan menulis puisi. Pengembangan kemampuan tersebut dilakukan dengan tahapan: 1) niteni: dengan kegiatan berupa memperhatikan, mengamati, mencermati, mengenali, mengingat, menyimak, membaca, mendengarkan, meraba, dan merasakan dengan menggunakan panca inderanya; 2) nirokke: dengan kegiatan berupa menirukan, mencontoh, mengimplementasikan, melakukan sesuatu, dan berlatih dengan caranya sendiri; dan (3) nambahi yaitu mengembangkan, memodifikasi, membuat, menambahi, mengurangi, memperbaiki, mengembangkan kemampuan, dan memperluas pemahaman (Amalia, Mashluhah, & Fernandez, 2017).

Ketiga N dengan demikian menjadi sebuah proses yang pada muaranya menghasilkan sebuah produk kreativitas. Pembentukan kreativitas dapat tercapai melalui ketiga tahapan dalam gagasan Ki Hajar Dewantara ini. Secara sistematis niteni, nirokke dan nambahi menjadi sebuah rantai yang dapat dijadikan patokan bagaimana membentuk seorang pribadi yang kreatif.  *)

*Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI